- YouTube HERRI PRAS
Herri Pras Blak-blakan Ungkap Alasan Sebenarnya Kritik Keras UAH dan UAS: Bukan Penghinaan
tvOnenews.com - Nama konten kreator sekaligus praktisi bela diri Herri Pras tengah menjadi sorotan setelah pernyataannya mengenai Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH) menuai kontroversi.
Salah satu ucapannya yang paling banyak diperbincangkan adalah penyebutan kedua pendakwah tersebut dengan istilah "setan bisu".
Pernyataan itu memancing reaksi keras dari sejumlah masyarakat, terutama para pendukung UAS dan UAH.
Polemik yang awalnya berkembang melalui media sosial bahkan berujung pada kedatangan sejumlah praktisi bela diri ke kediaman Herri di Jawa Timur pada Senin (2/11/2026).
Salah satu sosok yang ikut dalam rombongan tersebut adalah atlet bela diri campuran atau Mixed Martial Arts (MMA), Yudi Cahyadi.
Kedatangan mereka dikaitkan dengan perselisihan dan tantangan duel yang sebelumnya ramai dibicarakan di media sosial.
Di tengah kontroversi tersebut, Herri Pras akhirnya memberikan penjelasan melalui kanal YouTube pribadinya. Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah "setan bisu" bukan dimaksudkan sebagai penghinaan terhadap UAS maupun UAH.
Herri justru mengklaim istilah tersebut merupakan bagian dari kritik terhadap sikap tokoh agama yang menurut penilaiannya tidak bersuara ketika melihat kemungkaran.
Dalam penjelasannya, ia juga mengungkap alasan mengapa dirinya berani menyebut sejumlah tokoh agama dengan istilah keras, seperti penipu, pendusta, hingga munafik.
Herri Pras Sebut Istilah Setan Bisu Bukan Ucapannya Sendiri
Dalam video klarifikasinya, Herri Pras menyoroti reaksi masyarakat yang menurutnya hanya berfokus pada potongan pernyataannya mengenai UAS dan UAH.
Ia menyebut istilah "setan bisu" sebelumnya juga pernah digunakan oleh kreator konten Guru Gembul ketika membahas sikap sejumlah pendakwah terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan kelompok mereka.
"Mereka sedang semangat-semangatnya mem-framing dan memotong ucapan saya bahwa sosok Profesor Adi Hidayat adalah setan yang bisu dan juga Ustad Abdul Somad. Padahal ucapan itu juga pernah disebutkan oleh Guru Gembul," kata Herri Pras dikutip dari kanal YouTube miliknya HERRI PRAS.
Herri kemudian menjelaskan bahwa istilah tersebut berkaitan dengan kritik terhadap orang yang memilih diam ketika menyaksikan kemungkaran.
Ia mengaitkan ungkapan itu dengan pandangan yang disebutnya berasal dari ulama generasi terdahulu, yakni mengenai orang yang tidak menyuarakan kebenaran dan orang yang justru menyampaikan kebatilan.
Menurut Herri, istilah tersebut bukanlah bentuk penghinaan personal, melainkan kritik terhadap sikap yang dinilainya tidak sesuai dengan tanggung jawab seorang tokoh agama.
Ia juga menilai pendakwah yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat seharusnya berani menyampaikan sikap ketika menemukan tindakan yang dianggap menyimpang.
Persoalkan Sikap UAH terhadap Dugaan Penyimpangan Tokoh Agama
Lebih lanjut, Herri Pras mengungkapkan alasan dirinya mengkritik Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Abdul Somad.
Ia menilai kedua pendakwah tersebut seharusnya memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang menurutnya berkaitan dengan penyimpangan, penipuan, maupun penyalahgunaan nama agama.
Herri secara khusus menyinggung UAH yang menurut pengakuannya belum pernah ia temukan memberikan bantahan terhadap pihak-pihak yang dianggapnya menyampaikan ajaran keliru.
"Bukan penghinaan. Satu contoh Profesor Adi Hidayat tidak pernah saya temukan satu videonya pun memberikan bantahan kepada orang-orang yang mengajarkan ungkapan-ungkapan seperti ini."
Ia juga mempertanyakan sikap UAH terhadap sejumlah pihak yang menurut tuduhannya menggunakan nama Nabi untuk kepentingan tertentu.
"Profesor Adi Hidayat tidak pernah meluruskan Habib-habib yang menipu orang dengan membawa nama Nabi seperti ini," ucap Herri.
Herri menegaskan bahwa kritik tersebut muncul karena ia merasa ada masyarakat yang menjadi korban dari tindakan pihak-pihak yang dianggapnya menyalahgunakan kepercayaan umat.
"Makanya saya tidak pernah takut untuk menyebut ulama itu penipu, Habib itu penipu. Karena apa? Banyak orang tertipu. Banyak orang tertipu akan kebohongannya," tegasnya.
Dalam klarifikasinya, Herri juga mengaitkan istilah "setan bisu" dengan ungkapan yang menurutnya pernah digunakan oleh ulama terdahulu, termasuk Imam An-Nawawi dan Ibnu Taimiyah.
Ia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut digunakan untuk mengingatkan orang berilmu agar tidak mendiamkan kemungkaran yang terjadi di hadapannya.
Herri kemudian menghubungkan pandangan itu dengan kewajiban menyampaikan kebenaran sebagaimana yang ia pahami dari ajaran Islam.
Menurutnya, seseorang yang memiliki pengaruh dan kemampuan untuk mengingatkan masyarakat seharusnya tidak memilih diam ketika mengetahui adanya tindakan yang merugikan umat.
Ia juga menyinggung hadis tentang kewajiban mengubah kemungkaran sesuai kemampuan, baik melalui tindakan, perkataan, maupun hati.
Namun, Herri menilai tanggung jawab seorang pendakwah yang memiliki pengaruh luas semestinya lebih besar dalam menyuarakan persoalan yang dianggapnya perlu diluruskan.
Herri Pras juga memberikan tanggapan mengenai kemungkinan pernyataannya dianggap sebagai penghinaan atau ujaran kebencian.
Ia menyatakan tidak keberatan apabila kritik kerasnya dinilai sebagai bentuk kebencian terhadap pihak yang menurutnya melakukan penipuan kepada masyarakat.
"Dan apabila ungkapan penipu ataupun setan bisu dianggap suatu penghinaan, artinya teman-teman, istilah-istilah yang sudah dibangun disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu tidak boleh kita pakai untuk saat ini karena tidak pantas untuk diucapkan kepada ulama-ulama yang sekarang ini rajin berbohong karena dianggap sebagai ujaran kebencian," jelasnya.
Herri kemudian menegaskan bahwa dirinya memang menentang tindakan yang menurutnya merugikan umat, bukan semata-mata menyerang seseorang karena statusnya sebagai ulama atau habib.
Ia turut mempertanyakan kapasitas keilmuan Habib Umar bin Hafiz, terutama terkait klaim keahlian dalam bidang hadis dan Alquran.
Menurut Herri, kapasitas seorang ahli hadis semestinya dapat ditelusuri melalui karya, penelitian, dan kontribusi keilmuan yang bisa dibuktikan.
Pernyataan tersebut kembali memicu perdebatan karena menyangkut reputasi dan kompetensi tokoh agama yang memiliki banyak pengikut.
(tsy)