- Kolase tvOnenews.com / http://bwfshuttletime.com / Instagram @t_gun75
Tak Terduga, 3 Pebulu Tangkis Indonesia Ini Malah Pilih Pindah Kewarganegaraan setelah Raih Medali Olimpiade
tvOnenews.com - Indonesia punya sejarah panjang sebagai salah satu raksasa bulu tangkis dunia.
Dari ajang All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade, banyak atlet Merah Putih yang sukses mengangkat nama bangsa di panggung internasional.
Namun di balik deretan prestasi itu, ada pula kisah yang menyisakan rasa campur aduk: sejumlah mantan bintang bulu tangkis Indonesia justru memilih pindah kewarganegaraan setelah menorehkan prestasi besar, termasuk medali Olimpiade.
Fenomena ini selalu menarik perhatian karena menyangkut nama-nama besar yang pernah menjadi kebanggaan publik.
Mereka bukan atlet biasa, melainkan sosok yang pernah berjuang membawa Indonesia berdiri di podium Olimpiade.
Setelah pensiun atau memasuki fase baru dalam hidup, jalan yang dipilih ternyata berbeda. Ada yang menetap di luar negeri, membangun karier sebagai pelatih, hingga kembali bertanding dengan bendera negara lain.
Lalu, siapa saja pebulu tangkis Indonesia peraih medali Olimpiade yang kemudian memilih menjadi warga negara lain? Berikut tiga nama yang paling sering disorot.
1. Ardy B. Wiranata, peraih perak Olimpiade yang kemudian menjadi warga Kanada
Nama Ardy B. Wiranata punya tempat khusus dalam sejarah bulu tangkis Indonesia.
Lahir di Jakarta pada 10 Februari 1970, Ardy adalah salah satu tunggal putra terbaik yang dimiliki Indonesia pada era 1990-an.
Gaya bermainnya dikenal ulet, defensif, dan sulit ditembus lawan. Ia juga termasuk pemain yang sangat konsisten di level elite.
Puncak salah satu momen terbaik Ardy datang di Olimpiade Barcelona 1992.
Saat itu, Indonesia tampil luar biasa di nomor tunggal putra dengan menempatkan tiga wakil di semifinal.
Ardy sukses melangkah hingga partai final sebelum akhirnya meraih medali perak usai kalah dari rekan senegaranya, Alan Budikusuma.
Medali itu menjadi bagian penting dari sejarah awal kejayaan bulu tangkis Indonesia di Olimpiade.
Tak hanya Olimpiade, koleksi prestasi Ardy juga sangat lengkap. Ia pernah menjadi juara All England 1991, menjuarai Indonesia Open hingga enam kali, serta membawa Indonesia berjaya di berbagai turnamen besar lain.
Rekor enam gelar Indonesia Open itu membuat namanya tetap dikenang sebagai salah satu tunggal putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Setelah karier kompetitifnya berakhir, Ardy mengambil jalan baru dengan menetap di Kanada.
Di negara tersebut, ia melanjutkan kiprahnya di dunia bulu tangkis sebagai pelatih dan kemudian diketahui telah menjadi warga negara Kanada.
Meski tak lagi berstatus WNI, nama Ardy tetap lekat sebagai salah satu legenda tunggal putra Indonesia yang pernah membawa Merah Putih bersinar di Olimpiade.
2. Mia Audina, peraih dua medali perak Olimpiade bersama dua negara berbeda
Jika membicarakan kisah paling unik dalam daftar ini, nama Mia Audina hampir pasti berada di urutan teratas.
Pebulu tangkis kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1979, ini merupakan salah satu talenta paling istimewa yang pernah dimiliki Indonesia di sektor tunggal putri.
Mia mencuri perhatian sejak usia sangat muda. Ia sudah tampil di level tertinggi ketika remaja, bahkan menjadi bagian penting Indonesia saat merebut Uber Cup.
