- Instagram @havv_y
Ayah Ha Young Angkat Bicara soal Kakek Buyut yang Diduga Pro-Jepang, Knetz Malah Makin Meradang
tvOnenews.com - Aktris Ha Young tengah menghadapi sorotan publik setelah sejarah keluarganya dikaitkan dengan aktivitas pro-Jepang pada masa pendudukan Korea.
Kontroversi tersebut berpusat pada sosok buyutnya, Ahn Sang Ho, yang namanya tercatat sebagai anggota dewan Daejeong Sileop Chinmokhoe atau Daejeong Chinmokhoe, organisasi yang dalam catatan sejarah Korea dikenal sebagai kelompok pro-Jepang.
Kini, ayah Ha Young, Ahn Byeong Mun, ikut buka suara untuk menjelaskan apa yang selama ini diketahui keluarganya mengenai sang leluhur.
Ia mengakui adanya catatan tersebut, tetapi mengatakan keluarganya selama ini memiliki pemahaman berbeda mengenai kehidupan Ahn Sang Ho.
Pernyataan itu disampaikan Ahn Byeong Mun kepada Ilgan Sports pada 10 Agustus 2026 waktu Korea.
Ia mengaku sedih dan terpukul karena nama leluhurnya kini menjadi bagian dari kontroversi sejarah yang sensitif di Korea Selatan.
"Saya minta maaf karena telah menyebabkan ketidaknyamanan bagi banyak orang," katanya.
"Dengan Hari Pembebasan yang akan datang pada tanggal 15 Agustus dan isu yang terkait dengan sejarah penting periode kolonial Jepang yang terungkap, semua anggota keluarga menanggapi kontroversi ini dengan sangat serius."
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud membela atau mengagungkan tindakan Ahn Sang Ho hanya karena memiliki hubungan darah.
"Saya sama sekali tidak berniat mengagungkan masa lalu kakek saya hanya karena dia adalah anggota keluarga."
Menurutnya, keluarga justru bersedia kembali mempelajari sejarah Ahn Sang Ho berdasarkan dokumen dan fakta yang lebih lengkap.
"Yang terpenting, saya menyesal telah menimbulkan kekhawatiran dengan kontroversi terkait sejarah ini. Saya akan terus belajar dan mendalami sejarah lagi, dan sebagai keturunan, saya akan memikirkan apa yang harus saya lakukan, mempraktikkannya, dan hidup dengan rendah hati."
Kontroversi ini mencuat setelah Ha Young tampil dalam program KBS 2TV Problem Child in House yang tayang pada 7 Agustus 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Ha Young menceritakan latar belakang keluarganya yang memiliki tradisi profesi dokter selama empat generasi.
Ia secara khusus menyebut buyutnya sebagai salah satu dokter yang mempelajari kedokteran Barat di Jepang sebelum kembali ke Korea.
Ha Young juga mengatakan Ahn Sang Ho pernah membuka rumah sakit di Hanyang dan merawat Kaisar Gojong.
Pernyataan tersebut kemudian membuat publik kembali menelusuri identitas dan rekam jejak sang buyut.
Tak lama setelah episode tersebut ditayangkan, muncul catatan sejarah yang mencantumkan nama Ahn Sang Ho dalam jajaran anggota dewan Daejeong Chinmokhoe pada 1916.
Catatan mengenai organisasi tersebut bukan sekadar rumor di media sosial. Encyclopedia of Korean Culture yang dikelola Academy of Korean Studies mencatat Daejeong Sileop Chinmokhoe sebagai organisasi yang didirikan di Seoul pada November 1916 dan dikategorikan sebagai organisasi pro-Jepang.
Organisasi tersebut antara lain bergerak dalam kegiatan yang mendorong masyarakat Korea untuk menyesuaikan diri dengan pemerintahan kolonial Jepang.
Karena itu, muncul pertanyaan besar mengenai bagaimana keluarga Ha Young selama ini memahami sejarah Ahn Sang Ho.
Sementara itu, Ahn Byeong Mun menjelaskan bahwa pemahaman keluarga mengenai Ahn Sang Ho selama ini banyak berasal dari cerita yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu cerita yang paling kuat berkaitan dengan kedekatan Ahn Sang Ho dengan Pangeran Imperial Ui atau Pangeran Uihwa.
