- tvOnenews.com/Hilal Aulia Pasya
Beraksi untuk Film di Gunung Bromo, Arya Saloka Bicara Jujur Tantangan Terberatnya karena Faktor Cuaca
Jakarta, tvOnenews.com - Aktris Arya Saloka mengungkapkan tantangan terberat selama syuting film maupun sinetron. Hal ini tak lekang bahwa dirinya berperan sebagai karakter "Bisma" dalam film Empat Musim Pertiwi.
Dalam film tersebut, Arya Saloka melakukan adegan sebagai pria dengan gaya koboi yang mengerti keadaan dengan sosok Pertiwi diperankan oleh aktris Putri Marino. Pertiwi sendiri yang baru bebas dari penjara kemudian pulang kampung di sebuah desa di kawasan Gunung Bromo.
Arya Saloka yang syuting di area Gunung Bromo membuat dirinya pernah ditanya terkait pilihan kondisi cuaca untuk berperan penting sebagai karakter Bisma di kawasan gunung tersebut.
"Karena syuting di Bromo, saya pernah ditanya pilih mana syuting di kondisi cuaca panas atau dingin," ujar Arya di Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2026).
Gunung Bromo berada diketinggian 2.329 mdpl hingga 2.400 mdpl. Hal ini membuat gunung tersebut memiliki iklim khas pegunungan yang sangat dingin, terutama di malam hari dan pagi hari.
Di siang hari, suhu di Gunung Bromo bisa mencapai 15-22 derajat Celcius, sedangkan di malam hari dan pagi hari turun drastis bisa dari 0-10 derajat Celcius.
Lokasi syuting dengan genre yang menyentuh psikologis tersebut lebih dominan di Gunung Bromo. Hal ini menjadi tantangan bagi Arya Saloka untuk beraksi sebagai Bisma.
Ia pun harus memilih bahwa dirinya lebih cocok syuting di kondisi cuaca panas. Ia menjelaskan apabila beraksi dalam cuaca dingin, dirinya harus menyesuaikan kondisi tubuh.
"Karena kalau syuting di cuaca di gin, ada hal ketika badan kita lagi enggak enak harus mengatur dan sesuaikan pernapasan," terangnya.
Arya Saloka Sulit Fokus Penuhi Perannya
Lebih lanjut, kata dia, cuaca dingin. Justru membuatnya lebih berfokus pada kondisi tubuh ketimbang melakukan perannya dalam film.
"Kadang rileks nih tapi kadang gerak tangannya atau badannya tanpa kita sadar. Kita berusaha mencoba yang terbaik, tapi justru jadi malah enggak fokus dan bagaimana menghentikan badan bergetar," jelasnya.
Menurut dia, tantangan yang lebih berat lagi saat Gunung Bromo memasuki musim dingin. Ia tidak bisa berkata-kata lagi sehingga hal yang harus dipertahankan adalah sikap profesional dalam menjalankan karakternya.