- Pexels/Furkan Furkan_Uslu57
Kenapa saat Shalat Jumat Adzan Dikumandangkan 2 Kali, Ada Dalilnya? Ustaz Adi Hidayat Ungkap Sejarahnya
tvOnenews.com - Bagi sebagian umat Islam mungkin muncul pertanyaan saat menghadiri shalat Jumat, mengapa adzan Jumat dikumandangkan dua kali?
Bukankah pada masa Rasulullah SAW adzan hanya sekali? Apakah praktik dua kali adzan ini benar-benar memiliki dasar, atau sekadar tradisi yang terus berulang?
Pertanyaan ini wajar muncul, terlebih di era sekarang ketika teknologi sudah sangat maju.
Suara adzan bisa terdengar hingga jauh melalui pengeras suara, bahkan pengingat waktu shalat sudah ada di genggaman melalui ponsel.
Menjawab kebingungan tersebut, Ustaz Adi Hidayat memberikan penjelasan panjang dan sistematis, mulai dari sejarah, hikmah, hingga kaidah fikih yang melatarbelakanginya.
- Antara
Sejarah Munculnya Dua Kali Adzan Jumat
Ustaz Adi Hidayat menegaskan sejak awal bahwa dua kali adzan Jumat bukan praktik di masa Nabi Muhammad SAW. Hal ini juga tidak dilakukan pada masa dua khalifah pertama.
“Bagaimana kalau shalatnya adzannya dua kali? Dari mana adanya dua kali itu? Muncul kisahnya di masa Utsman bin Affan. Jadi zaman Nabi SAW tidak ada, zaman Abu Bakar tidak ada, zamannya Umar tidak ada, zamannya Utsman bin Affan, itu kemudian muncul persoalan ini,” terang Ustaz Adi Hidayat.
Artinya, praktik dua kali adzan bukan bid’ah tanpa dasar, tetapi lahir dari kebutuhan umat pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Jamaah Bertambah, Masjid Terbatas
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa pada masa Khalifah Utsman, jumlah umat Islam berkembang sangat pesat.
Wilayah Islam meluas, penduduk bertambah, sementara fasilitas masjid dan sarana komunikasi sangat terbatas.
“Jamaahnya semakin meluas, umat Islam membeludak yang masuk Islam, masjidnya terbatas, di antara keterbatasannya tidak memiliki sound system seperti canggihnya saat ini,” terang Ustaz Adi Hidayat.
Pada masa itu, tidak ada pengeras suara, tidak ada alarm, dan tidak ada media pengingat selain suara muadzin.
Padahal, banyak umat Islam yang masih berada di ladang, sawah, atau tempat kerja yang jauh dari masjid.