- Red Sparks
Red Sparks Ternyata Klub yang Terlibat Skandal Pelecehan Seksual oleh Staf Pelatih, Media Korea Bongkar Faktanya
Jakarta, tvOnenews.com - Red Sparks ternyata menjadi klub yang terlibat skandal pelecehan seksual oleh staf pelatih. Walau bukan oleh pelatih utama, Ko Hee-jin, namun sikapnya menjadi sorotan pecinta voli Korea.
Liga Voli Korea digemparkan dengan skandal pelecehan seksual yang tengah diinvestigasi oleh Pusat Etika Olahraga di bawah Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan.
Menantikan hasil investigasi, puzzle pun perlahan terkumpul dengan klub yang terseret skandal tersebut. Adalah Red Sparks, klub yang pernah dibela Megawati Hangestri menjadi klub yang menaungi staf pelatih yang melakukan pelecehan pada atlet putri.
Dilansir dari laman Sport World, skandal tersebut terjadi pada Januari lalu, di mana Liga Voli Korea tengah jeda All Stars.
Red Sparks berkumpul dengan sepenuhnya diisi oleh tim, tanpa pihak dari manajemen klub karena diadakan untuk meningkatkan kekompakan tim.
"Menurut bukti yang dikumpulkan, insiden pelecehan seksual terjadi pada pertemuan kedua setelah makan, di mana staf pelatih dan pemain duduk di tempat yang sama," tulis laporan tersebut dikutip Kamis (16/7/2026).
Saat itu, pelatih Red Sparks, Ko Hee-jin turut hadir dan bahkan ada di meja kejadian pelecehan seksual terjadi.
"Pelatih A melakukan pelecehan seksual terhadap pemain B, pemain yang tak bisa berkutik tersebut kebingungan dan mencoba untuk melepaskan diri dan menjauh, namun tak berhasil," tulis laporan itu.
Dari hasil investigasi Sports World, kejadian tersebut tak langsung dibongkar dengan para pemain yang tetap diam dan orang tua korban yang akhirnya melapor.
Setelah cukup mengumpulkan bukti, media Korea Selatan itu kemudian melakukan verifikasi fakta pada klub Red Spark.
Sayangnya, tim tidak mengetahui kejadian tersebut. Di sisi lain, pelatih A dilaporkan akan mengundurkan diri dari klub.
"Keesokan harinya pelatih tersebut mengunjungi tempat latihan di Daejeon dan secara resmi meminta maaf pada pemain dan meninggalkan tim," tulis laporan itu.
Manajemen klub akhirnya mengakui insiden tersebut dan mengambil tindakan seusai. Klub kemudian melaporkan kejadian tersebut pada KOVO dan Pusat Etika Olahraga, serta memisahkan pemain dan pelatih.