Menurut cerita keluarga, Ahn Sang Ho pernah bekerja di Tokyo Jikei University School of Medicine dan memiliki hubungan dengan sang pangeran ketika berada di Jepang.
Setelah itu, Ahn Sang Ho disebut kembali ke Korea setelah mendapat ajakan atau rekomendasi untuk mengabdikan diri di tanah air.
Berdasarkan cerita tersebut, keluarga selama ini menilai Ahn Sang Ho sebagai seorang dokter yang kembali ke Korea untuk melanjutkan pekerjaannya.
Mereka pun tidak pernah membayangkan bahwa namanya tercatat dalam sebuah organisasi yang kemudian dikenal memiliki kecenderungan pro-Jepang.
Namun, narasi keluarga tersebut kini harus berhadapan dengan dokumen sejarah yang menunjukkan fakta berbeda mengenai keterlibatan Ahn Sang Ho.
Pernyataan ayah Ha Young ternyata tidak sepenuhnya menghentikan kritik. Justru muncul kontroversi baru setelah Ahn Byeong Mun menggunakan istilah "aneksasi Jepang-Korea" ketika menjelaskan kondisi sejarah pada masa tersebut.
Sejumlah komentator daring mempertanyakan penggunaan istilah itu karena dianggap tidak cukup menggambarkan proses pengambilalihan kedaulatan Korea oleh Jepang.
Dalam konteks sejarah Korea, istilah yang menekankan unsur pemaksaan dianggap lebih tepat oleh sejumlah pihak.
Academy of Korean Studies mencatat bahwa Jepang melakukan aneksasi Korea setelah sebelumnya mengambil berbagai hak dan kewenangan Korea secara bertahap.
Sementara itu, kajian akademik mengenai perjanjian 1910 juga membahas unsur paksaan serta persoalan hukum dalam proses tersebut.
Bahkan, Korea Selatan secara historis menggunakan istilah Gyeongsul Gukchi, atau "Penghinaan Nasional Tahun Gyeongsul", untuk merujuk pada peristiwa 29 Agustus 1910 ketika Korea secara resmi berada di bawah kekuasaan Jepang.
Yonhap News Agency juga melaporkan bahwa sejumlah penelitian dan dokumen mempertanyakan validitas proses hukum perjanjian 1910, termasuk persoalan pada dokumen kerajaan Korea.
Karena itu, pemilihan istilah dalam wawancara Ahn Byeong Mun menjadi sensitif, terutama karena wawancara tersebut pada dasarnya dimaksudkan untuk menjelaskan dan meminta maaf atas kontroversi sejarah keluarga.
Mengapa Isu Ini Sangat Sensitif di Korea Selatan?
Kontroversi mengenai leluhur Ha Young tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pendudukan Jepang di Semenanjung Korea.
Korea berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang sejak 1910 hingga 1945. Dalam periode tersebut, muncul kelompok dan individu Korea yang bekerja sama dengan pemerintahan kolonial dalam berbagai bidang.
Daejeong Sileop Chinmokhoe sendiri didirikan pada 1916, beberapa tahun setelah Korea berada di bawah pemerintahan Jepang.
ncyclopedia of Korean Culture menyebut organisasi tersebut sebagai organisasi pro-Jepang dan menjelaskan bahwa salah satu kegiatannya berkaitan dengan upaya membuat masyarakat Korea menyesuaikan diri dengan sistem pemerintahan kolonial.
Nama-nama yang terlibat dalam organisasi tersebut juga membuat isu ini semakin sensitif. Catatan sejarah mencantumkan sejumlah tokoh yang kemudian dikenal memiliki hubungan erat dengan pemerintahan kolonial Jepang.
Karena itu, ketika nama seorang tokoh muncul dalam daftar organisasi tersebut, publik Korea cenderung melihatnya bukan hanya sebagai catatan keanggotaan biasa, tetapi sebagai bagian dari pertanyaan yang lebih besar mengenai sikap dan aktivitas seseorang selama masa penjajahan.
Meski begitu, mencatat nama seseorang dalam sebuah organisasi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh aktivitas atau motif pribadi orang tersebut.
Untuk memberikan penilaian sejarah yang lebih lengkap, diperlukan pemeriksaan terhadap dokumen dan rekam jejak lain yang berkaitan.
(tsy)