- Unsplash/Vitaly Gariev
3 Kunci Rumah Tangga Harmonis Menurut Buya Yahya, Hindari Kebiasaan yang Bisa Merusak Keluarga
tvOnenews.com - Membangun rumah tangga yang harmonis merupakan impian setiap pasangan. Namun, keharmonisan tidak hadir begitu saja.
Dibutuhkan komitmen, kesabaran, serta kemampuan untuk saling menghargai agar hubungan suami istri tetap hangat dan penuh kebahagiaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, masalah rumah tangga sering kali muncul bukan karena persoalan besar, melainkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibiarkan berlarut-larut.
Mulai dari cara berbicara kepada pasangan, mengelola emosi, hingga kurangnya komunikasi yang berkualitas dapat memengaruhi suasana dalam keluarga.
Pengasuh LPD dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, pernah membagikan sejumlah nasihat tentang cara menciptakan rumah tangga yang adem ayem dan penuh kenyamanan.
Menurutnya, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan agar rumah tangga terasa seperti surga bagi seluruh anggota keluarga.
- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
1. Hindari Berkata Kasar kepada Pasangan
Salah satu hal yang paling penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah menjaga lisan.
Buya Yahya mengingatkan agar suami maupun istri tidak membiasakan diri berbicara kasar, mencaci, atau merendahkan pasangannya.
"Jangan biasa ngomong kasar, mencaci, merendahkan, pasangan," ujar Buya Yahya.
Menurutnya, ketika seseorang mulai terbiasa mengucapkan kata-kata kasar kepada pasangan, hal tersebut dapat menjadi awal dari berbagai konflik yang lebih besar.
"Kalau Anda mulai berani ngomong kasar, pasti Anda setannya," tambahnya.
Perkataan yang menyakitkan dapat meninggalkan luka emosional yang sulit disembuhkan. Karena itu, penting untuk tetap menjaga adab dan memilih kata-kata yang baik, bahkan ketika sedang menghadapi perbedaan pendapat.
2. Kelola Amarah dengan Cara yang Bijak
Selain menjaga ucapan, kemampuan mengendalikan emosi juga menjadi kunci penting dalam kehidupan rumah tangga.
Buya Yahya menegaskan bahwa marah merupakan hal yang manusiawi, tetapi harus dilakukan secara proporsional dan tidak berlebihan.
"Yang kedua jangan suka marah-marah yang tidak jelas. Marah boleh, tapi tapi ada waktunya dan dengan cara yang bijak," kata Buya Yahya.
Beliau mengingatkan agar seseorang tidak melampiaskan kemarahan secara sembarangan karena dapat merusak suasana keluarga.
"Tidak boleh marah ngawur, kalau ternyata kemarahan Anda sudah tidak stabil lagi, berarti Anda kena penyakit mental," ucap Buya Yahya.
"Pergi ke psikolog, jangan dibiarkan itu bahaya sekali. Jangan rusak anak Anda, jangan rusak keluarga Anda karena sakit mental. Atau Anda bukan sakit mental, tapi suka sakit hati dan suka marah-marah nggak jelas," sambungnya.
Menurut Buya Yahya, kemarahan yang tidak terkendali bukan hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan dan kondisi psikologis anak-anak di dalam keluarga.
Karena itu, jika seseorang merasa kesulitan mengendalikan emosi, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang bijak.
3. Ciptakan Keakraban dan Komunikasi yang Berkualitas
Kunci berikutnya yang tak kalah penting adalah membangun suasana akrab di dalam rumah.
Kesibukan dan berbagai distraksi sering membuat anggota keluarga berada dalam satu rumah, tetapi jarang berinteraksi secara mendalam.
Buya Yahya menyarankan agar keluarga meluangkan waktu untuk berbincang dan berkomunikasi tanpa gangguan yang tidak diperlukan.
"Yang ketiga, biasakan akrab di rumah. Televisi kalau nggak diperlukan jangan dinyalain, jadi kalau Anda diskusi ngobrol itu bisa maksimal," ucap Buya Yahya.
Komunikasi yang hangat dan intens dapat memperkuat hubungan antaranggota keluarga.
Momen sederhana seperti makan bersama, berbincang setelah beraktivitas, atau saling mendengarkan cerita satu sama lain dapat menciptakan kedekatan emosional yang lebih kuat.
Pada akhirnya, rumah tangga yang harmonis tidak dibangun dengan kemewahan atau fasilitas yang serba lengkap, melainkan dengan sikap saling menghormati, kemampuan mengendalikan emosi, serta komunikasi yang baik.
Tiga nasihat Buya Yahya tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kebahagiaan keluarga berawal dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. (gwn)