- Pexels/Mohammed Alim
Jarang Shalat tapi Matinya Bisa Mulia, Apa Amalannya? Begini Penjelasan Buya Yahya
“Tidak bisa orang berkata, yang penting hablum minannas baik, urusan Allah nanti gampang. Tidak bisa!” tegas Buya Yahya.
Kebaikan sosial bisa menjadi jalan datangnya hidayah dan tobat, tetapi tetap tidak menggugurkan kewajiban shalat dan ibadah lainnya.
Jangan Jadikan Kisah Orang Lain sebagai Pembenaran Dosa
Buya Yahya dengan tegas memperingatkan agar kisah-kisah husnul khatimah tidak dijadikan alasan untuk menunda taat atau merasa aman dalam kemaksiatan.
“Siapa yang bisa memastikan kapan Anda mati? Siapa yang menjamin Anda mati dalam keadaan shalat?” kata Buya Yahya.
Ia menyebut anggapan seperti “nanti tobat di akhir” sebagai khayalan yang berbahaya.
Justru ketidakpastian kematian seharusnya membuat seseorang semakin takut bermaksiat dan semakin istiqamah dalam kebaikan.
“Yang sudah berbuat baik tidak mau berhenti melakukan kebaikan, yang masih bermaksiat harus segera berhenti,” terang Buya Yahya.
Tidak Boleh Menghakimi Kematian Orang Lain
Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menilai kematian seseorang sebagai husnul atau suul khatimah. Itu bukan wilayah manusia.
“Ilmu husnul khatimah dan suul khatimah itu ilmu untuk menilai diri sendiri, bukan untuk menilai orang lain,” ujar Buya Yahya.
Bahkan jika seseorang wafat di tempat atau kondisi yang tampak buruk, umat Islam tetap diwajibkan berprasangka baik dan menyerahkan urusannya kepada Allah.
“Sudahlah, urusan orang yang meninggal itu dengan Allah. Kita doakan semoga Allah mengampuni,” jelasnya.
Fokus Memperbaiki Diri, Bukan Berspekulasi
Dari penjelasan Buya Yahya, jelas bahwa kematian yang mulia adalah karunia Allah, bukan sesuatu yang bisa direncanakan atau dipastikan.
Kisah orang yang jarang shalat namun wafat dengan baik bukan untuk ditiru perilaku buruknya, melainkan menjadi pelajaran agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Alih-alih sibuk menilai akhir hidup orang lain, Buya Yahya mengajak setiap Muslim untuk memperbaiki shalat, menjaga amal, dan terus berharap husnul khatimah dengan disertai usaha nyata dalam kehidupan sehari-hari. (gwn)