- Ilustrasi AI
Amalan Paling Utama Sebelum Adzan Subuh: Pesan Syekh Ali Jaber tentang Istighfar di Waktu Sahur
tvOnenews.com - Waktu menjelang subuh adalah salah satu momen paling istimewa dalam kehidupan seorang Muslim.
Saat kebanyakan manusia masih terlelap, Allah SWT membuka pintu rahmat, ampunan, dan keberkahan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang bangun untuk bermunajat.
Tak heran jika banyak ulama menekankan pentingnya memanfaatkan detik-detik sebelum adzan subuh dengan amalan terbaik.
Dalam sebuah penjelasan yang disampaikan oleh almarhum Syekh Ali Jaber, beliau mengungkapkan amalan-amalan utama yang dapat mendatangkan rezeki sekaligus keberkahan hidup, khususnya yang dilakukan sebelum masuk waktu subuh.
- freepik
Empat Amalan Pembuka Rezeki
Syekh Ali Jaber menjelaskan bahwa ada empat amalan utama yang menjadi sebab datangnya rezeki dari Allah SWT.
Keempat amalan tersebut bukanlah perkara yang asing dalam ajaran Islam, namun sering kali kurang diamalkan secara konsisten.
Empat amalan itu adalah shalat malam, istighfar, sedekah, dan dzikir.
Semuanya memiliki keutamaan besar dan saling melengkapi dalam membentuk kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.
Namun, dari keempat amalan tersebut, Syekh Ali Jaber menekankan bahwa ada satu amalan yang memiliki keistimewaan tersendiri ketika dilakukan di waktu sahur, yakni memperbanyak istighfar.
- iStockPhoto
Keutamaan Istighfar di Waktu Sahur
Waktu sahur yang dimaksud oleh Syekh Ali Jaber bukan hanya sebatas waktu makan sebelum puasa, tetapi waktu khusus menjelang subuh yang sangat bernilai di sisi Allah SWT.
"Kalau Anda tidak shalat malam, jangan tinggalkan istigfar waktu sahur," kata Syekh Ali Jaber.
Menurutnya, waktu sahur berkisar sekitar 30 menit sebelum adzan subuh.
Para ulama menggambarkan durasi waktu ini setara dengan waktu membaca sekitar 50 ayat Al-Quran, atau kurang lebih setengah jam sebelum masuknya waktu subuh.
Inilah waktu yang disebut sebagai saat terbaik untuk memohon ampun kepada Allah SWT.
Para ulama bahkan menegaskan bahwa tidak ada ibadah yang lebih utama di waktu sahur selain istighfar.
"Jadi boleh shalat malam, boleh dzikir, boleh melakukan ibadah apapun, tapi yang terbaik istigfar," ucap Syekh Ali Jaber.
Fokus pada Istighfar, Tinggalkan Amalan Lainnya
Penekanan Syekh Ali Jaber mengenai istighfar di waktu sahur begitu kuat. Beliau menjelaskan bahwa pada waktu tersebut, seorang Muslim dianjurkan untuk benar-benar memfokuskan diri pada permohonan ampun kepada Allah SWT.
"Jadi tinggalkan semuanya. Tinggalkan baca Quran, tinggalkan shalat malam, tinggalkan dzikir, fokus hanya istigfar," lanjutnya.
Bukan berarti amalan-amalan tersebut tidak penting, namun pada waktu sahur, istighfar memiliki kedudukan yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah SWT.
Inilah saat di mana hati ditundukkan sepenuhnya, kesombongan dilepaskan, dan seorang hamba mengakui kelemahannya di hadapan Sang Pencipta.
Bacaan Istighfar yang Dianjurkan
Syekh Ali Jaber juga menjelaskan bahwa bacaan istighfar yang diamalkan tidak harus panjang dan sulit.
Istighfar yang singkat pun sudah memiliki nilai yang besar jika dibaca dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Istighfar pendek yang bisa dibaca adalah:
Astaghfirullah wa atubu ilaih
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan membaca istighfar yang lebih panjang dan dikenal sebagai sayyidul istighfar, yang memiliki keutamaan luar biasa.
Keutamaan sayyidul istighfar dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Syaddad bin Aus radiyallahu ‘anhu:
"Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga."
"Barangsiapa yang membaca sayyidul istigfar di malam hari dengan keyakinan, kemudian dia meninggal setelah membaca, akan masuk surga."
Mendengar keutamaan tersebut, Syekh Ali Jaber menegaskan betapa agungnya doa ini dalam kehidupan seorang Muslim.
"Berarti ini salah satu doa yang menjaminkan dengan mudah masuk surga," ucap Syekh Ali Jaber.
Bacaan doa sayyidul istighfar:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Allah umma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.
Artinya:
Ya Allah , Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Dan aku atas tanggungan dan janji-Mu selama aku masih mampu.
Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat yang Kau berikan kepadaku.
Aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.
(gwn)