- SBS - IMBd
6 Perbedaan Drama Doctor X Versi Korea dan Jepang, dari Karakter Utama hingga Konflik Cerita
tvOnenews.com - Drama Korea Doctor X: The Age of the White Mafia menarik perhatian penonton sejak resmi tayang pada Oktober 2026.
Dibintangi Kim Ji Won, serial bergenre medis ini merupakan adaptasi dari drama Jepang populer, Doctor X: Surgeon Michiko Daimon.
Meski mengangkat premis serupa tentang dokter bedah genius yang berani melawan sistem rumah sakit, kedua versi Doctor X memiliki sejumlah perbedaan.
Mulai dari karakter tokoh utama, adegan perkenalan, hubungan antarpemeran, hingga cara konflik disajikan.
Versi Korea menghadirkan Gye Su Jeong sebagai dokter bedah yang harus berhadapan dengan berbagai persoalan di Rumah Sakit Universitas Guseo.
Sementara itu, versi Jepang mengikuti perjalanan Michiko Daimon, dokter bedah independen yang dikenal tidak mau tunduk pada aturan rumah sakit yang dianggapnya tidak masuk akal.
Menariknya, adaptasi Korea tidak sekadar mengganti latar dan nama tokoh.
Ada sejumlah penyesuaian yang membuat ceritanya terasa berbeda dari serial orisinal.
Lantas, apa saja perbedaan Doctor X versi Korea dan Jepang?
1. Karakter Tokoh Utama
Perbedaan paling terlihat terdapat pada sosok dokter bedah yang menjadi pusat cerita.
Dalam versi Korea, karakter utama bernama Gye Su Jeong dan diperankan oleh Kim Ji Won.
Sementara itu, versi Jepang menghadirkan Michiko Daimon yang diperankan Ryoko Yonekura.
Keduanya sama-sama dikenal sebagai dokter bedah dengan kemampuan luar biasa dan keberanian menghadapi sistem rumah sakit yang bermasalah.
Namun, kepribadian mereka ditampilkan dengan pendekatan berbeda.
Michiko Daimon digambarkan sebagai sosok yang mandiri, percaya diri, dan blak-blakan.
Ia tidak segan menyampaikan pendapat, bahkan kepada para petinggi rumah sakit. Karakter ini juga dikenal dengan prinsip bahwa dirinya tidak pernah gagal dalam melakukan operasi.
Berbeda dengan Michiko, Gye Su Jeong memiliki pembawaan lebih dingin, tertutup, dan tidak banyak bicara.
Meski demikian, ia tetap menunjukkan ketegasan ketika berhadapan dengan persoalan medis maupun ketidakadilan di lingkungan rumah sakit.
Penyesuaian karakter tersebut juga menjadi bagian dari upaya tim produksi untuk membawa cerita orisinal ke dalam konteks masyarakat Korea.
Sutradara Lee Jeong Rim menjelaskan bahwa pihaknya mempertahankan kerangka cerita dan daya tarik utama serial Jepang, tetapi menyesuaikannya dengan karakter serta sistem di Korea Selatan.
2. Latar Perkenalan Tokoh Utama di Episode Pertama
Perbedaan berikutnya terlihat dari cara kedua serial memperkenalkan karakter utama kepada penonton.
Dalam Doctor X versi Korea, Gye Su Jeong diperlihatkan sedang berada di sebuah aula biliar bersama Jang Hee Sook yang diperankan Lee Jung Eun.
Situasi kemudian berubah ketika seorang pria tiba-tiba mengalami kondisi darurat dan membutuhkan pertolongan medis.
Sementara itu, Doctor X: Surgeon Michiko Daimon memperkenalkan Michiko melalui kejadian di sebuah klub malam. Saat itu, seorang pria mengalami gangguan kesehatan ketika berada di tempat tersebut.
Michiko kemudian turun tangan memberikan pertolongan meskipun situasinya tidak berlangsung di lingkungan rumah sakit.
Perbedaan latar tersebut membuat pembukaan kedua serial memiliki nuansa tersendiri.
Versi Jepang memperlihatkan kemampuan Michiko melalui situasi di tempat hiburan malam, sedangkan versi Korea menggunakan aula biliar sebagai lokasi awal untuk menunjukkan keahlian Su Jeong.
3. Pemeran Pendukung dan Hubungan Antartokoh
Selain tokoh utama, perubahan juga terlihat pada karakter pendukung, terutama sosok kepala agensi yang mendampingi dokter bedah.
Dalam serial Jepang, Michiko Daimon bekerja bersama Akira Kanbara yang diperankan Ittoku Kishibe. Akira merupakan kepala agensi yang membantu Michiko mendapatkan pekerjaan di berbagai rumah sakit.
Adapun versi Korea menghadirkan Jang Hee Sook sebagai kepala agensi yang diperankan Lee Jung Eun.
Berbeda dari Akira, Hee Sook merupakan karakter perempuan yang mempunyai hubungan lebih personal dengan Gye Su Jeong.
