- Istimewa
205 Atlet Bertarung Sengit, Kejurnas ORADO 2026 Kian Dekati Babak Penentuan
Pertandingan di fase tersebut menggunakan sistem gugur yang mempertemukan tim dengan performa terbaik. Setiap pertandingan berlangsung ketat dan penuh perhitungan, mengingat satu kesalahan kecil bisa berujung eliminasi.
Sementara itu, pada kategori junior, persaingan juga tidak kalah menarik. Delapan tim dari berbagai provinsi seperti Sumatera Selatan A (Sumsel A), Jawa Barat A (Jabar A), Sulawesi Selatan, Jambi, Sumatera Selatan B (Sumsel B), Papua Barat Daya, Jawa Timur B (Jatim B), dan Kalimantan Selatan berhasil melangkah ke babak delapan besar.
Ketua Umum PB ORADO, Yooky Tjahrial, menilai dinamika pertandingan di hari kedua mencerminkan hasil nyata dari pembinaan yang berjalan. Ia menyebut bahwa kualitas atlet yang tampil merupakan buah dari proses panjang di daerah.
“Yang kita lihat hari ini bukan sekadar pertandingan, tetapi hasil dari proses panjang pembinaan di daerah. Dengan keterlibatan 38 provinsi dan ratusan pengurus cabang, kita mulai melihat lahirnya atlet-atlet yang memiliki kualitas dan daya saing. Ini menjadi bukti bahwa domino bisa berdiri sebagai olahraga strategi yang profesional,” kata Yooky.
Ia juga menegaskan bahwa Kejurnas ORADO menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju pengakuan domino sebagai cabang olahraga resmi. Menurutnya, ajang ini baru merupakan langkah awal dalam membangun ekosistem yang lebih besar.
“Kita sedang membangun ekosistem. Kejurnas ini bukan akhir, tetapi awal untuk menuju pengakuan yang lebih luas, termasuk menjadi bagian dari KONI. Semangat ‘memintarkan Indonesia’ kita wujudkan melalui olahraga yang mengedepankan kecerdasan dan strategi,” katanya.
Ketua Harian PB ORADO, Giri Bayu Kusumah, turut menyoroti pentingnya konsistensi dalam pelaksanaan teknis pertandingan. Ia menilai hal tersebut menjadi kunci agar kualitas kompetisi tetap terjaga dengan baik.
“Seluruh tahapan pertandingan di hari kedua berjalan sesuai sistem yang telah disiapkan. Konsistensi dalam penerapan aturan menjadi kunci agar pertandingan berlangsung adil, kompetitif, dan menjunjung tinggi sportivitas,” ujar Giri.
Ia menambahkan bahwa semakin ketatnya persaingan di fase gugur menjadi indikator kesiapan atlet dari berbagai daerah. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan selama ini mulai membuahkan hasil.