news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Review Film Bapak Paling Jujur Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Bohong, Tapi Justru Kehilangan Filter.
Sumber :
  • ANTARA/Sri Dewi Larasati

Review Film Bapak Paling Jujur: Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Bohong, Tapi Justru Kehilangan Filter

Review film Bapak Paling Jujur, drama komedi Fajar Nugros tentang calon gubernur yang tak bisa berbohong dan kehilangan filter dalam berbicara. Bagaimana
Kamis, 8 Oktober 2026 - 03:24 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Bagaimana jika seorang calon gubernur tiba-tiba tidak bisa berbohong? Bukan cuma kehilangan kemampuan untuk menyembunyikan fakta, tetapi juga kehilangan penyaring yang biasanya membuat seseorang berpikir dua kali sebelum berbicara. Apa pun yang ada di kepalanya bisa langsung keluar.

Premis itulah yang menjadi pintu masuk Bapak Paling Jujur, film drama komedi terbaru garapan Fajar Nugros. 

Film produksi Cahaya Pictures bersama Studio Antelope ini menghadirkan Andovi da Lopez sebagai Jonas Prakoso, seorang calon gubernur yang terbiasa membangun citra dan menjaga setiap perkataan di hadapan publik.

Masalahnya dimulai ketika sebuah kutukan dari nenek Jonas membuatnya tidak mampu berbohong. Situasi yang pada awalnya mungkin terdengar seperti berkah justru berubah menjadi bencana. Dalam dunia yang menuntut seseorang menjaga ucapan, terutama seorang kandidat politik, berkata jujur tanpa filter bisa menjadi persoalan tersendiri.

Film berdurasi 103 menit ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026. Dari premisnya, Bapak Paling Jujur tidak sekadar menawarkan komedi tentang seseorang yang dipaksa berkata benar. 

Film ini mencoba menguji pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: seberapa siap kita menerima kejujuran ketika tidak lagi bisa mengontrol cara mengatakannya?

Sinopsis Bapak Paling Jujur

Jonas Prakoso adalah calon gubernur yang tahu betul bagaimana membangun citra di depan publik. Setiap ucapan harus diperhitungkan, setiap tindakan dapat menjadi bahan penilaian, dan setiap informasi yang berpotensi merusak reputasi harus dikendalikan.

Rutinitas tersebut berubah setelah Jonas terkena kutukan dari neneknya. Ia tidak lagi mampu mengatakan kebohongan.

Namun, kutukan tersebut ternyata membawa masalah yang lebih besar. Jonas juga kehilangan filter dalam berbicara. Pikiran yang biasanya hanya berhenti di kepala atau dipertimbangkan sebelum disampaikan kini bisa meluncur begitu saja.

Akibatnya, berbagai situasi yang semestinya dapat dikendalikan berubah menjadi kekacauan. Kampanye politik, pekerjaan, hubungan keluarga hingga kehidupan pribadi Jonas ikut terdampak.

Di titik inilah komedi film bekerja. Jonas tidak sedang berusaha menjadi orang paling jujur. Ia justru sedang berusaha bertahan hidup dalam kondisi ketika dirinya tidak mampu lagi menyembunyikan apa pun.

Premis Bapak Paling Jujur sebelumnya pernah digunakan dalam film Brasil O Candidato Honesto pada 2014 dan film Korea Selatan Honest Candidate pada 2020. Versi Indonesia ini kemudian membawa konsep tersebut ke karakter, situasi sosial dan gaya humor yang disesuaikan dengan konteks penonton Indonesia.

Bukan Sekadar Komedi tentang Politik

Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah penggunaan dunia politik sebagai latar tanpa menjadikan film semata-mata sebagai cerita tentang politik.

Jonas memang seorang calon gubernur. Akan tetapi, persoalan yang dihadapinya sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. Dalam kehidupan sehari-hari, orang menggunakan “filter” ketika berbicara dengan pasangan, keluarga, teman, kolega hingga masyarakat luas.

Karena itu, ketika filter tersebut tiba-tiba hilang, sumber kelucuannya tidak hanya berasal dari situasi politik.

Melansir dari ANTARA, Fajar Nugros mengatakan film ini tidak dibuat untuk mengklaim bahwa para pembuatnya adalah orang-orang yang paling jujur.

“Kami yang membuat film ini tuh enggak serta-merta kita mau ngomong nih kita juga orang jujur nih, gitu juga enggak. Kami juga sedang belajar. Jadi memang berat ternyata jujur,” ujar Fajar.

Pernyataan tersebut membuat tema film terasa lebih membumi. Kejujuran tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang mudah dilakukan, melainkan sebagai proses yang membutuhkan keberanian sekaligus tanggung jawab.