Kehebatannya kemudian berlanjut di Olimpiade Atlanta 1996, ketika Mia yang masih sangat belia sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia di nomor tunggal putri.
Ia bahkan sempat menempati posisi ranking satu dunia di usia muda, sebuah pencapaian langka dalam bulu tangkis putri Indonesia.
Perjalanan hidup Mia kemudian berubah setelah ia menikah dengan pria asal Belanda.
Pada 2000, Mia pindah ke Belanda dan selanjutnya berganti kewarganegaraan.
Yang membuat kisahnya begitu spesial, Mia tidak hanya melanjutkan hidup di sana, tetapi juga kembali tampil di level tertinggi mewakili negeri barunya.
Di Olimpiade Athena 2004, Mia kembali menembus final dan meraih medali perak, kali ini untuk Belanda.
Catatan tersebut membuatnya menjadi salah satu pemain paling langka dalam sejarah bulu tangkis Olimpiade: peraih medali untuk dua negara berbeda.
BWF bahkan menyoroti fakta unik itu dalam ulasan mereka tentang sejarah bulu tangkis Olimpiade.
Bagi Indonesia, kepergian Mia tentu menjadi kehilangan besar, mengingat ia pernah dipandang sebagai penerus kejayaan tunggal putri nasional.
Namun dari sisi sejarah, perjalanan Mia Audina juga menunjukkan betapa luar biasanya kualitas seorang atlet Indonesia yang mampu bersaing di level tertinggi, bahkan setelah berganti bendera.
3. Tony Gunawan, peraih emas Sydney yang kemudian berjaya bersama Amerika Serikat
Nama berikutnya adalah Tony Gunawan, salah satu pemain ganda putra terbaik yang pernah lahir dari Indonesia.
Tony lahir di Surabaya pada 9 April 1975 dan dikenal sebagai pemain dengan sentuhan halus, refleks cepat, serta kemampuan membaca permainan yang sangat matang di depan net.
Prestasi terbesar Tony bersama Indonesia datang di Olimpiade Sydney 2000. Berpasangan dengan Candra Wijaya, ia berhasil merebut medali emas di nomor ganda putra.
Gelar itu menjadi salah satu momen emas penting bagi bulu tangkis Indonesia pada era 2000-an.
Tony juga tercatat pernah menjuarai Kejuaraan Dunia 2001 saat masih membela Indonesia.
Namun perjalanan karier Tony tidak berhenti di sana. Setelah meninggalkan pelatnas Indonesia, ia melanjutkan hidup dan kariernya di Amerika Serikat.
Di negeri barunya itu, Tony kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat dan tetap aktif di dunia bulu tangkis, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Yang membuat kisah Tony semakin menarik, ia tak sekadar “pindah negara”, tetapi juga kembali meraih prestasi besar.
Pada Kejuaraan Dunia 2005 di Anaheim, Tony berpasangan dengan Howard Bach dan sukses merebut gelar juara dunia untuk Amerika Serikat.
Kemenangan itu sangat bersejarah karena menjadi salah satu pencapaian terbesar bulu tangkis AS di level dunia.
Dengan kata lain, Tony adalah sosok langka yang mampu menjadi juara dunia baik saat membela Indonesia maupun setelah beralih ke Amerika Serikat.
Fakta ini memperlihatkan betapa besar kualitas Tony Gunawan sebagai pemain kelas dunia.
Di Indonesia ia dikenang sebagai peraih emas Olimpiade, sedangkan di Amerika Serikat ia juga meninggalkan warisan penting sebagai pemain dan pelatih.
Perpindahan kewarganegaraan para mantan atlet elite memang selalu memunculkan perdebatan.
Di satu sisi, publik Indonesia tentu merasa kehilangan karena mereka pernah menjadi simbol kejayaan Merah Putih.
Namun di sisi lain, keputusan tersebut juga merupakan bagian dari perjalanan hidup pribadi masing-masing atlet, entah karena keluarga, karier, masa depan, atau kesempatan baru di luar negeri.
(tsy)