- Ilustrasi AI/ChatGPT
Oknum Dosen Universitas Tomakaka Diduga Lakukan Plagiarisme Jurnal, Pemilik Karya Asli Tuntut Permintaan Maaf
Marsa juga mengaku telah berupaya menghubungi para penulis yang tercantum dalam artikel tersebut melalui berbagai saluran komunikasi. Namun, upaya itu disebut belum membuahkan hasil.
"Aku coba untuk hubungi, di WA tidak dibalas. Di DM juga tidak dibalas. Bersurat di email juga tidak dibalas," ungkapnya.
Karena tidak memperoleh tanggapan langsung, Marsa kemudian menghubungi pihak Universitas Tomakaka melalui media sosial. Ia mengatakan pihak kampus merespons pesannya dan menyampaikan akan melakukan evaluasi.
"Akhirnya coba ke universitasnya. Universitas aku DM, mereka balas dan bilang akan melakukan evaluasi," katanya.
Meski demikian, Marsa mengaku belum mendapatkan penyelesaian yang diharapkannya. Ia menyebut pihak kampus telah menyampaikan permintaan maaf, tetapi belum mendapatkan permintaan maaf dari para penulis yang diduga terlibat dalam persoalan tersebut.
Telusuri Identitas Penulis dan Angkat ke Media Sosial
Marsa mengatakan, dirinya juga berupaya menelusuri identitas ketiga penulis yang tercantum dalam artikel yang dipermasalahkan.
Berdasarkan penelusurannya melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), ia menduga ketiganya merupakan dosen pada Program Studi Hukum Keluarga Islam di Universitas Tomakaka.
Ia menyebut penulis pertama diduga pernah menjabat sebagai Wakil Dekan III dan kini menjabat sebagai ketua program studi.
Sementara, dua penulis lainnya disebut masih aktif sebagai dosen di universitas tersebut.
Meski telah melakukan penelusuran, dugaan keterlibatan para penulis tersebut tetap perlu dikonfirmasi kepada pihak yang bersangkutan dan universitas.
Marsa mengungkapkan, persoalan ini sebenarnya pernah ia sampaikan melalui media sosial pada Juli 2025. Namun, unggahan tersebut saat itu tidak mendapatkan perhatian sebesar yang diterimanya belakangan ini.
"Karena tidak ada respons berarti, tindakannya nggak tahu, penulisnya tidak minta maaf, Juli 2025 aku angkat ke Thread dan Tiktok, tapi tidak seramai sekarang," ujarnya.
Setelah menunggu cukup lama tanpa memperoleh perkembangan penyelesaian yang diharapkan, Marsa kembali mengangkat persoalan tersebut melalui Threads hingga akhirnya ramai diperbincangkan.
"Aku tunggu, tidak pernah update kasus tersebut," katanya.
Ia juga mengkhawatirkan dampak publikasi artikel yang diduga bermasalah itu terhadap penelusuran akademik.