- Kolase tangkapan layar YouTube Pesulap Merah & Herri Pras
Terungkap Alasan Fighter Adi Paryanto Tantang Herri Pras, Ternyata Berawal dari Hal ini
"Konten-konten dia itu kan kesannya nantang-nantang," heran dia.
Adi memahami apa yang dimaksud oleh Herri dalam isi konten tersebut. Menurut dia, hal tersebut cukup sekali disampaikan dan tidak boleh berlarut-larut.
"Mungkin kalau bahasa dia kan mau dakwah, dia mau meluruskan dan kasih tahu kesalahan-kesalahan ustaz. Menurut gue kalau mau meluruskan, ya sekali dua kali aja cukup bikin konten begitu," terangnya.
Jika dirinya dikritik, Adi justru menegaskan bahwa dirinya tidak anti kritik. Bagi dia, hal tersebut sebagai ruang kebebasan untuk menyampaikan pendapat maupun pandangan terhadap orang lain.
Untuk Herri Pras, menurut Adi, konten tersebut bukan bersifat mengkritik, melainkan diduga telah kebablasan saat membicarakan sejumlah tokoh agama. Ia menambahkan, konten yang disebarkan justru semakin masif.
"Kok semakin masif. Sebenarnya kita enggak ingin nonton konten dia, tapi mungkin saking banyaknya dia bikin konten jadi nongol terus di beranda kita. Kita kan enggak bisa memilih yang FYP. Kita udah skip, muncul dia lagi di bawahnya. Ini lama-lama kenapa sih?," tuturnya.
"Kalau kita mau pelajari, kalau mau ngelihat yang terjadi begitu, muter-muter di situ aja," tambahnya.
Tantang Herri Pras karena Background
Situasi ini membuat dirinya tergerak untuk menyikapi konten-konten tersebut. Adi menyampaikan tantangan tersebut muncul lantaran melihat latar belakang Herri Pras sebagai praktisi pencak silat, pendiri dan guru besar di sebuah perguruan pencak silat di Jember.
Menurut dia, tantangan tersebut masih hal yang wajar. Meski ada perbedaan dari segi karakteristik dan latihan, namun masih dalam lingkup seni bela diri.
"Sebagai gua insan bela diri melihat background dia katanya guru besar silat, wajar enggak sih seorang praktisi bela diri menantang praktisi bela diri yang lain? Kalau di industri kita, itu biasa aja tantang-menantang sesama fighter itu hal yang lumrah, psywar," paparnya.
"Jadi ketika psywar, ada bahasanya, ada klimaksnya, ada penyelesaiannya secara jantan. Bahkan di Indonesia sudah jelas karena semua ada aturannya," tambahnya.