- Kolase Antara/Pemda Tapin & Pexels
Lakukan Shalat Taubat atau Tahajud Dulu? Agar Lebih Afdhol Ikuti Aturan dan Urutan Terbaiknya Kata Ustaz Abdul Somad
tvOnenenws.com - Ustaz Abdul Somad mengulas pertanyaan dari salah satu jemaahnya, yang membahas waktu pelaksanaan shalat Taubat dan Tahajud.
Ustaz Abdul Somad mengapresiasi pertanyaan jemaahnya, terkhusus saat seseorang dihadapi pilihan mendahulukan antara shalat Taubat dan Tahajud.
Shalat Taubat di waktu Tahajud juga mendapat dukungan dari Ustaz Abdul Somad (UAS), walaupun sang pendakwah mengingatkan tetap mengikuti aturan, bhakan ada urutan terbaiknya agar tidak keliru.
"Mantap, nanti malam begitu bangun, mandi, bagus mandi malam itu," ujar UAS dilansir tvOnenews.com melalui tayangan channel YouTube Umar Bin Abdul Azis, Senin (10/2/2025).
Spesifikasi shalat Taubat dan Tahajud berfungsi ibadah sunnah untuk orang-orang yang ingin mendapat ampunan dari Allah SWT.
- iStockPhoto
Shalat Taubat sesungguhnya memiliki makna yang sangat mendalam, apabila bisa mengartikannya, ibadah sunnah ini akan menyentuh hati.
Shalat sunnah ini secara khusus berguna sebagai sarana bagaimana seseorang telah berbuat maksiat, memohon ampunan atas dosa-dosa besar yang pernah diperbuat sebelumnya.
Jika telah lama dan baru berbuat zina dan perbuatan yang mengarah kemaksiatan, sebaiknya mengisi amalan sunnah ini.
Sementara, shalat Tahajud memiliki fungsi yang lebih luas, namun ujung-ujungnya tetap sama, sarana terbaik memohon hajat tak lekang bagaimana dosanya terhapuskan atas izin Allah SWT.
Bagi orang mukmin mengisi shalat Taubat di sepertiga malam, mengingatkan momen ini juga sebagai waktu pelaksanaan Tahajud.
Redaksi dari Abu Umamah al Bahili meriwayatkan hadis mengapa ibadah malam dapat menghilangkan dosa, Rasulullah SAW bersabda:
"Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam, karena ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, dan ia juga dapat mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa-dosa, serta menghindarkan diri dari perbuatan dosa." (HR. Tirmidzi)
UAS sebelum berbicara urutan dari kedua ibadah sunnah ini, menganjurkan kesucian diri tetap diperhatikan, tujuannya tidak lain agar shalat Taubat dan Tahajud afdhol.
"Katanya mandi malam rematik? Dari habis Maghrib ke jam satu itu bisa rematik, tapi dari jam satu ke Subuh bagus. Terapi mandi malam, segar, dan bikin sehat," pesan UAS.
Kemudian, soal menggunakan wangi-wangian, sebagaimana berasal dari anjuran Rasulullah SAW juga menjadi bagian penting sebelum shalat.
"Habis mandi bersih semua, lalu ambil parfum non-alkohol usap ke tangan sampai leher," tutur dia.
Mengapa seorang mukmin hendak shalat wajib memakai wangi-wangian?
"Sebelum shalat itu para malaikat rahmat sangat suka sekali mendekati orang yang harum-harum, dia turun itu mendekati kita," katanya.
UAS baru melanjutkan persoalan urutan shalat sunnah setelah menguraikan aturannya, bahkan bacaan surat pendeknya juga menjadi tolak ukur sesuai dengan fungsi ibadahnya.
"Jangan Witir lagi karena udah Witir (Setelah Isya) di masjid. Tidak boleh dua kali Witir dalam semalam!," tegas UAS.
Ia menyinggung sedikit ketika seorang mukmin berniat shalat Taubat dan Tahajud, namun hanya menghafal Surat An Nas, Al Ikhlas, dan Al Falaq) bahkan surat pendek selain bacaan Surat Trikul.
UAS menjelaskan lebih dulu urutan yang pertama kali dilakukan adalah shalat sunnah Wudhu.
"Kalau begitu begini settingnya, shalat sunnah Wudhu baca wal asri dulu, ayat kedua qulhuwallahu," katanya.
Setelah itu bisa langsung melaksanakan shalat sunnah Taubat. UAS menyebutkan surat pendek yang dibaca sedikit berbeda.
"Rakaat pertama shalat sunnah Taubatnya baca qulya, rakaat kedua qulhu," tuturnya.
UAS melanjutkan urutan ibadah yang ketiga terletak di shalat sunnah Hajat, meskipun tetap menyarankan Surat Al Ikhlas dibaca pada rakaat kedua.
"Shalat sunnah Hajatnya nanti amalkan inna a'thoina, habis itu qulhuwallahu rakaat kedua," papar dia.
Setelah mengerjakan shalat sunnah Wudhu, sunnah Taubat, dan sunnah Hajat, kata UAS, bisa melaksanakan Tahajud dengan catatan surat pendeknya dibaca bervariatif, jika mengerjakannya melebihi dua rakaat atau delapan rakaat.
(hap)