- freepik.com
Teks Khutbah Idul Adha 2026 Singkat: 3 Pesan di Balik Penyembelihan Kurban
Nabi Ibrahim berkata kepada putranya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi diperintahkan untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” Dengan penuh keimanan, Nabi Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ketika keduanya telah berserah diri kepada ketentuan Allah SWT, Nabi Ibrahim membawa Ismail ke suatu tempat untuk melaksanakan perintah tersebut. Nabi Ismail dibaringkan dengan penuh keteguhan dan keikhlasan untuk disembelih.
Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,
Namun atas rahmat dan kuasa Allah SWT, penyembelihan itu tidak jadi dilakukan. Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (108) سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”
Hadirin rahimakumullah,
Ibadah kurban yang dilakukan setiap tahun sejatinya mengandung banyak pelajaran hidup. Setidaknya ada tiga hikmah besar yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut.
Pelajaran pertama adalah tentang totalitas ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah harus berada di atas segalanya, termasuk kepada anak yang sangat dicintainya. Beliau mampu mengalahkan ego dan membuktikan ketulusan dalam menjalankan perintah Allah.
Sementara itu, Nabi Ismail AS memberikan teladan sebagai anak yang saleh, sabar, dan taat kepada kedua orang tua serta perintah Tuhannya. Sikap Nabi Ibrahim yang terlebih dahulu berdialog dengan putranya juga menjadi pelajaran penting bagi para orang tua agar mendidik anak dengan kelembutan, bukan paksaan.