news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Bisakah Tanda-tanda Lailatul Qadar Terlihat?.
Sumber :
  • freepik/GarryKillian

Bisakah Tanda-tanda Lailatul Qadar Terlihat?

Salah satu yang paling nanti dan ditunggu oleh umat muslim di bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar.
Rabu, 20 April 2022 - 19:41 WIB
Reporter:
Editor :

Salah satu yang paling nanti dan ditunggu oleh umat muslim di bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar. Lailatul Qadar merupakan satu malam yang disebut sebagai malam lebih baik dari seribu bulan.

Banyak umat muslim yang berlomba-lomba meraih Lailatul Qadar dengan banyak beribadah malam dan itikaf.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Mujahid mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan, yaitu untuk amalan, puasa, dan shalat malam yang dilakukan ketika itu lebih baik dari seribu bulan.

Banyak pertanyaan dari umat muslim mengenani tanda-tanda malam Lailatul Qadar. Apakah tanda-tandanya dapat terlihat dengan mata telanjang? Bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar padahal tidak melihat tandanya?

Dikutip dari muslim.or.idm dalam kitab Al Muhalla, Ibnu Hazm Al Andalusi berkata:

ليلة القدر واحدة في العام في كل عام، في شهر رمضان خاصة، في العشر الاواخر خاصة، في ليلة واحدة بعينها لا تنتقل أبدا إلا انه لا يدرى أحد من الناس أي ليلة هي من العشر المذكور؟ إلا انها في وتر منه ولا بد،

Lailatul Qadar itu ada hanya sekali dalam setahun, dan hanya khusus terdapat di bulan Ramadhan serta hanya ada di sepuluh malam terakhirnya, tepatnya hanya satu hari saja dan tidak akan pernah berpindah harinya. 

Namun, tidak ada satu orang manusia pun yang tahu lailatul qadar jatuh di malam yang mana dari sepuluh malam tersebut. Yang diketahui hanyalah bahwa ia jatuh di malam ganjil.

Namun, terkadang lailatul qadar itu bisa dilihat tandanya bagi orang yang diberi taufik oleh Allah SWT untuk melihat tandanya. Dahulu para sahabat radhiallahu anhum juga berdalil dengan beberapa jenis tanda. 
 
Meski begitu, bagi umat muslim yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dan tidak melihat tanda apapun, bukan berarti tidak akan mendapatkan keutamaannya.
 
Jika seseorang mengisi malam lailatul qadar dengan ibadah karena iman dan mengharap pahala  ia akan mendapatkan ganjarannya, walaupun ketika itu ia tidak mengetahui. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam di malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain:
من قامها ابتغاءها ثم وقعت له غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam di malam lailatul qadar dan berharap mendapatkannya, akan diberikan padanya ampunan dosa yang telah lalu dan akan datang”

Dikutip dari nu online, beberapa ulama misalnya Imam Ibn Jarir at Thabary (w. 310 H), dan Syekh Ibnul Araby (w. 543 H), sebagaimana dikutip al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalany (w. 852 H) berpendapat bahwa mendapatkan Lailatul Qadar tidak harus merasakan dan menjumpai fenomena ajaib. 
 
Orang yang Qiyam Ramadan dan tidak merasakan sentuhan malaikat, misalnya, tetap memperoleh anugerah Lailatul Qadar, walaupun tidak sesempurna umat yang merasakannya.
 
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalany (Kitab Fathul Bary Syarah Shahih al-Bukhari, juz 5 halaman 231, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah) menyebutkan perbedaan pendapat para ulama mengenai Lailatul Qadar yang mempunyai tanda pengenal atau pun tidak.

Namun, pada umumnya ulama menyatakan Lailatul Qadar itu memiliki tanda yang dapat dikenali. Ulama yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar itu mempunyai tanda pengenal menyebutkan beberapa tanda, yaitu:
 

  • Terlihat segala sesuatu dalam keadaan bersujud
  • Pancaran cahaya di setiap tempat hingga tempat yang gelap
  • Terdengar ada salam atau komunikasi dari malaikat
  • Doa yang terkabulkan,

 
Selain itu, disebutkan juga para malaikat akan datang bergelombang dan mengucapkan salam pada kaum muslimin yang taat, dari permulaan malam hingga terbitnya fajar. Malaikat Jibril pun akan menyalami tiap kaum muslimin, tanpa ada yang ketinggalan.
 
