- Tangkapan layar Instagram/hannykristiantonew
Trauma Digeruduk Sekelompok Pria, Herri Pras Ungkap Kondisi Keluarganya
tvOnenews.com - Konten kreator sekaligus praktisi bela diri Herri Pras mengungkap kondisi keluarganya setelah kediamannya di kawasan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, didatangi sekelompok pria yang dikaitkan dengan petarung Mixed Martial Arts (MMA) Yudi Cahyadi.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu malam (1/11/2026) tersebut rupanya tidak hanya meninggalkan persoalan bagi Herri. Anggota keluarganya, terutama sang putra, disebut mengalami trauma setelah menyaksikan langsung keributan di lingkungan rumah mereka.
Pengakuan itu disampaikan Herri dalam video terbaru yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya, HERRI PRAS.
Dalam video tersebut, Herri berbincang dengan Kyai Nur Ihya yang menghubunginya untuk menanyakan kondisi keluarga setelah insiden kedatangan rombongan pria tersebut.
Kyai Nur Ihya secara khusus menanyakan dampak kejadian itu terhadap anak Herri yang turut menyaksikan keributan di kediaman mereka.
"Ada trauma dari pihak keluarga, termasuk putra panjenengan (Anda) atas peristiwa yang terjadi di depan mata, di kediaman panjenengan (Anda) sendiri di Bogor," kata Kyai Nur Ihya, dikutip dari kanal YouTube HERRI PRAS.
Herri pun membenarkan bahwa peristiwa tersebut meninggalkan dampak psikologis bagi keluarganya.
"Betul, Pak Kyai," tegas Herri Pras.
Pengakuan singkat tersebut memperlihatkan bahwa dampak perselisihan yang awalnya berkembang di media sosial turut dirasakan oleh anggota keluarga yang tidak terlibat langsung dalam polemik tersebut.
Kronologi Rumah Herri Pras Didatangi Sekelompok Pria
- YouTube Herri Pras/Instagram Hannykristiantonew
Sebagai informasi, perseteruan Herri Pras dengan petarung MMA Yudi Cahyadi bermula dari kritik yang disampaikan Herri terhadap dua pendakwah ternama, Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH).
Melalui sejumlah konten di media sosial, Herri melontarkan pernyataan keras dan mempertanyakan sejumlah pandangan serta kapasitas keilmuan tokoh agama tersebut.
Salah satu ungkapan yang menuai kontroversi adalah penyebutan UAS dan UAH dengan istilah "setan bisu".
Pernyataan itu kemudian mendapatkan reaksi dari sejumlah pihak yang menganggap cara penyampaian kritik Herri telah merendahkan kehormatan kedua pendakwah.
Persoalan tersebut kemudian menarik perhatian Yudi Cahyadi, petarung MMA yang dikenal dengan julukan Prabu Gagak Lumayung.
Yudi memberikan respons terhadap pernyataan Herri hingga keduanya terlibat saling sindir dan tantangan duel di media sosial.
Herri sendiri menyatakan tidak keberatan menghadapi tantangan tersebut. Namun, ia mengajukan sejumlah persyaratan yang menurutnya harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum pertarungan dilakukan.
Perbedaan pandangan mengenai persyaratan itu membuat perseteruan semakin memanas hingga akhirnya rombongan yang dikaitkan dengan Yudi mendatangi kediaman Herri di Gunung Putri, Bogor.
Berdasarkan penuturan Herri, rombongan tersebut datang ke rumahnya sekitar pukul 20.00 WIB pada Minggu malam (1/11/2026).
Mereka disebut datang menggunakan kendaraan berpelat merah, kemudian mengetuk pintu dan memanggil nama Herri agar keluar rumah.
Ketika bertemu, pembicaraan di antara kedua pihak kembali menyinggung persoalan tantangan duel yang sebelumnya ramai di media sosial.
Herri mengaku tetap meminta agar persyaratan yang diajukannya dipenuhi. Namun, situasi yang awalnya berupa adu argumen disebut berubah menjadi tindakan kekerasan.
Ia mengaku mendapat tendangan di bagian perut hingga terjatuh.
Setelah bangkit, Herri menyebut dirinya kembali mendapatkan pukulan dan dengkulan di bagian ulu hati serta perut.
"Setelah saya bangun dilanjut oleh saudara YC melakukan tindakan yang sama, memukul dan mendengkul area ulu hati dan bagian perut," kata Herri dalam keterangannya melalui media sosial.
Pengakuan tersebut menjadi salah satu alasan Herri memutuskan membawa persoalan itu ke jalur hukum.
Perlu diketahui, dugaan kekerasan tersebut masih merupakan keterangan dari pihak Herri dan perlu dibuktikan melalui pemeriksaan serta proses hukum.
Setelah mengaku mengalami tindakan kekerasan, Herri memilih masuk kembali ke dalam rumah dan menghubungi kepolisian melalui layanan darurat 110.
Kapolsek Gunung Putri Kompol Hillal Adi Imawan membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai keributan tersebut.
Petugas kemudian mendatangi lokasi untuk meredakan situasi sekaligus mempertemukan pihak-pihak yang terlibat.
Namun, upaya mediasi yang dilakukan kepolisian tidak menghasilkan kesepakatan. Kedua pihak akhirnya meninggalkan lokasi masing-masing.
Herri bersama tim kuasa hukumnya kemudian melaporkan sekitar 20 orang ke Polres Bogor atas dugaan intimidasi, persekusi, provokasi, dan penganiayaan.
Langkah hukum tersebut ditempuh agar peristiwa yang terjadi di kediamannya dapat ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.
(tsy)