- Pexels/Gustavo Fring
Mengenal Shadow Teacher, Istilah yang Disorot usai Kasus Dugaan Bullying SD Labschool Cibubur Viral di Threads
tvOnenews.com - Istilah shadow teacher menjadi perbincangan publik setelah kasus dugaan perundungan atau bullying di SD Labschool Cibubur ramai dibahas di media sosial Threads.
Istilah tersebut muncul dalam unggahan salah satu orang tua murid yang mengaku anaknya menjadi korban dalam kasus tersebut.
Perbincangan ini bermula ketika pemilik akun Threads @multhia67 membagikan cerita dan kekecewaannya terhadap penanganan dugaan perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut.
Dalam unggahannya, akun tersebut menyebut dirinya sebagai salah satu ibu dari 16 siswa yang diduga menjadi korban.
Ia juga menyinggung persoalan sekolah inklusi dan keberadaan shadow teacher dalam proses pendampingan anak berkebutuhan khusus (ABK).
"HARI RABU KEMARIN SAYA TIDAK DIBERIKAN HAK BIACARA JADI SAYA TULIS DI SINI APA YANG SAYA MAU. Labschool bukanlah SEKOLAH INKLUSI yang dalam hal ini erat kaitannya dengan SHADOW TEACHER," tulis akun tersebut, dikutip Jumat (6/11/2026).
Unggahan itu kemudian memunculkan berbagai tanggapan dari warganet.
Berdasarkan klaim yang disampaikan pemilik akun, jumlah siswa yang diduga menjadi korban awalnya mencapai 14 hingga 16 orang, sedangkan anak yang dituding sebagai pelaku disebut berusia sekitar enam tahun dan diklaim memiliki kebutuhan khusus.
Orang tua murid juga mempersoalkan penanganan kasus, termasuk proses mediasi dan keputusan sekolah yang disebut kembali menempatkan anak terduga pelaku di ruang kelas setelah sebelumnya dipisahkan selama beberapa minggu.
Pihak manajemen SD Labschool Cibubur melalui akun resmi @sdlabscib.id telah menyampaikan klarifikasi.
- Dok. Labschool Cibubur
Sekolah menyatakan telah berupaya menangani kejadian antarsiswa melalui mediasi, melibatkan psikolog sekolah untuk memberikan pendampingan mental, serta meningkatkan pengawasan dengan tetap mengutamakan perlindungan dan privasi anak-anak.
Di tengah ramainya pembahasan tersebut, istilah shadow teacher turut menjadi perhatian.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan shadow teacher dan bagaimana perannya dalam mendampingi anak di lingkungan sekolah?
Apa Itu Shadow Teacher?
Shadow teacher merupakan tenaga pendamping khusus yang membantu anak berkebutuhan khusus selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah reguler atau sekolah inklusi.
Pendamping ini biasanya bekerja secara individual atau satu lawan satu dengan anak yang membutuhkan dukungan tambahan.
Tujuannya agar anak dapat mengikuti pembelajaran, memahami instruksi guru, beradaptasi dengan lingkungan sekolah, serta berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.
Di Indonesia, istilah shadow teacher kerap dikaitkan dengan Guru Pendamping Khusus (GPK).
Keduanya memiliki fungsi pendampingan yang berkaitan, meskipun dalam praktiknya peran dan penugasannya dapat berbeda sesuai kebutuhan anak serta kebijakan sekolah.
Kehadiran pendamping tersebut bukan sekadar membantu anak menyelesaikan tugas sekolah.
Mereka juga berperan dalam mendukung perkembangan kemampuan sosial, komunikasi, kemandirian, hingga pengelolaan emosi.
Tugas dan Peran Shadow Teacher di Sekolah
Pendampingan yang diberikan shadow teacher disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Berikut beberapa tugas yang umumnya dilakukan:
1. Membantu Memahami Pelajaran
Shadow teacher membantu anak memahami materi dan instruksi yang diberikan guru kelas.
Caranya dengan menyederhanakan penjelasan atau membagi tugas menjadi beberapa tahapan agar lebih mudah dipahami.
2. Membantu Menjaga Fokus
Sebagian anak membutuhkan dukungan tambahan untuk mempertahankan perhatian selama pembelajaran.
Pendamping membantu mengarahkan kembali fokus anak ketika terdistraksi dan memberikan bantuan saat menghadapi situasi yang membuatnya kewalahan.
3. Mengembangkan Kemampuan Bersosialisasi
Pendamping juga membantu anak membangun hubungan dengan teman sebaya.
Misalnya, mengajarkan cara berkomunikasi, berbagi, menunggu giliran, bekerja sama, hingga menyelesaikan perselisihan secara tepat.
4. Mendampingi Pengelolaan Emosi dan Perilaku
Dalam situasi tertentu, anak mungkin mengalami kesulitan mengendalikan emosi atau beradaptasi dengan perubahan aktivitas.
Shadow teacher membantu anak mengenali dan mengelola emosinya agar dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan lebih nyaman.
5. Mendorong Kemandirian Anak
Pendampingan bukan berarti membuat anak terus bergantung kepada orang lain. Sebaliknya, shadow teacher membantu anak menyelesaikan aktivitas secara bertahap hingga mampu melakukannya sendiri sesuai kemampuan.
6. Berkoordinasi dengan Guru dan Orang Tua
Shadow teacher perlu menjalin komunikasi dengan guru kelas, orang tua, serta tenaga profesional seperti psikolog atau terapis.
Koordinasi ini penting untuk memantau perkembangan anak dan menyesuaikan bentuk pendampingan yang dibutuhkan.
Anak Seperti Apa yang Membutuhkan Shadow Teacher?
Tidak semua anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendamping individual di sekolah.
Kebutuhan tersebut perlu dilihat berdasarkan kondisi, kemampuan, serta hasil asesmen masing-masing anak.
Namun, pendampingan shadow teacher dapat dipertimbangkan apabila seorang anak mengalami sejumlah kesulitan, seperti:
- Kesulitan mengikuti rutinitas kelas atau memahami instruksi yang terdiri dari beberapa tahapan.
- Mudah kehilangan fokus ketika mengikuti kegiatan belajar.
- Memiliki sensitivitas tinggi terhadap suara, perubahan jadwal, atau rangsangan dari lingkungan sekitar.
- Mengalami kesulitan berinteraksi dan bermain bersama teman sebaya.
- Membutuhkan bantuan intensif untuk menyelesaikan aktivitas sehari-hari di sekolah.
- Mengalami kesulitan mengelola emosi ketika menghadapi situasi tertentu.
Meski demikian, keputusan untuk menggunakan pendamping khusus sebaiknya didasarkan pada kebutuhan individual anak, bukan semata-mata karena anak memiliki diagnosis atau masuk dalam kategori berkebutuhan khusus.
Keberadaan shadow teacher diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, aman, dan mendukung perkembangan seluruh siswa.
Pendampingan tersebut juga perlu berjalan bersama peran guru, pihak sekolah, dan orang tua agar setiap anak memperoleh kesempatan belajar sesuai kebutuhannya. (gwn)