- iStockPhoto
Idul Fitri Sudah Berlalu, Boleh atau Tidak Puasa Syawal Tidak Berurutan? Buya Yahya Beri Penjelasannya
Jakarta, tvOnenews.com - Setelah Idul Fitri berlalu, semangat ibadah umat Muslim yang begitu kuat di bulan Ramadhan kerap kali menurun. Padahal konsistensi menjaga amal ibadah sangat penting, salah satu cara terbaiknya melaksanakan puasa Syawal.
Keutamaan dari puasa Syawal tercantum dalam beberapa redaksi hadis riwayat, salah satunya dari Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
Artinya: "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh." (HR. Muslim)
Dengan mengacu hadis riwayat ini, banyak yang bertanya-tanya terkait hukum puasa sunnah Syawal 6 hari tidak berurutan atau terpisah. Menyikapi kebingungan ini, Buya Yahya mendapat pertanyaan yang serupa dari jemaahnya dalam suatu ceramah.
"Yang kita tahu yaitu kita disunnahkan untuk puasa sunnah bulan Syawal dari tanggal 2-7 atau 6 hari berurutan. Kalau keutamaan kita puasa bulan Syawal, tapi tidak berurutan itu sama yang berurutan sama tidak di mata Allah?," tanya seorang jemaah kepada Buya Yahya dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Minggu (22/3/2026).
Waktu Pelaksanaan Puasa Syawal
- pexels
Mulanya, Buya Yahya menjelaskan waktu mengerjakan puasa Syawal. Ketentuan pelaksanaan ibadah sunnah ini harus berlangsung dari tanggal 2 hingga akhir Syawal.
"Puasa sunnah Syawal mulai boleh di hari kedua sampai akhir Syawal. Itu batas waktunya," ungkap Buya Yahya.
Ulama kharismatik asal Cirebon itu menjelaskan, alasan tidak boleh mengerjakan puasa sunnah di tanggal 1 Syawal. Menurutnya, hukum berpuasa di awal bulan ini adalah haram.
Kenapa tidak diperboleh puasa 1 Syawal? Hal ini berkaitan dengan momentum Hari Raya Idul Fitri sebagai tanda hari kemenangan dan hari makan-minum setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan.
Larangan berpuasa di tanggal 1 Syawal didasari pada hadis riwayat Nabi Muhammad SAW. Bagi orang mukmin yang mengerjakannya, maka potensi bertentangan dengan syariat hingga melanggar ketentuan dari Allah SWT.
"Kita berpuasa bukan dapat pahala malah dapat dosa. Aneh ya pahala puasa kok jadi haram, berarti memang kalau beribadah itu harus patuh kepada Allah. Anda tidak patut mengandalkan kekuatan saja," tegasnya.
Apakah Puasa Syawal 6 Hari Harus Berurutan?
Lebih lanjut, Buya Yahya menerangkan tentang pelaksanaan puasa Syawal yang populer. Dalam hadis riwayat, berpuasa selama enam hari di bulan ini merupakan bagian sunnah.
Bagi yang berpuasa enam hari, diyakini memperoleh keutamaan pahala setidaknya setara setahun penuh. Hal ini berkaitan dengan hadis riwayat Imam Muslim lainnya dari Abu Ayyub al-Ansari, begini bunyinya:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، - رضى الله عنه - أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ " مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ "
Artinya: Abu Ayyub al-Ansari melaporkan Rasulullah SAW bersabda, "Dia yang berpuasa selama Ramadhan dan melanjutkannya dengan enam hari puasa saat bulan Syawal akan seperti melakukan puasa terus-menerus." (HR. Muslim)
Menyikapi dari beberapa redaksi hadis riwayat, Buya Yahya memahami pada umumnya pelaksanaan puasa Syawal yang terbaik berlangsung enam hari berturut-turut.
Buya Yahya mengambil pemahaman dari Mazhab Imam Syafi'i. Pelaksanaan puasa Syawal tidak wajib sebanyak enam hari secara berturut-turut.
"Tidak harus tatabuk, enam itu tidak harus berurutan," lanjut dia.
Namun begitu, sebagian ulama, kata Buya Yahya, mereka mengatakan bagi yang terburu-buru melaksanakan puasa Syawal maka hukumnya bisa makruh.
"Kalau langsung Syawal takut dianggap wajib, itu ada sebagian ulama. Tapi, Mazhab kita tidak. Sebagian ulama itu langsung jangan tanggal 2 deh, nanti aja ada hari-hari akhir ke belakang karena khawatir dipikir wajib," imbuhnya.
Kendati demikian, pendakwah bernama asli KH Yahya Zainul Ma'arif itu menegaskan, puasa yang sudah dimulai sejak tanggal 2 Syawal terhitung bagian dari sunnah.
"Tapi itu tidak harus berurutan dari tanggal 1, 2, 3, 4, 5, 6, itu tidak harus," katanya.
Lebih lanjut, Buya Yahya menyikapi apabila ada yang bersikeras mengerjakan puasa enam hari secara berurutan. Ia tidak menghalangi tujuan tersebut karena di dalamnya mengandung kebaikan.
"Kebaikan ini memang hendaknya segera dilaksanakan. Sebab, kalau menunda-nunda nanti kalau sudah tahu boleh diundur nanti, nanti, eh Syawal hilang, itu bisa jadi. Makanya kalau cepat beres, Alhamdulillah ikut sunnah," jelasnya.
Bagaimana jika Baru Mulai Puasa di Pertengahan Bulan Syawal?
Buya Yahya memberikan contoh fenomena yang sering terjadi dialami sebagian umat Muslim. Kebanyakan mereka tidak mengerjakan ibadah puasa di awal Syawal karena masih menikmati momentum Lebaran.
Mereka lebih pilih baru mengerjakan ibadah puasa Syawal di pertengahan bulan, misalnya tanggal 12 dan seterusnya. Menurut Buya Yahya, mereka tetap mendapat keutamaan pahala dari ibadah sunnah ini.
Buya Yahya lebih menyarankan semakin cepat maka sangat baik. Sebab, kesempatan ibadah ini mengandung kebaikan yang hanya terjadi selama satu bulan, tepatnya terletak di bulan Syawal.
"Takut nanti tidak ada kesempatan lagi. Selagi Anda sehat, Anda puasa. Namun yang baik malah menjadi tidak baik, pokoknya jangan kebawa hahwa nafsu aja," pesannya.
Dengan penjelasan dari Buya Yahya, maka diperbolehkan mengerjakan puasa Syawal enam hari maupun lebih secara tidak berurutan. Namun bagi yang ingin mengikuti sunnah dan mendapat amal kebaikan, harus dikerjakan dari tanggal 2 dengan catatan tidak dibalut hawa nafsu.
(hap)