Hubungan keduanya tidak hanya sebatas urusan pekerjaan. Hee Sook digambarkan sebagai sosok yang dapat menjadi atasan sekaligus figur keluarga dan teman bagi Su Jeong. Kedekatan ini memberikan warna tersendiri dalam perjalanan karakter utama.
Perubahan lainnya terlihat pada karakter pendukung di lingkungan medis.
Versi Jepang menghadirkan Hiromi Jonouchi yang diperankan Yuki Uchida sebagai ahli anestesi.
Sementara itu, versi Korea memiliki Jo Wonjin yang diperankan Lee Jin Hee dengan peran serupa.
Perbedaan susunan pemeran pendukung tersebut memperlihatkan bahwa adaptasi Korea tidak sepenuhnya menyalin hubungan antartokoh dari serial aslinya.
4. Jumlah Episode dan Musim Penayangan
Perbedaan berikutnya terletak pada jumlah episode dan panjang cerita yang disajikan.
Doctor X: The Age of the White Mafia versi Korea dirancang dengan total 12 episode untuk musim pertamanya.
Drama yang dibintangi Kim Ji Won ini mulai tayang pada 9 Oktober 2026 melalui SBS dan dijadwalkan berakhir pada November 2026.
Sementara itu, serial Jepang memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang. Doctor X: Surgeon Michiko Daimon pertama kali ditayangkan pada 2012 dan berkembang menjadi tujuh musim hingga 2021.
Berdasarkan katalog resmi TV Asahi, serial Jepang tersebut memiliki total 70 episode yang terbagi dalam tujuh musim.
Selain serial televisi, kisah Michiko Daimon juga diangkat ke layar lebar melalui Doctor-X the Movie yang dirilis pada 2024.
Dengan jumlah episode yang lebih ringkas, versi Korea menyajikan kisah Su Jeong dalam satu rangkaian cerita yang lebih terbatas.
Sementara itu, versi Jepang memiliki ruang lebih luas untuk mengembangkan perjalanan Michiko melalui beberapa musim.
5. Penekanan Konflik dan Nuansa Cerita
Meskipun sama-sama mengangkat persoalan korupsi, politik internal, dan perebutan kekuasaan di rumah sakit, kedua serial memiliki penekanan konflik yang berbeda.
Versi Jepang lebih banyak menyoroti perjuangan Michiko Daimon sebagai dokter bedah independen yang berhadapan dengan hierarki rumah sakit.
Ia harus menghadapi para petinggi yang kerap lebih mementingkan kekuasaan, uang, dan kepentingan pribadi dibandingkan etika medis.
Sementara itu, Doctor X: The Age of the White Mafia mengemas konflik dengan nuansa medical noir.
Ceritanya tidak hanya menampilkan pertarungan antara dokter dan birokrasi rumah sakit, tetapi juga menyoroti persoalan sosial serta kepentingan bisnis di balik layanan kesehatan.
Salah satu persoalan yang diangkat dalam versi Korea adalah para pekerja rumah sakit yang belum menerima gaji, sementara institusi tersebut justru memberikan perlakuan istimewa kepada pasien VIP.
Konflik juga melibatkan Magnolia Society, sebuah klub eksklusif yang kepentingannya turut memengaruhi urusan rumah sakit, termasuk jadwal pasien dan operasi.
Dengan pendekatan tersebut, versi Korea memberikan sorotan lebih kuat terhadap ketimpangan dan kepentingan kelompok tertentu di lingkungan medis.
Meski masih mempertahankan gagasan utama dari serial Jepang, adaptasi ini menghadirkan persoalan yang disesuaikan dengan latar sosial Korea Selatan.
6. Doctor X Versi Korea Sukses Menembus Netflix Global Top 10
Terlepas dari berbagai perbedaannya dengan serial orisinal, Doctor X: The Age of the White Mafia berhasil mencuri perhatian penonton internasional sejak awal penayangan.
Berdasarkan laporan Yonhap News Agency pada 14 Oktober 2026, drama yang dibintangi Kim Ji Won tersebut menempati posisi pertama dalam daftar Netflix Global Top 10 kategori acara TV nonbahasa Inggris untuk periode 5–11 Oktober 2026.
Serial ini mencatatkan 4,6 juta penayangan, masuk daftar 10 besar di 36 negara, serta menduduki peringkat pertama di tujuh negara. Indonesia termasuk salah satu negara yang menempatkannya di posisi teratas.
Pencapaian tersebut menunjukkan besarnya perhatian penonton terhadap adaptasi Korea ini.
Di sisi lain, perbedaan karakter dan penyajian konflik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar yang sebelumnya telah mengenal kisah Michiko Daimon.
Pada akhirnya, kedua versi Doctor X sama-sama menampilkan perjuangan dokter bedah genius dalam menghadapi sistem rumah sakit yang bermasalah.
Namun, versi Jepang lebih dahulu membangun kisah Michiko Daimon melalui tujuh musim, sedangkan versi Korea menghadirkan interpretasi baru lewat karakter Gye Su Jeong dan konflik yang disesuaikan dengan realitas sosial di Korea Selatan.
(tsy)