Fajar juga menegaskan bahwa film ini tidak ditujukan untuk menyindir pihak tertentu. Ia berharap cerita tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi penonton untuk melihat kembali hubungan mereka dengan kejujuran.

“Jadi hopefully ya jadi pembelajaran, jadi enggak sekadar hiburan aja sih gitu. Mungkin sekarang orang juga sedang berhitung, apa ya yang bikin mereka bisa menggerakkan ke bioskop, ya harapan akan kejujuran itu. Harapannya setelah selesai nonton mereka bisa jujur pada diri sendiri,” tutur Fajar.

Di sinilah Bapak Paling Jujur memiliki lapisan yang lebih menarik. Film menggunakan kekacauan sebagai sumber tawa, tetapi di baliknya terdapat pertanyaan tentang kepercayaan.

Sebab, jujur dan berkata tanpa pertimbangan sebenarnya bukan hal yang sama.

Andovi da Lopez dan Komedi yang Berangkat dari Keresahan

Andovi da Lopez menjadi pusat cerita sebagai Jonas. Karakter tersebut membutuhkan kemampuan untuk memainkan dua kondisi sekaligus: seorang politisi yang terbiasa menjaga citra dan seseorang yang tiba-tiba kehilangan kemampuan mengontrol ucapannya.

Situasi tersebut menjadi ruang bagi komedi verbal maupun situasional yang menjadi kekuatan utama film.

Fajar Nugros juga melibatkan David Nurbianto sebagai konsultan komedi dalam pengembangan film. Menurut David, materi humor tidak dibuat sekadar berdasarkan pengalaman atau pandangan personal pembuatnya.

Ia mengatakan sejumlah materi diuji melalui proses pembacaan naskah untuk melihat apakah keresahan yang dibawa cerita juga dapat dirasakan orang lain.

“Makanya tadi reading, kita coba ‘apakah ini hanya asumsi gua? Eh enggak kok di juga ngerasain’. Nah itu yang kita belain. Kalau hanya mewakili satu perasaan-perasaan gua aja, itu enggak akan kita masukin karena berarti gak semua orang relate,” ujar David.

Pendekatan tersebut penting karena film komedi yang membawa isu sosial memiliki risiko terasa terlalu spesifik atau justru kehilangan relevansi ketika leluconnya hanya bertumpu pada sudut pandang pembuat.

Dalam Bapak Paling Jujur, keresahan tentang citra, kebohongan dan kejujuran dibuat sebagai bagian dari kehidupan karakter.

Film ini juga diperkuat ensemble cast yang terdiri dari Claresta Taufan, Benedictus Siregar, Soleh Solihun, Nayla D. Purnama, Lolox, Cing Abdel, TJ Ruth, Indy Barends, David Nurbianto, Akim Bagil, Mr. Keminggris, Rizki M. Firman, Jeremy Teti, Elwina (CeritaIbun), Mieke Shahir dan sejumlah pemain lainnya.

Sementara bagi Fajar, kejujuran berkaitan erat dengan bagaimana seseorang membangun kepercayaan.

“Sebuah prestasi yang dibangun di atas kebohongan, seperti membangun istana pasir,” ujar Fajar.

Ia kemudian menjelaskan bahwa persoalan terbesar bukan hanya bagaimana sesuatu terlihat dari luar, tetapi fondasi yang menopangnya. Perjalanan Jonas menjadi menarik ketika fondasi yang selama ini ia bangun mulai runtuh dan ia dipaksa menghadapi konsekuensi dari setiap perkataannya.

Dari sisi gagasan, inilah yang membuat Bapak Paling Jujur lebih dari sekadar film tentang calon gubernur yang tidak bisa berbohong.

Jonas menjadi semacam eksperimen sosial dalam bentuk komedi. Apa yang terjadi jika seseorang tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mengatur citra melalui kata-kata?

Jawabannya tentu saja kacau. Tetapi justru dari kekacauan tersebut film mengajak penonton melihat sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Bapak Paling Jujur tidak menawarkan jawaban bahwa berkata jujur selalu mudah atau selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Sebaliknya, film ini memperlihatkan bahwa kejujuran memiliki konsekuensi, terlebih ketika disampaikan tanpa tanggung jawab dan tanpa mempertimbangkan orang lain.

Pada akhirnya, kekuatan utama film ini terletak pada premis sederhananya: bagaimana jika kita kehilangan kemampuan untuk berbohong sekaligus kehilangan filter untuk berbicara?

Lewat Jonas, pertanyaan tersebut dibawa ke dunia kampanye, keluarga, pekerjaan dan kehidupan pribadi. 

Penonton mungkin akan tertawa melihat kekacauan yang ditimbulkannya, tetapi seperti harapan Fajar Nugros, pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah tawa itu selesai: seberapa jujur kita kepada diri sendiri ketika tidak ada kutukan yang memaksa kita berkata benar? (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral