- Pexels/Thirdman
Waktu Terbaik Shalat Dhuha Jam Berapa? Ini Penjelasan Buya Yahya
tvOnenews.com - Pagi hari menjadi salah satu waktu yang bisa dimanfaatkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah sunnah.
Salah satunya dengan mengerjakan shalat dhuha, amalan yang dikenal memiliki keutamaan besar dan menjadi salah satu bentuk ikhtiar seorang hamba dalam memohon keberkahan kepada Allah SWT.
Meski bisa dilakukan sepanjang pagi hingga sebelum masuk waktu dzuhur, ternyata ada waktu tertentu yang lebih dianjurkan untuk mengerjakan sholat dhuha.
Hal ini dijelaskan oleh pendakwah Buya Yahya dalam salah satu kajiannya.
Menurut Buya Yahya, umat Islam tidak perlu terburu-buru mengerjakan shalat dhuha sesaat setelah matahari muncul.
Sebab, ada ketentuan waktu yang perlu diperhatikan agar ibadah tersebut dilaksanakan pada waktunya.
Dalam ceramah yang diunggah melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV pada 30 November 2018, Buya Yahya menjelaskan bahwa shalat dhuha baru bisa dikerjakan setelah matahari meninggi.
Salah satu perkiraannya adalah sekitar 10 menit setelah matahari terbit.
"Setelah matahari terbit, tunggu sejenak sampai antara matahari dan tanah diperkirakan jaraknya satu tombak. Itu hanya perkiraan saja," ucap Buya Yahya.
Namun, apabila ingin mengerjakan shalat dhuha pada waktu yang lebih utama, ada baiknya menunggu hingga matahari mulai terasa panas.
- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
Matahari Mulai Panas Jadi Penanda Waktu Utama
Buya Yahya menyebutkan bahwa waktu paling utama untuk melaksanakan shalat dhuha adalah ketika pagi mulai beranjak menuju siang dan panas matahari mulai terasa.
"Waktu paling utama sholat dhuha itu dilakukan waktu mulai panas," kata Buya Yahya.
Ia juga memberikan gambaran bahwa waktu tersebut berada sekitar seperempat siang, atau kurang lebih tiga jam setelah matahari terbit.
"Itu adalah waktu paling bagus kalau ingin melakukan shalat dhuha," ucap Buya Yahya.
"Setelah matahari meninggi dan mulai memanas. Itu waktu paling utama sholat dhuha," lanjutnya.
Jika mengacu pada perkiraan tersebut, sekitar pukul 09.00 pagi bisa menjadi gambaran waktu untuk mengerjakan shalat dhuha.
Meski begitu, waktu pastinya dapat berbeda bergantung pada waktu matahari terbit di setiap wilayah.
Shalat Dhuha, Amalan untuk Hamba yang Senantiasa Kembali kepada Allah
Dalam kajiannya, Buya Yahya juga menjelaskan bahwa shalat dhuha dikenal dengan sebutan shalat awwabin.
Awwabin merupakan istilah yang menggambarkan orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah SWT, termasuk melalui taubat dan memperbanyak ibadah.
Karena itu, shalat dhuha tidak semestinya hanya dipandang sebagai amalan untuk meminta kelancaran rezeki.
Ibadah ini juga menjadi salah satu bentuk kerinduan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Buya Yahya turut menjelaskan adanya pendapat lain mengenai istilah shalat awwabin, yakni sholat sunnah yang dikerjakan beberapa rakaat setelah maghrib.
Namun, dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa penyebutan shalat awwabin juga merujuk pada shalat dhuha sebagaimana keterangan yang berasal dari Nabi Muhammad SAW.
Untuk memudahkan pemahaman mengenai waktu utamanya, Buya Yahya memberikan perumpamaan anak unta yang dijemur di bawah sinar matahari.
Ketika bagian pundak anak unta mulai terasa hangat, kondisi tersebut menjadi gambaran waktu yang lebih baik untuk mengerjakan shalat dhuha.
"Jadi anak onta itu kan di jemur, kalau sudah mulai jam 9 kelihatan pundaknya hangat. Itulah waktunya sholat dhuha yang lebih bagus," kata Buya Yahya.
Melalui penjelasan tersebut, umat Islam diingatkan bahwa memilih waktu yang tepat juga menjadi bagian dari perhatian dalam menjalankan ibadah.
Shalat dhuha dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal sunnah, memohon keberkahan, sekaligus menjaga kedekatan dengan Allah SWT di tengah aktivitas sehari-hari. (gwn)