- tim tvOne
Begini Awal Mula Nabi Muhammad Bertemu dengan Orang Yatsrib, Titik Balik Dakwah Rasul hingga Hijrah ke Madinah
Pada tahun berikutnya, ketika musim haji telah tiba, sepuluh orang dari Bani Khazraj dan dua orang dari Bani Aus yang dikirim sebagai utusan datang kepada Nabi Muhammad SAW.
Mereka berjanji bersedia mematuhi ajaran beliau yang di kemudian hari dikenal dengan Perjanjian Aqabah Pertama.
Perjanjian tersebut memuat hal-hal rahasia, antara lain:
"Kami tidak akan menyembah tuhan mana pun kecuali Tuhan yang Maha Tunggal; kami tidak akan mencuri; tidak akan berzina atau membunuh anak-anak kami; kami kan berhenti memfitnah dan menghujat; kami akan mematuhi Nabi dalam segala sesuatu yang benar."
Orang-orang Yatsrib yang berjumlah 12 itu pun kembali ke suku mereka.
Pada saat pulang, 12 orang Yatsrib itu ditemani oleh Mus'ab bin 'Umair RA.
Namun, ada versi lain yang menyatakan bahwa Mus'ab bin Umair RA memang sengaja dikirim oleh Nabi Muhammad SAW berdasarkan permintaan tertulis dari penduduk Yatsrib sendiri.
Mus'ab bin 'Umair RA merupakan sahabat muda yang pertama-tama masuk Islam dan paling akhir kembali dari hijrah di Abyssinia.
Sekalipun masih muda, ia memiliki pengalaman luas dan pernah mengalami ujian berat berupa penganiayaan yang tidak hanya memperteguh semangatnya.
Ia juga mengajarkan kepadanya bagaimana menghadapi penganiayaan dan bertemu dengan para penentang Islam yang belum pernah sekalipun merasakan kebenaran ajarannya.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Nabi Muhammad SAW memberikan kepercayaan besar kepada Mus'ab bin 'Umair RA untuk mengemban tugas sulit.
Tugas itu adalah mengarahkan dan membimbing orang-orang yang baru masuk Islam, menanamkan benih-benih semangat keagamaan dan kepatuhan yang baru saja disebarkan dan mengantarkan keberhasilan mereka.
Penyebab Penduduk Yatsrib Mudah Menerima Ajaran Nabi Muhammad SAW
Kaligrafi Nabi Muhammad (tim tvOnenews/canva/putri)
Dalam perkembangan, kota Yatsrib hancur karena pertentangan antar masyarakat sipil yang tak ada henti-hentinya karena permusuhan yang dipicu oleh persaingan antara Bani Khazraj dan Bani Aus.
Akibat permusuhan ini, masyarakatnya hidup dalam ketidakpastian dan perasaan tegang.
Mereka seolah terjebak pertikaian kedua kubu yang memperebutkan kepentingan bersama yang justru tidak membawa manfaat bagi kota tersebut.