- Istimewa
Sering Mengerjakan Shalat Dhuha tapi Masih Miskin, Sedangkan yang Tidak Pernah Shalat Dhuha Malah Kaya, Kok Bisa? Gus Baha Tegas Ungkap Alasannya, Ternyata...
tvOnenews.com - Sering mengerjakan shalat dhuha tapi masih miskin, sedangkan yang tidak pernah shalat dhuha malah kaya, ternyata ini alasannya kata Gus Baha.
Setiap orang memiliki masalah dalam hidupnya, termasuk urusan ekonomi atau rezeki.
Agar dimudahkan dalam hal rezeki, dalam Islam dianjurkan untuk melakukan berbagai amal ibadah.
Gus Baha ungkap alasan kenapa orang sering shalat dhuha tapi tidak kaya-kaya. Sumber: Istimewa.
Misalnya mengerjakan shalat dhuha, shalat sunnah yang dikerjakan pagi hari saat matahari sedang naik hingga menjelang waktu dzuhur.
Salah satu keutamaan shalat dhuha yaitu diberi kemudahan dan kelancaran rezeki atau dicukupi kebutuhan hidupnya oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, tak sedikit orang yang rajin mengerjakan shalat sunnah dhuha dan berharap dimudahkan rezeki.
Namun, kehidupan setiap orang memang tidak ada yang sama. Ada orang yang sudah rutin mengerjakan shalat dhuha tapi masih merasa miskin.
Bahkan, ada yang sampai berpikir mengapa dirinya tidak kaya meski sudah sering shalat dhuha, sedangkan orang yang tidak shalat dhuha malah diberi kekayaan yang melimpah.
Ternyata di balik semua itu, Allah SWT memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberi kaya kepada hamba-Nya yang sering mengerjakan shalat sunnah.
Hal itu pernah dijelaskan oleh Gus Baha dalam salah satu ceramahnya.
Dalam salah satu ceramahnya, Gus Baha menjelaskan bahwa seorang muslim harus berpikir nubuwwah atau cara berpikir yang masuk akal agar tidak salah dan tidak ada keraguan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Gus Baha mneceritakan bahwa pada zaman dulu ada orang Anshar yang sudah lama masuk Islam protes kepada Rasulullah SAW karena saat ada pembagian, orang Quraisy yang baru masuk Islam mendapat jatah yang lebih banyak.
Sedangkan orang Anshar yang sudah lama menjadi pengikut Rasulullah SAW mendapat jatah lebih sedikit. Ia merasa tidak adil dan protes kepada Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan, orang-orang yang baru masuk Islam itu diberi kambing dan unta, namun mereka langsung pulang.
Sedangkan orang-orang Anshar hidupnya membawa Rasulullah SAW dan nanti pulangnya pun mereka membawa Rasulullah SAW.
Mendengar jawaban dari Rasulullah SAW, orang-orang Anshar tersebut menangis. Kemudian mereka pulang ke Madinah bersama Rasulullah SAW.
Dari kisah tersebut, Gus Baha menjelaskan bahwa jika sudah lama menolong, maka teruskan saja agar status kita sampai mati adalah sebagai penolong Allah SWT dan Rasulullah SAW.
"Justru kalau sudah lama menolong, ya teruskan saja sampai mati supaya statusnya penolong Allah dan Rasul," ucap Gus Baha.
Sedangkan, jika meminta saat Rasulullah SAW sudah jaya, maka statusnya tandanya itu tamak kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Ilustrasi shalat dhuha. Sumber: Pixabay
Begitu pun dengan orang yang sudah terbiasa melakukan shalat sunnah, seperti shalat tahajud, witir, dhuha, dan lainnya, terkadang oleh Allah tidak langsung diberi hajatnya karena Allah SWT suka kepada sujudnya seorang hamba tersebut.
Gus Baha mengatakan, ibadah sunnah tidak seharusnya dijadikan sebagai transaksional dengan Allah SWT.
"Bukan malah kok di transaksional, 'Gusti, saya sudah lama tahajud dan dhuha tapi kok tetap miskin? Orang yang tidak pernah shalat dhuha kok kaya?" ujar Gus Baha.
Gus Baha menegaskan, pemikiran yang seperti itu adalah pemikiran yang salah dan tidak seharusnya dimiliki oleh seorang muslim yang beriman.
Sebagai seorang muslim harus berpikir secara nubuwaah, jika belum diberi kekayaan di dunia oleh Allah SWT, maka tandanya Allah SWT masih ingin mendengar doa dan sujudnya.
(gwn)