news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Hari Pahlawan.
Sumber :
  • Ilustrasi AI/ChatGPT

5 Puisi Chairil Anwar Paling Berkesan untuk Memperingati Hari Pahlawan 10 November

Berikut 5 puisi Chairil Anwar paling berkesan, cocok dbacakan saat momentum peringatan Hari Pahlawan 10 November 2026.
Jumat, 6 November 2026 - 07:42 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November menjadi momen untuk mengenang jasa para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia. 

Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk kembali menumbuhkan semangat nasionalisme dan menghargai perjuangan para pahlawan melalui berbagai cara, salah satunya dengan membaca puisi.

Salah satu penyair Indonesia yang karyanya lekat dengan semangat perjuangan adalah Chairil Anwar. 

Penyair Angkatan '45 ini dikenal melalui puisi-puisinya yang kuat, penuh keberanian, dan sarat makna kehidupan.

Karya Chairil Anwar tidak hanya menggambarkan pergulatan batin manusia, tetapi juga menyuarakan semangat kemerdekaan, pengorbanan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Sejumlah puisinya pun cocok dibacakan untuk memperingati Hari Pahlawan pada 10 November, baik dalam acara sekolah, upacara, perlombaan membaca puisi, maupun sebagai ungkapan penghormatan kepada para pejuang bangsa.

Berikut lima puisi Chairil Anwar yang dapat menjadi pilihan untuk menghidupkan suasana Hari Pahlawan.

Ilustrasi Sumpah Pemuda
Sumber :
  • Pexels/Irgi Nur Fadil

1. Karawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

2. Diponegoro

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak getar. Lawan banyaknya serratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu negeri

Menyediakan api.

Punah di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang

3. Siap Sedia

Kepada angkatanku

Tanganmu nanti tegang kaku,

Jantungmu nanti berdebar berhenti,

Tubuhmu nanti mengeras batu,

Tapi kami sederap mengganti,

Terus memahat ini Tugu,

Matamu nanti kaca saja,

Mulutmu nanti habis bicara,

Darahmu nanti mengalir berhenti,

Tapi kami sederap mengganti,

Terus berdaya ke Masyarakat jaya.

Suaramu nanti diam ditekan,

Namamu nanti terbang hilang,

Langkahmu nanti enggan ke depan,

Tapi kami sederap mengganti,

Bersatu maju, ke Kemenangan.

Darah kami panas selama,

Badan kami tertempa baja,

Jiwa kami gagah pekasa,

Kami akan mewarna di angkasa,

Kami pembawa ke Bahgia nyata.

Kawan, kawan

Menepis segar angin terasa

Lalu menderu menyapu awan

Terus menembus surya cahaya

Memancar pencar ke penjuru segala

Riang menggelombang sawah dan hutan

Segala menyala-nyala!

Segala menyala-nyala!

Kawan, kawan

Dan kita bangkit dengan kesedaran

Mencucuk menerang hingga belulang.

Kawan, kawan

Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!

4. Prajurit Jaga Malam

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam,

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu....

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

5. Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

(gwn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:07
08:21
14:13
09:50
04:54
08:02

Viral