- tvOnenews.com/Ilham Giovani Pratama
Mulai Diterapkan di Indonesia Masters 2026, Ini Respons Fajar/Fikri soal Time Clock 25 Detik dari BWF
Jakarta, tvOnenews.com - Pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, memberikan respons soal aturan time clock 25 detik yang mulai diterapkan di Indonesia Masters 2026.
Sejauh ini, pasangan ganda putra Indonesia itu mengaku belum merasakan pengaruh besar pada aturan tersebut.
- tvOnenews.com/Ilham Giovani Pratama
"Aturan yang 25 detik itu, tadi kayak belum berasa aja sih. Kayak tadi main kayak biasa aja sih, kayak normal-normalnya. Belum ada peringatan dari wasit. Jadi ya kita main seperti biasa aja sih tadi," ujar Fikri.
Senada dengan sang partner, Fajar Alfian juga mengatakan dirinya belum merasakan dampak dari aturan baru tersebut.
Fajar bahkan mengaku dirinya sempat bingung karena aturan ini benar-benar baru diterapkan di pertandingan.
"(aturan) 25 detik, juga tadi saya juga sempat lihat ya. Bingung karena sebelumnya enggak lihat itu. Dan saya juga sempat eh... berpikir oh itu 25 detik itu diwaktuin di situ gitu," kata Fajar.
"Tadinya enggak tahu karena enggak lihat partai sebelumnya. Karena mungkin di Ganda Putra ini cepat ya, cepat permainannya eh dan jarang reli. Jadi memang enggak nyampe 25 detik juga pasti udah siap lagi," katanya lagi.
Seperti diketahui, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menerapkan aturan baru terkait Time Clock dan permainan berkelanjutan (continuous play) guna meningkatkan konsistensi penegakan peraturan serta mengurangi penundaan di antara reli.
Aturan ini sudah mulai diuji coba dalam turnamen BWF World Tour tertentu, termasuk Daihatsu Indonesia Masters 2026 yang berlangsung pekan ini.
- PBSI
Melalui sistem Time Clock, pemain—khususnya server—memiliki waktu maksimal 25 detik untuk bersiap melakukan servis berikutnya setelah sebuah reli berakhir.
Time Clock akan mulai menghitung mundur sejak wasit memasukkan skor reli sebelumnya. Penerapan sistem ini memberikan ukuran waktu yang objektif sehingga mengurangi unsur subjektivitas dalam penilaian wasit terhadap penundaan permainan.
BWF juga menegaskan kejelasan mengenai aktivitas yang diperbolehkan pemain di antara reli. Selama waktu 25 detik tersebut, pemain dapat melakukan berbagai aktivitas di sisi lapangan, seperti mengelap handuk, minum, mengikat tali sepatu, hingga menggunakan semprotan dingin yang diaplikasikan sendiri tanpa perlu izin wasit.
Namun demikian, penerima servis tetap wajib mengikuti tempo server dan tidak diperkenankan memperlambat jalannya permainan.
Dalam pertandingan yang menggunakan Time Clock, permintaan pergantian shuttlecock harus diajukan segera setelah reli berakhir dan diselesaikan dalam batas waktu 25 detik.
Apabila diperlukan pengepelan lapangan dalam durasi yang lebih lama, wasit mempunyai wewenang untuk menghentikan Time Clock. Sementara itu, untuk pengepelan singkat, Time Clock tetap akan berjalan.
BWF menegaskan bahwa jika peraturan ini diberlakukan maka wasit memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi atas penundaan waktu yang tidak semestinya, mulai dari peringatan (verbal warning),kartu kuning (yellow card) hingga kartu merah (red card) sesuai dengan tingkat dan pengulangan pelanggaran.
Sedangkan untuk masa uji coba ini hanya akan diberlakukan peringatan (verbal warning) saja.
Masa uji coba aturan ini akan dievaluasi sebelum ditetapkan secara permanen oleh BWF pada saat AGM meeting atau Council meeting.
Jika dinilai berhasil, penerapan Time Clock dan ketentuan permainan berkelanjutan ini akan diberlakukan secara penuh sepanjang tahun 2026.
Untuk pertandingan yang belum menggunakan Time Clock, penilaian penundaan tetap dilakukan seperti sebelumnya, dengan penekanan bahwa penerima servis harus mengikuti tempo server.
(aes)