news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Review Trailer Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Dirilis, Benidictus Siregar Hadapi Peran Paling Emosional.
Sumber :
  • instagram

Review Trailer Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Dirilis, Benidictus Siregar Hadapi Peran Paling Emosional

Trailer Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dirilis. Simak sinopsis film adaptasi novel Brian Khrisna dan tantangan Benidictus Siregar sebagai pemeran utama drama
Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:19 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Bagaimana jika seporsi mi ayam menjadi keinginan terakhir seseorang yang sudah kehilangan alasan untuk hidup? Premis yang terdengar sederhana ini menjadi pintu masuk film drama Indonesia terbaru, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. 

Trailer resminya telah dirilis oleh Sinergi Pictures dan Ben Film, memperlihatkan kisah seorang pria yang berada di titik terendah hidupnya, tetapi justru menemukan kemungkinan baru melalui pertemuan-pertemuan tak terduga.

Film garapan sutradara Kuntz Agus tersebut diadaptasi dari novel laris karya Brian Khrisna. Daya tariknya bukan hanya terletak pada cerita tentang pergulatan batin dan pencarian makna hidup, tetapi juga pada pilihan Benidictus Siregar sebagai pemeran utama. 

Komika yang selama ini lebih dikenal melalui peran-peran pendukung dalam film komedi itu kini mendapat tantangan berbeda: menghidupkan karakter dengan persoalan emosional yang kompleks.

Trailer yang diluncurkan pada Senin, 12 Oktober 2026, menjadi pengantar menuju penayangan film di bioskop Indonesia pada 12 November 2026. 

Dari premisnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menawarkan drama yang dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari. Sebuah keinginan kecil, percakapan singkat, atau pertemuan dengan orang asing bisa menjadi awal perubahan ketika seseorang merasa hidupnya sudah tidak memiliki arah.

Sinopsis Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Keinginan Terakhir yang Mengubah Segalanya

Benidictus Siregar memerankan Ale, pria berusia 37 tahun yang mengalami depresi berat akibat tekanan kehidupan. Dalam kondisi merasa sendirian dan kehilangan harapan, Ale berniat mengakhiri hidupnya dalam kurun waktu 24 jam.

Namun, sebelum melakukannya, ada satu hal yang ingin ia nikmati: seporsi mi ayam favoritnya. Keinginan sederhana itu ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Gerobak mi ayam langganannya justru tutup, memaksanya menghadapi situasi di luar perkiraan.

Dari kejadian tersebut, perjalanan Ale berkembang menjadi rangkaian pertemuan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal. Berbagai pengalaman dan cerita hidup yang ditemuinya perlahan membuka perspektif baru. Hal yang semula terlihat seperti hambatan justru membawanya pada kemungkinan untuk memahami kehidupan dengan cara berbeda.

Dari sisi premis, kekuatan cerita ini terletak pada kontras antara persoalan yang begitu berat dan keinginan yang sangat biasa. Mi ayam bukan sekadar makanan favorit, melainkan pemantik perjalanan Ale untuk kembali berhadapan dengan dunia di sekitarnya.

Trailer ini juga memperkenalkan gagasan utama film: alasan untuk bertahan tidak selalu hadir dalam bentuk pencapaian besar atau perubahan dramatis. Terkadang, kesempatan untuk berbicara dengan orang lain dan mendengar pengalaman mereka bisa membuka ruang bagi seseorang untuk melihat hidup dari sudut pandang baru.

Debut Drama Benidictus Siregar, Tantangan Besar di Balik Karakter Ale

Peralihan Benidictus Siregar dari komedi menuju drama menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan. Memerankan Ale berarti ia harus menyampaikan kesepian, keputusasaan, dan pergulatan batin tanpa bergantung pada karakter humor yang selama ini melekat padanya.

Produser Sinergi Pictures, Philip Lesmana, mengatakan pemilihan pemeran utama dilakukan melalui proses casting dengan mempertimbangkan kedalaman akting.

“Ale menuntut penjiwaan yang sangat dalam. Eskalasi emosinya berlapis, sehingga karakter ini perlu dimainkan oleh aktor yang punya kemampuan akting mumpuni. Setelah melalui proses casting, kami akhirnya menemukan pemeran Ale yang selama ini kami cari. Bagi kami, Beni adalah orang paling tepat dari semua pilihan yang ada,” ujar Philip.

Sementara itu, Benidictus mengakui bahwa ekspektasi pembaca novel sempat membuatnya kurang percaya diri. Ia bahkan khawatir penonton justru akan tertawa ketika menyaksikan aktingnya dalam film drama.

“Karena aku tahu buku ini akan difilmkan sudah beberapa bulan sebelum aku casting (audisi), dan aku tahu banyak orang-orang yang mention, jadi itu juga yang menambahkan beban, karena ekspektasinya semakin tinggi,” katanya.

Untuk mendalami karakter Ale, Benny juga berdiskusi dengan seorang temannya yang berprofesi sebagai psikolog. Percakapan tersebut membantunya memahami bahwa pengalaman yang mungkin terasa asing baginya ternyata bisa menjadi kenyataan bagi orang lain.

“Ada beberapa hal yang enggak pernah aku alami, jadi buat aku, kayaknya ini enggak mungkin (bisa terjadi dalam hidup). Tapi ternyata, memang ada kemungkinan ini sering terjadi,” ujarnya, melansir dari ANTARA, Selasa (13/10).

Pengalaman itu membuat Benny lebih memahami kondisi orang lain dan mendorongnya untuk lebih bersyukur. Ia juga menyadari adanya kesamaan antara dirinya dan Ale, terutama pengalaman merasa kesepian serta tidak memiliki teman.

“Yang bikin aku bertahan di hidup ini, aku pastikan adalah ngobrol sama orang-orang di sekelilingku. Enggak harus yang aku kenal, yang aku baru ketemu lagi, itu sudah bikin energiku kayak kembali lagi,” ucapnya.

Lagu Tema Coba Lagi dan Pesan Emosional Film

Pesan tentang kesempatan kedua juga hadir melalui lagu tema berjudul Coba Lagi yang dibawakan Barsena Bestandhi. Musik video lagu tersebut dirilis bersamaan dengan trailer film pada 12 Oktober 2026 dan memperlihatkan pertemuan Barsena dengan Ale serta karakter lainnya.

Salah satu bagian liriknya berbunyi, “Hey kamu, jangan berhenti dulu. Masih banyak rasa dan warna yang bisa kau cerna untuk kau nikmati, sabarlah.”

Lirik tersebut sejalan dengan perjalanan Ale yang perlahan berhadapan dengan berbagai kemungkinan baru. Alih-alih menawarkan jawaban sederhana terhadap persoalan hidup, film ini tampaknya ingin mengajak penonton memahami bahwa pengalaman orang lain dapat membantu seseorang menemukan cara pandang yang berbeda.

Selain Benny, film ini dibintangi Chicco Kurniawan, Teuku Rifnu Wikana, Tika Panggabean, Zulfa Maharani, Nita Gunawan, Jourdy Pranata, Pangeran Lantang, dan Dewi Irawan. Nia Dinata bergabung sebagai ko-produser, sedangkan Alim Sudio menangani skenario.

Secara konsep, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati memiliki modal emosional yang kuat melalui perpaduan premis sederhana dan persoalan yang serius. Namun, keberhasilan adaptasi ini pada akhirnya akan bergantung pada bagaimana film membangun perkembangan karakter Ale, menjaga ritme cerita, dan menghadirkan emosi tanpa terasa berlebihan. (udn) 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral