- Pexels/Thirdman
3 Waktu Terbaik Shalat Dhuha Menurut Ustaz Adi Hidayat, Salah Satunya Memudahkan Datangnya Rezeki
tvOnenews.com - Shalat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunah yang memiliki banyak keutamaan.
Selain menjadi bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT, shalat yang dikerjakan pada pagi hari ini juga memiliki sejumlah keistimewaan bagi umat Islam yang rutin melaksanakannya.
Meski dapat dikerjakan sejak matahari mulai naik hingga menjelang waktu Dzuhur, ternyata ada pembagian waktu yang perlu diperhatikan agar umat Islam dapat mengetahui kapan waktu terbaik untuk menunaikan shalat Dhuha.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa waktu shalat Dhuha dimulai sejak matahari terbit dan mulai naik atau yang dikenal dengan istilah waktu syuruq.
Namun, terdapat beberapa pembagian waktu Dhuha dengan keutamaan masing-masing.
Dalam penjelasannya, Ustaz Adi Hidayat menyebutkan bahwa waktu shalat Dhuha terbagi menjadi tiga, yakni awal Dhuha, pertengahan Dhuha, dan akhir Dhuha.
- YouTube/Adi Hidayat Official
1. Awal Dhuha atau Waktu Syuruq
Waktu pertama untuk melaksanakan shalat Dhuha adalah pada awal pagi, setelah matahari terbit dan mulai naik sekitar satu tombak.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa waktu tersebut dikenal sebagai syuruq dan menjadi awal masuknya waktu Dhuha.
"Sholat Dhuha itu pertama waktunya dulu. Waktunya dimulai sejak waktu syuruq. Syuruq itu awal Dhuha," jelas Ustaz Adi Hidayat.
Jika dikonversikan ke waktu sekarang, awal Dhuha umumnya dapat diperkirakan sekitar satu jam setelah matahari terbit.
Namun, waktunya bisa berbeda-beda bergantung pada lokasi dan waktu terbit matahari.
Pada waktu ini, umat Islam juga dianjurkan mengerjakan shalat syuruq. Salah satu keutamaannya adalah memperoleh pahala yang senilai dengan ibadah haji dan umrah apabila dilakukan sesuai dengan tuntunan hadis.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa amalan tersebut berkaitan dengan kebiasaan seseorang yang menunaikan shalat Subuh berjamaah, kemudian tetap duduk untuk berzikir hingga matahari terbit dan dilanjutkan dengan shalat dua rakaat.
Ia juga mengingatkan bahwa perempuan yang memiliki alasan syar'i sehingga tidak memungkinkan melaksanakan shalat berjamaah di masjid tetap dapat mengerjakan amalan tersebut di rumah.
2. Pertengahan Dhuha
Waktu kedua adalah pertengahan Dhuha. Menurut Ustaz Adi Hidayat, waktu ini berlangsung ketika matahari semakin naik, yakni sekitar pukul 07.30 hingga 10.30 WIB sebagai perkiraan umum.
Pada waktu tersebut, umat Islam dapat melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua hingga empat rakaat.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa shalat Dhuha pada pertengahan waktu memiliki keutamaan tersendiri, salah satunya menjadi bentuk sedekah bagi seluruh anggota tubuh.
Hal ini berkaitan dengan anjuran untuk senantiasa menggunakan seluruh anggota tubuh dalam kebaikan dan mengingat Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa mata, telinga, pikiran, hingga anggota tubuh lainnya seharusnya digunakan sesuai dengan hal-hal yang diridai Allah SWT.
"Kalau awal Dhuha, bilangannya dua rakaat, kalau pertengahan Dhuha, bisa sampai empat, umumnya ya. Manfaatnya banyak, itu yang dimaksudkan mengganti zikir dari seluruh tubuh," kata Ustaz Adi Hidayat.
Dengan demikian, shalat Dhuha menjadi salah satu amalan yang dapat menggantikan kewajiban bersedekah atas persendian tubuh setiap harinya.
Selain itu, Ustaz Adi Hidayat juga menyebutkan bahwa konsistensi menjalankan ibadah dapat menjadi salah satu ikhtiar memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai musibah yang bersifat umum.
3. Akhir Dhuha Menjelang Dzuhur
Waktu ketiga adalah akhir Dhuha, yakni ketika matahari semakin mendekati posisi sebelum masuk waktu Zuhur.
Dalam penjelasannya, Ustaz Adi Hidayat menyebutkan bahwa waktu ini dapat dimulai sekitar pukul 10.30 hingga menjelang Dzuhur.
Pada waktu tersebut, shalat Dhuha dapat dikerjakan sebanyak dua hingga delapan rakaat.
"Yang ketiga akhir Dhuha, akhir-akhir itu sampai menjelang Dzuhur," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa salah satu keutamaan mengerjakan shalat Dhuha pada waktu tersebut adalah menjadi ikhtiar untuk memohon kelapangan rezeki kepada Allah SWT.
Namun, rezeki yang dimaksud tidak selalu berkaitan dengan uang atau materi. Kesehatan, ketenangan hati, serta kemudahan menjalani kehidupan juga merupakan bentuk rezeki yang patut disyukuri.
Ustaz Adi Hidayat mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan rezeki sebagai satu-satunya alasan untuk melaksanakan shalat Dhuha.
Menurutnya, ibadah sebaiknya dilakukan dengan niat mengharap rida Allah SWT, sedangkan urusan rezeki diserahkan kepada-Nya. (gwn)