- Instagram @bayoooeee
Pernikahan Anti-Mainstream, Pasangan Asal Salatiga Ini Datangkan Pedagang Jajanan SD sebagai Vendor
tvOnenews.com - Pernikahan biasanya identik dengan hidangan prasmanan, dekorasi mewah, dan berbagai sajian yang sudah dipersiapkan khusus untuk para tamu. Namun, pasangan asal Salatiga, Jawa Tengah, ini justru memilih konsep yang berbeda.
Alih-alih hanya mengandalkan katering pernikahan pada umumnya, Setiana Khidmatul 'Umroh atau Tia bersama sang suami, Bayu Eko Ardianto, menghadirkan pedagang jajanan kaki lima yang sudah menjadi langganan mereka sejak kecil.
Konsep tersebut membuat pesta pernikahan keduanya terasa seperti pasar jajanan dadakan.
Sejumlah gerobak makanan hadir di lokasi acara dan langsung melayani para tamu undangan yang ingin menikmati jajanan favorit sang pengantin.
Momen pernikahan unik itu kemudian dibagikan melalui akun Instagram @setiana_k dan @bayoooeee.
Unggahan tersebut berhasil menarik perhatian warganet dan telah ditonton lebih dari 564 ribu kali.
Banyak pengguna media sosial ikut memuji ide Tia dan Bayu yang dianggap sederhana sekaligus memberikan ruang bagi pedagang kecil untuk ikut mendapatkan penghasilan dari acara mereka.
Konsep katering anti-mainstream tersebut ternyata bukan sekadar dibuat untuk mengejar keunikan. Ada cerita personal di balik keputusan Tia dan Bayu memilih para pedagang kaki lima sebagai vendor makanan di hari bahagia mereka.
- Instagram @bayoooeee
Tia mengaku memang memiliki kebiasaan jajan hampir setiap hari. Karena sudah menjadi pelanggan dalam waktu lama, sejumlah pedagang bahkan sudah mengenal dirinya.
Salah satunya adalah penjual telur gulung yang sudah menjadi langganannya sejak masih duduk di taman kanak-kanak.
Ide sederhana tersebut akhirnya benar-benar diwujudkan. Para pedagang yang biasanya ditemui Tia saat jajan sehari-hari justru mendapat tempat khusus dalam perayaan pernikahannya.
Jajanan SD hingga Bakso Hadir di Pesta
Bukan sekadar satu atau dua pedagang, Tia dan Bayu menghadirkan sejumlah jajanan yang akrab dengan lidah masyarakat Indonesia.
Tamu undangan dapat menikmati telur gulung, sempolan, takoyaki hingga bakso. Kehadiran gerobak-gerobak tersebut membuat suasana pesta menjadi lebih santai dan berbeda dari resepsi pada umumnya.
Jumlah makanan yang disiapkan juga tidak sedikit. Untuk acara tersebut, pasangan ini menyediakan sekitar 600 buah telur gulung, 600 sempolan, 400 takoyaki, serta 500 porsi bakso.
Menariknya, jajanan kaki lima tersebut bukan satu-satunya hidangan yang tersedia. Tia dan Bayu tetap menyediakan makanan prasmanan, stall tengkleng, serta welcome snack bagi para tamu.
Kejutan bagi tamu tidak berhenti pada konsep makanan.
Tia dan Bayu juga memberikan suvenir yang tidak biasa. Jika umumnya tamu pernikahan membawa pulang lilin aromaterapi, peralatan makan, atau benda dekoratif, pasangan ini justru memberikan satu kantong plastik berisi sayuran segar.
Ide tersebut ternyata berasal dari ibu Tia.
Suvenir sederhana itu justru menjadi salah satu bagian yang paling diingat para tamu. Apalagi, konsep jajanan kaki lima yang sudah terasa santai dipadukan dengan oleh-oleh berupa sayuran segar.
Alhasil, tamu tidak hanya datang untuk menghadiri prosesi pernikahan, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang berbeda sejak menikmati makanan hingga pulang membawa buah tangan.
Kisah Tia dan Bayu menunjukkan bahwa pesta pernikahan tidak selalu harus mengikuti konsep yang sedang populer.
Bagi pasangan ini, makanan yang memiliki cerita dan orang-orang yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka justru terasa lebih bermakna untuk hadir di hari bahagia.
Tidak mengherankan jika konsep pernikahan tersebut kemudian menarik perhatian warganet.
(tsy)