- Istockphoto
Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 144, Perpindahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram
Berikut tafsir dari Surah Al-Baqarah ayat 144 yang dikutip oleh tvOnenews.com dari Kementerian Agama (Kemenag).
Tafsir Ringkas Kemenag
Sebelum arah kiblat dipindahkan kembali ke Ka’bah, Nabi sering menengadahkan wajahnya ke arah langit.
Nabi sangat berharap agar Allah segera memindahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, maka turunlah ayat ini.
Kami melihat wajahmu, wahai Nabi Muhammad, sering menengadah ke langit.
Kami Maha Mengerti tentang keinginanmu, oleh karena itu akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.
Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.
Dan di mana saja engkau berada, wahai pengikut Nabi Muhammad, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.
Dengan pemindahan ini, Baitul Maqdis sudah tidak lagi menjadi kiblat shalat yang sah.
Orang Yahudi dan Nasrani tahu benar akan hal ini.
Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab Taurat dan Injil tahu bahwa pemindahan kiblat itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka.
Hal itu mereka ketahui dari kitab-kitab suci mereka.
Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.
Allah pasti akan mencatat semua langkah perbuatan mereka yang melawan ketentuan-Nya.
Tafsir Tahlili
Sebagaimana telah diterangkan dalam riwayat tentang sebab turunnya ayat tersebut di atas, Nabi Muhammad saw ingin sekali agar kiblat itu ditetapkan Allah ke arah Ka‘bah.
Oleh sebab itu, beliau sering menengadahkan mukanya ke langit menantikan wahyu yang akan memerintahkan perpindahan kiblat itu.
Maka, turunlah ayat ini menetapkan perpindahan kiblat tersebut dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.
Di sini disebutkan arah Masjidil Haram, bukan Ka‘bah, sebagai isyarat yang membolehkan kita menghadap “ke arah Ka‘bah” pada waktu shalat apabila Ka‘bah itu jauh letaknya dari kita dan tidak dapat dilihat.
Sebaliknya, jika kita dekat dengan Ka‘bah, maka kita menghadap Ka‘bah pada waktu shalat.
Jadi tidak diwajibkan menghadap ke bangunan Ka‘bah itu, kecuali orang-orang yang dapat melihatnya. Dengan demikian, semua kaum Muslimin di berbagai penjuru bumi wajib menghadap "ke arah Ka‘bah" dalam shalat.