- Instagram/@sashfir
Influencer Sashfir Pernah Jadi Korban Pelecehan Seksual di Toilet Restoran, Pelakunya Diduga Suami Orang
Jakarta, tvOnenews.com - Influencer Sashfir mendadak mencuri perhatian publik. Ia membagikan pengalaman traumatis setelah diduga menjadi korban pelecehan seksual.
TRIGGER WARNING PEMERKOSAAN: Artikel ini mengandung konten eksplisit kekerasan seksual atau pemerkosaan yang dapat memicu kondisi emosi dan mental pembaca. Kami menyarankan Anda tidak meneruskan membacanya jika mengalami kecemasan dan meminta bantuan profesional.
Peristiwa pelecehan sesual terhadap Sashfir berupa perekaman secara diam-diam (voyeurism) di toilet perempuan sebuah restoran di kawasan Senopati, Jakarta.
Sashfir baru mengungkapkan peristiwa yang terjadi pada April 2026 itu setelah merasa cukup siap untuk menceritakan kejadian yang dipendam olehnya. Ia berbagi cerita melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @sashfir pada Rabu (7/10/2026).
"Hi semuanya, aku Sashfir. Selama beberapa bulan terakhir, aku memendam sesuatu yang mengubah hidupku. Pada bulan April lalu, aku menjadi korban pelecehan seksuual berupa perekaman diam-diam. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa siap untuk bersuara," tulis Sashfir dikutip tvOnenews.com, Jumat (9/10/2026).
Pelaku Diduga Berstatus Suami Orang
Sashfir mengungkapkan kekecewaannya terhadap sosok yang diduga melakukan tindakan tersebut. Ia menyebut pelaku merupakan seorang pria yang telah berstatus sebagai suami sekaligus ayah dari anak perempuan.
Menurutnya, seseorang yang telah berkeluarga semestinya memahami betapa pentingnya menjaga keamanan dan kenyamanan perempuan. Namun, ia justru menyayangkan dugaan tindakan tersebut dilakukan terhadap perempuan lain.
"Yang paling membuatku miris adalah kenyataan bahwa pelakunya merupakan seorang suami sekaligus ayah dari seorang anak perempuan," katanya.
Sashfir Trauma dan Putuskan Bersuara
Sashfir yang dikenal melalui konten fesyen hijab itu menyebut dirinya masih sangat trauma. Ia mengakui bahwa, dirinya membutuhkan waktu sebelum akhirnya berani menceritakan pengalaman tersebut.
Keputusannya untuk bersuara diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa pelecehan seksual bukan persoalan yang boleh dianggap sepele.
"Coba bayangkan, berapa banyak korban lain yang memendam semuanya karena tidak memiliki ruang yang aman untuk bercerita, atau karena suara mereka kerap tidak dipercaya dan disepelekan. Aku menceritakan semua ini agar tidak ada lagi korban yang merasa sendirian, dan agar kita semua bisa lebih waspada serta berani menuntut keadilan atas tindakan seperti yang menimpaku," terangnya.