Syekh Fakhruddin ar-Razy seorang ulama pakar tafsir yang wafat pada 606 Hijriah (Tafsir al-Kabir, juz 11, halaman 234, cetakan Dar Ihya Turats Arabi) menyebutkan tanda bahwa Jibril menyalami kalangan yang taat, yaitu kulit merinding, hati menjadi lembut, dan air mata menetes. 

Sementara itu, Imam Ibn Jarir At-Thabary menyatakan, "keseluruhan tanda itu bukan sesuatu yang pasti terjadi, dan untuk disebut telah berhasil mencapai Lailatul Qadar itu tidak dipersyaratkan harus melihat dan mendengar sesuatu." 

Lanjutannya, Imam at-Thabary menyatakan bahwa tanpa melihat tanda lailatul Qadar pun manusia yang beribadah di malam Lailatul Qadar tetap memperoleh pahala keutamaan Lailatul Qadar.

Kiai Ahmad Asymuni Petok Kediri (w. 1442 H) dalam kitab "Tafsir al-Qadr" mengutip pernyataan berikut,

 ويحصُل فضلُها لِمن أحْياها وإِنْ لم يشعُر بها، ونفْيُه محمولٌ على نفْي الكمالِ، ومَن صلّى العشاءَ في جماعةٍ فقدْ أخذَ حظَّه مِنها 

"Keutamaan Lailatul Qadar telah tergapai bagi sesiapa yang menghidupkannya, walaupun ia tidak merasakannya. Penegasian capaian itu diarahkan pada ketiadaan kesempurnaan pencapaian. Sesiapa yang shalat Isya berjamaah, maka sungguh ia telah memperoleh bagian (keutamaan) Lailatul Qadar."

Syekh Muhammad Nawawi Banten yang wafat pada 1314 Hijriah (Kitab Nihayatuz Zain, Surabaya, al-Hidayah, halaman 198) ketika menyebutkan menghidupkan lailatul qadar menyebut ada ada tiga strata
 
 وَمَرَاتِبُ إِحْيَائِهَا ثَلَاثَةٌ عُلْيَا وَهِيَ إِحْيَاءُ لَيْلَتِهَا بِالصَّلَاةِ وَوُسْطَى وَهِيَ إِحَيَاءُ مُعْظَمِهَا بِالذِّكْرِ وَدُنْيَا وَهِيَ أَنْ يُصَلِّيَ الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ وَالصُّبْحِ فِي جَمَاعَةٍ 

“Tingkatan menghidupkan lailatul qadar ada tiga. Yang tertinggi adalah menghidupkan lailatul qadar dengan shalat. Sedang tingkatan yang sedang adalah menghidupkan lailatul qadar dengan zikir. Tingkatan terendah adalah menjalankan shalat Isya dan Subuh berjamaah." 

Senada, tentang kaum muslimin yang beribadah pada Lailatul Qadar tapi belum merasai suatu fenomena khusus, Syekh Nawawi menyatakan,

  ويَنال العامِل فضلَها وإِنْ لمْ يطلّع عليهَا عَلى المُعتمد 

Artinya, "Yang beribadah pada malam lailatul qadar tetap memperoleh keutamaannya, walaupun tidak melihatnya, menurut pendapat yang muktamad." 

Kesimpulannya, secara garis besar tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan malam Lailatul Qadar datangnya. Namun, bagi umat muslim yang beribadah dengan sungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan tidak mungkin dirinya akan mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar walaupun tidak melihat tanda-tanda kedatangannya.

Selain itu, dirinya akan tetap menjadi orang yang beruntung yang mendapatkan janji Allah yang diberikan kepada orang yang menghidupkan malam itu karena iman dan mengharap pahala.(awy)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:04
08:56
05:38
05:22
01:07
01:04

Viral