- Pexels/Furkan Furkan_Uslu57
Teks Khutbah Jumat 20 Maret 2026: Enam Kekeliruan yang Sering Terjadi saat Merayakan Idul Fitri
tvOnenews.com - Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, suasana kebahagiaan mulai terasa di tengah umat Islam.
Hari Raya Idul Fitri yang dinanti-nantikan menjadi momen penuh suka cita setelah sebulan menjalani ibadah puasa.
Namun, di balik kegembiraan tersebut, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar perayaan tetap berada dalam koridor syariat.
Khutbah Jumat ini mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan hanya soal tradisi dan perayaan, tetapi juga momentum untuk menjaga kualitas keimanan yang telah dibangun selama Ramadhan.
Sayangnya, masih banyak kebiasaan yang keliru dan kerap dianggap wajar oleh sebagian masyarakat.
Berikut teks khutbah Jumat akhir Ramadhan 2026 dengan judul '6 Kekeliruan yang Sering Terjadi saat Merayakan Idul Fitri', dilansir dari laman muslim.or.id
- Antara
Khutbah pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى.
فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah, terutama di penghujung bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Ketakwaan tidak hanya diwujudkan dengan menjalankan kewajiban, tetapi juga dengan memperbanyak amalan sunnah serta menjauhi segala larangan-Nya.
Keberhasilan seorang Muslim dalam menjalani Ramadhan sangat ditentukan oleh keimanan dan keikhlasannya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 2014).
Ampunan tersebut menjadi tanda keberhasilan, namun hanya diberikan kepada mereka yang menjalankan ibadah dengan penuh keimanan dan harapan kepada Allah.
Sebentar lagi, umat Islam akan menyambut Idul Fitri, hari yang dipenuhi kebahagiaan. Namun, di balik suasana tersebut, syariat telah memberikan tuntunan yang jelas. Sayangnya, masih ada sejumlah kekeliruan yang sering terjadi.
Enam Kekeliruan dalam Merayakan Idul Fitri
1. Salah memahami makna Idul Fitri
Sebagian orang menganggap Idul Fitri berarti kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Padahal, secara bahasa, Idul Fitri berarti kembali berbuka, yaitu tidak lagi berpuasa.
Kesalahan pemahaman ini dapat menimbulkan keyakinan keliru bahwa semua dosa pasti diampuni, padahal tidak ada jaminan amal seseorang diterima.
2. Mengkhususkan ibadah di malam Idul Fitri tanpa dalil
Ada anggapan bahwa malam Idul Fitri harus diisi dengan ibadah khusus. Padahal, tidak ada dalil sahih yang mendukung hal ini. Hadis yang sering dijadikan dasar pun dinilai lemah:
من أحيا ليلة العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب
“Siapa yang menghidupkan malam ‘Ied, hatinya tidak akan mati saat banyak hati yang mati”
3. Mengkhususkan ziarah kubur di hari raya
Ziarah kubur memang dianjurkan dalam Islam, namun mengkhususkannya pada hari raya tidak memiliki dasar yang kuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pemakaman, dan janganlah kalian jadikan makamku sebagai ‘Ied (tempat perayaan)...” (HR. Abu Daud).
4. Melalaikan shalat karena begadang
Sebagian orang begadang di malam takbiran hingga meninggalkan salat Subuh atau berjamaah. Padahal Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَثْقَلَ صَلاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاةُ الْعِشَاءِ وَصَلاةُ الْفَجْرِ...
“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Fajar...” (HR. Muslim no. 651).
Dan juga:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
“Janji antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah kafir” (HR. Tirmizi no. 2621).
5. Terjadinya ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan)
Perayaan Idul Fitri sering diwarnai percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan tanpa batas. Padahal Allah berfirman:
ولا تقربوا الزنى إنه كان فاحشة وساء سبيلا
“Dan janganlah kamu mendekati zina, itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’: 32).
6. Wanita berhias berlebihan dan memakai wewangian di hadapan non-mahram
Hal ini juga termasuk pelanggaran yang sering dianggap biasa. Rasulullah bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Siapa saja wanita yang memakai wewangian, lalu melewati sebuah kaum agar mereka mencium wanginya, maka dia telah berzina” (HR. Nasa’i no. 5126).
Jamaah yang dirahmati Allah,
Idul Fitri adalah nikmat besar yang patut disyukuri. Oleh karena itu, merayakannya dengan cara yang bertentangan dengan syariat justru mengurangi makna syukur itu sendiri. Semoga kita termasuk hamba yang mampu merayakan hari kemenangan ini dengan tetap menjaga ketaatan kepada Allah.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
(gwn)