- Tim tvOne - Andri Prasetiyo
Tak Ingin Pakai Tanda Tangan Elektronik, Rektor UII Pilih ‘Wiridkan’ Doa pada 200 Ribu Ijazah Mahasiswa
tvOnenews.com - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid mengaku telah menandatangani 200.000 Ijazah dan Transkrip Nilai tanpa menggantikannya dengan tanda tangan elektronik.
Dihadapan para wisudawan, Fathul Wahid bercerita bahwa dirinya tak ingin menggantikan tanda tangan basahnya dengan tanda tangan elektronik untuk Ijazah para wisudawan.
Hal ini Fathul ungkapkan dalam acara Wisuda Doktor, Magister, Sarjana dan Diploma Periode IV tahun Akademik 2025/2026, pada Sabtu, (25/4/2026).
“Saya sudah tanda tangan Ijazah, Transkrip, dan Salinannya sekitar 200.000 lembar,” ungkap Fathul Wahid.
“Dan saya sampai hari ini tidak mau tanda tangan basah itu diganti dengan tanda tangan elektronik,” sambungnya.
- Tangkapan Layar YouTube Universitas Islam Indonesia
Bukan tanpa alasan, ia selalu melakukan hal tersebut selama 8 tahun kepemimpinannya sebagai Rektor lantaran ingin menyelipkan doa untuk setiap wisudawan.
“Alasannya sederhana. Justru ketika saya menandatangani itu, saya punya kesempatan untuk mewiridkan doa untuk setiap Ijazah, Transkrip yang saya tanda tangani,” ujarnya.
Menurutnya, Dosen sering kali mengucapkan selamat kepada mahasiswa yang sudah lulus, namun lupa untuk mendoakan mereka.
Dengan upaya menandatangani setiap Ijazah, ia selalu menyelipkan doa yang selalu dibaca setiap setelah shalat.
اللّٰهُمَّ سَهِّلْ لَهُمْ أُمُوْرَذُرِّيَّتِنَا وَأَصْحَابِنَا وَتَلَامِيْذِنَا وَأَشَادِلِنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Allahumma sahhil lahum umuura dzurriyyatina wa ash-habina wa talamidina wa ashadilina Fid-dunya wal-akhirah
Artinya: “Ya Allah, permudahlah bagi mereka urusan keturunan kami, sahabat-sahabat kami, murid-murid kami, dan pendidik kami di dunia maupun di akhirat.”
Acara wisuda pada kali ini akan menjadi yang terakhir dirinya menyelipkan wirid pada setiap ijazah mahasiswa.
Pasalnya, pada tanggal 1 Juni 2026 akan diadakan pergantian jabatan oleh Rektor yang baru, sehingga Fathul menceritakan hal ini dihadapan para wisudawan.