- YouTube tvOneNews
Mengenal Ratna Sari Dewi, Istri Soekarno yang Curi Perhatian saat Hadiri Upacara HUT RI ke-81 di Istana
tvOnenews.com - Sosok Ratna Sari Dewi Soekarno kembali menjadi perhatian publik setelah menghadiri Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Perempuan yang dikenal sebagai istri Presiden pertama RI Soekarno tersebut tampil anggun mengenakan kebaya putih dengan detail renda yang dipadukan kain batik bernuansa cokelat kemerahan.
Penampilannya semakin lengkap dengan bros dan aksesori anting.
Kehadiran Ratna Sari Dewi terasa istimewa karena ia telah lama menetap di Jepang. Momen tersebut sekaligus menjadi kesempatan baginya untuk kembali melihat kompleks Istana yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Presiden Soekarno.
- YouTube tvOneNews
Ratna Sari Dewi bahkan mengaku terkejut melihat banyak perubahan di kawasan Istana. Menurutnya, suasana kompleks kepresidenan kini jauh berbeda dibandingkan masa ketika ia masih mendampingi Bung Karno.
Lantas, siapa sebenarnya Ratna Sari Dewi dan bagaimana perjalanan hidup perempuan kelahiran Jepang tersebut hingga menjadi bagian dari sejarah Indonesia?
Ratna Sari Dewi lahir di Tokyo, Jepang, pada 6 Februari 1940 dengan nama Naoko Nemoto.
Menurut Ensiklopedia Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, ia merupakan anak ketiga dari keluarga pekerja konstruksi migran di Tokyo.
Kondisi ekonomi keluarga membuat Naoko harus bekerja sejak usia muda.
Ia pernah bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa di kawasan Chiyoda, Tokyo. Di luar pekerjaan, Naoko juga memiliki ketertarikan terhadap seni dan dunia pertunjukan.
Perjalanan hidupnya kemudian berubah ketika ia bertemu dengan Presiden Soekarno dalam kunjungan sang presiden ke Jepang pada 1959.
Pertemuan Naoko Nemoto dengan Soekarno terjadi ketika Bung Karno berada di Jepang dalam agenda kunjungan kenegaraan.
Sejumlah sumber sejarah menyebut pertemuan tersebut berlangsung pada Juni 1959. Setelah keduanya semakin dekat, Naoko kemudian diundang datang ke Indonesia.
ANTARA mencatat Naoko tiba di Jakarta pada September 1959.
Hubungan keduanya berlanjut hingga pernikahan pada 1962.
Setelah menikah dengan Soekarno, Naoko Nemoto kemudian dikenal dengan nama Indonesia Ratna Sari Dewi Soekarno.
Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang putri, Kartika Sari Dewi Soekarno.
Ratna Sari Dewi tidak hanya dikenal karena statusnya sebagai istri Soekarno.
Dalam sejumlah catatan sejarah, ia juga disebut memiliki peran dalam hubungan Indonesia dan Jepang pada masa tersebut.
Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan mencatat Dewi terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan persahabatan Indonesia-Jepang.
Ia juga disebut pernah membantu proses lobi di Jepang terkait penerbitan buku yang memuat koleksi seni milik Bung Karno.
Pada 1964, Dewi terpilih sebagai Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang.
Ia juga mendirikan Komunitas Nadeshiko yang menjadi wadah bagi perempuan Jepang yang menikah dengan pria Indonesia.
Peran tersebut membuat kiprahnya tidak hanya berada dalam lingkup keluarga kepresidenan, tetapi juga bersinggungan dengan hubungan sosial dan kebudayaan kedua negara.
Kehidupan Ratna Sari Dewi mengalami perubahan setelah kekuasaan Soekarno berakhir pada 1967.
Setelah Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970, Dewi menjalani kehidupan di luar Indonesia. Ia sempat tinggal di sejumlah negara sebelum kemudian kembali menetap di Jepang.
Dalam perjalanan selanjutnya, Dewi dikenal sebagai figur publik, pebisnis, serta sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Namanya juga cukup dikenal di Jepang. Hingga kini, ia masih sesekali muncul dalam berbagai kegiatan publik dan menggunakan media sosial untuk membagikan aktivitasnya.
Dari pernikahannya dengan Soekarno, Ratna Sari Dewi memiliki seorang putri bernama Kartika Sari Dewi Soekarno.
Kartika lahir pada 11 Maret 1967 dan tumbuh dengan latar belakang kehidupan yang sangat internasional.
Ia pernah menjalani pendidikan di Eropa dan kemudian aktif dalam bidang sosial.
Kartika dikenal sebagai pendiri Kartika Soekarno Foundation (KSF), organisasi yang berfokus pada program pendidikan dan kesejahteraan anak-anak di Indonesia.
Kehadiran Kartika menjadi bagian lain dari jejak keluarga Soekarno yang tetap aktif dalam kegiatan sosial setelah era Presiden pertama RI tersebut berakhir.
Setelah puluhan tahun berlalu, Ratna Sari Dewi kembali menginjakkan kaki di kompleks Istana dalam suasana peringatan kemerdekaan.
Kehadirannya pada 17 Agustus 2026 menjadi perhatian karena ia pernah memiliki pengalaman langsung dengan kehidupan Istana ketika Soekarno masih menjadi presiden.
Ratna mengaku cukup terkejut melihat perubahan kawasan tersebut. Ia mengenang bahwa dahulu terdapat halaman luas yang menjadi ruang antara Istana Negara dan Istana Merdeka.
Kini, kawasan itu telah mengalami perubahan dengan hadirnya sejumlah bangunan baru.
Momen tersebut seolah menjadi pertemuan antara kenangan masa lalu dan wajah Indonesia saat ini.
Ketika ditanya mengenai harapannya untuk Indonesia, Ratna Sari Dewi memberikan jawaban singkat namun penuh makna.
“Selalu maju,” ujarnya.
Selain kisah hidupnya, penampilan Ratna Sari Dewi dalam upacara HUT ke-81 RI juga menarik perhatian.
Ia memilih kebaya putih dengan detail renda yang dipadukan kain atau selendang bernuansa merah. Pilihan warna tersebut terasa selaras dengan suasana peringatan kemerdekaan.
Bros yang tersemat pada bagian dada serta aksesori anting melengkapi penampilannya.
Gaya tersebut memberikan kesan klasik dan elegan, sekaligus menunjukkan penghormatan terhadap acara kenegaraan yang dihadirinya.
Di usia 86 tahun, Ratna Sari Dewi masih mampu tampil penuh percaya diri di tengah para tamu undangan dari berbagai kalangan.
(tsy)