- Pexels/GEORGE DESIPRIS
Orang Meninggal karena Bencana Alam Apakah Termasuk Mati Syahid? Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad
tvOnenews.com - Bencana alam kerap datang secara tiba-tiba dan meninggalkan duka mendalam. Gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, hingga kebakaran dapat menyebabkan korban jiwa.
Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan di tengah masyarakat, apakah orang yang meninggal akibat bencana alam termasuk dalam golongan orang yang mati syahid?
Pertanyaan tersebut pernah dijelaskan oleh Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam salah satu kajiannya.
Menurut UAS, terdapat beberapa bentuk kematian yang memiliki keutamaan sebagai kematian syahid. Namun, ada hal penting yang juga perlu diperhatikan dalam memahami kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT.
Dilansir dari kanal YouTube Fodamara Media, Ustaz Abdul Somad menjelaskan sejumlah keadaan meninggal dunia yang disebut memiliki keutamaan syahid.
"Orang yang meninggal ketika melahirkan, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati kebakaran, syahid. Orang yang kecelakaan bencana, tertimpa gunung berapi, uap vulkanik, syahid," ujar Ustaz Abdul Somad.
Dari penjelasan tersebut, seseorang yang meninggal dunia akibat musibah atau bencana alam, seperti erupsi gunung berapi maupun tertimpa bangunan saat gempa, termasuk dalam keadaan yang disebut memiliki keutamaan syahid.
- Tangkapan layar YouTube Ustadz Abdul Somad Official
Ustaz Abdul Somad Jelaskan Pentingnya Niat
Meski demikian, Ustaz Abdul Somad mengingatkan bahwa persoalan syahid tidak semata-mata dilihat dari penyebab kematian secara lahiriah.
Beliau kemudian menyinggung pertanyaan yang sering muncul, yakni bagaimana cara membedakan seseorang meninggal dalam keadaan syahid atau tidak.
Menurut UAS, salah satu hal yang sangat penting adalah niat seseorang.
"Orang akan dibangkitkan sesuai niatnya," ujarnya.
Artinya, niat dan tujuan seseorang dalam menjalani aktivitas memiliki kedudukan yang penting. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk selalu menjaga niat baik dalam setiap langkah kehidupan.
UAS pun memberikan sebuah contoh seseorang yang melakukan perjalanan untuk tujuan baik.
"Misal ada tugas dari kampus untuk penelitian, dia berangkat dari rumah mengucapkan doa Bismillahi tawakkaltu alallah la haula wala quwwata illa billahil lliyil adzim, kemudian sampai ke Jogja kena debu panas, mati, mati syahid," jelasnya.
Dalam contoh tersebut, seseorang berangkat dengan tujuan yang baik dan mengawali perjalanannya dengan doa serta berserah diri kepada Allah SWT.
Niat Menjadi Hal Penting dalam Setiap Perbuatan
Sebaliknya, Ustaz Abdul Somad memberikan contoh berbeda mengenai seseorang yang melakukan perjalanan dengan niat buruk.
"Yang berangkat dari Pekanbaru mau selingkuh, mati juga, mati konyol. Sesuai dengan niatnya, niatnya mau apa," ucap UAS.
Penjelasan tersebut menegaskan pentingnya niat dalam setiap perbuatan. Sebab, seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang tampak secara lahiriah, tetapi juga dari tujuan yang ada di dalam hatinya.
Oleh karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk membiasakan diri meluruskan niat sebelum melakukan aktivitas, termasuk ketika hendak bepergian, bekerja, menuntut ilmu, maupun menjalankan kegiatan sehari-hari.
Biasakan Mengawali Aktivitas dengan Niat Baik
Menurut Ustaz Abdul Somad, menjaga niat baik seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap aktivitas dapat diawali dengan niat yang baik dan doa kepada Allah SWT.
Ustaz Abdul Somad juga mengingatkan agar seorang Muslim membiasakan diri memulai langkah dengan mengingat Allah.
"Makanya kita selalu disuruh niat baik, berangkat dari rumah, langkah dengan kaki kanan, Bismillahi tawakkaltu alallah la haula wala quwwata illa billahil lliyil adzim," tutupnya.
Dari penjelasan Ustaz Abdul Somad, meninggal akibat musibah atau bencana alam dapat termasuk dalam keadaan yang memiliki keutamaan syahid.
Namun, sebagai manusia, kita juga perlu memahami bahwa penilaian akhir atas seseorang merupakan hak Allah SWT.
Karena itu, pelajaran penting yang dapat diambil adalah selalu menjaga niat, memperbaiki tujuan dalam setiap aktivitas, serta memohon perlindungan kepada Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.
Dengan membiasakan niat baik dan mengawali aktivitas dengan doa, seorang Muslim diharapkan dapat menjalani kehidupan dengan tujuan yang lebih baik dan senantiasa berserah diri kepada Allah SWT. (gwn)