- Twitter/@bwfmedia
Masih Ingat Keisha Fatimah Azzahra? Pebulu Tangkis Kelahiran Indonesia yang Rela Pindah ke Azerbaijan demi Tampil di Olimpiade
tvOnenews.com - Nama Keisha Fatimah Azzahra mulai mencuri perhatian pecinta bulu tangkis Indonesia.
Meski lahir di Pekanbaru, Riau, atlet berusia 21 tahun itu kini tampil di berbagai turnamen internasional dengan membawa bendera Azerbaijan.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Demi menjaga kariernya tetap berlanjut dan mewujudkan impian tampil di Olimpiade, Keisha rela berganti kewarganegaraan setelah gagal menembus Pelatnas PBSI.
Kini, langkah beraninya mulai membuahkan hasil. Ia sudah merasakan tampil di Olimpiade Paris 2024 dan bertekad kembali lolos ke Olimpiade Los Angeles 2028.
Gagal Masuk Pelatnas PBSI
Keisha Fatimah Azzahra lahir di Pekanbaru, Riau, pada 12 Agustus 2003.
Sejak kecil, ia menekuni bulu tangkis dan berlatih di Mutiara Cardinal Bandung, salah satu klub yang cukup dikenal dalam pembinaan atlet muda Indonesia.
Impian besarnya adalah menjadi bagian dari Pelatnas PBSI Cipayung.
Kesempatan itu datang saat mengikuti Seleksi Nasional PBSI 2022. Namun, Keisha harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Kyla Legiana Agatha di partai final.
Karena saat itu PBSI hanya mengambil juara untuk bergabung ke pelatnas, mimpi Keisha membela Indonesia di level tertinggi pun kandas.
Memilih Membela Azerbaijan
Di tengah kekecewaan tersebut, sebuah peluang datang dari Azerbaijan.
Federasi bulu tangkis negara yang beribu kota di Baku itu menawarkan kesempatan kepada Keisha untuk bergabung sebagai atlet nasional.
Tanpa berpikir terlalu lama, Keisha menerima tawaran tersebut.
"Sebelumnya ikut seleknas 2022, tapi cuma jadi runner up. Yang diambil sama pelatnas cuma juaranya saja. Jadi, pilihannya ke Azerbaijan karena masih mau jadi pemain,"
Ia mengaku keputusan tersebut diambil karena masih ingin mengejar cita-citanya sebagai pebulu tangkis profesional.
"Kebetulan dapat channel ke Azerbaijan. Karena masih mau jadi pemain, jadi ke sana saja daripada menganggur dan ayah juga setuju,"
Keisha resmi bergabung dengan Azerbaijan pada akhir 2022. Di sana, ia tidak sendirian karena sudah ada beberapa atlet kelahiran Indonesia yang lebih dulu memperkuat negara tersebut, salah satunya Ade Resky Dwicahyo.
Keisha mengaku salah satu keuntungan terbesar membela Azerbaijan adalah kesempatan bertanding yang jauh lebih sering.
Federasi setempat rutin mengirimnya ke berbagai turnamen internasional untuk menambah pengalaman dan meningkatkan peringkat dunia.
"Di sana enak karena sering diikutkan pertandingan. Dalam satu bulan bisa dua sampai tiga kali ikut turnamen. Mereka juga memahami kondisi kita,"
Dukungan tersebut membuat perkembangan Keisha semakin pesat.
Ia bahkan berhasil lolos ke Olimpiade Paris 2024, sebuah kesempatan yang mungkin sulit diraihnya jika tetap bertahan di Indonesia mengingat ketatnya persaingan di sektor tunggal putri.
Kini Keisha menargetkan bisa kembali tampil pada Olimpiade Los Angeles 2028.
"Mereka targetnya kalau bisa juara di Kejuaraan Eropa. Di sana ada European Games juga yang sama seperti Asian Games. Saya sendiri ingin masuk Olimpiade lagi (di 2028),"
Salah satu momen yang paling menarik dalam perjalanan karier Keisha terjadi saat tampil di Indonesia Masters 2025 di Istora Senayan.
Meski lahir dan besar di Indonesia, ia turun sebagai wakil Azerbaijan.
Keisha memulai perjuangannya dari babak kualifikasi dan berhasil melaju ke babak utama setelah mengalahkan wakil tuan rumah Ruzana melalui pertandingan tiga gim dengan skor 21-17, 16-21, dan 21-19.
Langkahnya kemudian terhenti di babak 32 besar setelah kalah dari unggulan Thailand Pornpawee Chochuwong dengan skor 17-21 dan 12-21.
Meski gagal melangkah lebih jauh, Keisha mengaku tetap bahagia bisa tampil di Istora Senayan.
"Ini pertama kalinya main di Indonesia Masters. Rasanya pasti senang main di negara sendiri walaupun bawa negara lain. Ada sedikit pressure juga karena penontonnya Indonesia semua,"
Ia mengaku sebenarnya sempat mengira tidak akan tampil karena awalnya hanya berada di daftar tunggu.
"Saya kira tidak main, tapi dikabarkan bisa. Jadi mendadak juga ke sini. Hasilnya memuaskan karena targetnya hanya sampai 32 besar,"
Performa Keisha terus meningkat sepanjang musim.
Pada ajang BWF Super 500 Hylo Open 2025 di Jerman, ia berhasil mencuri perhatian setelah melaju hingga babak perempat final.
Perjalanannya baru terhenti oleh wakil Indonesia, Putri Kusuma Wardani, dalam pertandingan ketat dengan skor 18-21 dan 19-21.
Penampilannya saat itu menuai banyak pujian karena mampu memberikan perlawanan sengit kepada unggulan pertama turnamen.
Keisha dikenal sebagai pemain bertangan kiri (kidal) dengan karakter permainan menyerang.
Ia memiliki kecepatan kaki yang baik, pukulan yang tajam, serta daya tahan fisik yang kuat sehingga mampu tampil kompetitif dalam pertandingan berdurasi panjang.
Berkat konsistensinya di berbagai turnamen internasional, Keisha perlahan terus memperbaiki posisinya di peringkat dunia BWF.
Fenomena atlet kelahiran Indonesia yang memilih membela negara lain bukan hal baru di dunia bulu tangkis.
Selain Keisha Fatimah Azzahra, ada nama Ade Resky Dwicahyo yang juga memperkuat Azerbaijan setelah sebelumnya berkarier di Indonesia.
Sebelumnya, legenda bulu tangkis Mia Audina juga pernah menjadi sorotan setelah berganti kewarganegaraan menjadi Belanda dan mencatat sejarah sebagai satu-satunya pebulu tangkis yang berhasil meraih medali Olimpiade untuk dua negara berbeda, yakni Indonesia dan Belanda.
Meski memilih membela negara lain, kisah mereka menunjukkan bahwa banyak atlet Indonesia tetap mampu bersaing di level dunia ketika mendapatkan kesempatan, dukungan, dan jam terbang yang lebih besar.
Bagi Keisha Fatimah Azzahra, keputusan pindah ke Azerbaijan bukan sekadar pergantian bendera.
Langkah itu menjadi jalan untuk menjaga mimpi tetap hidup, membangun karier internasional, sekaligus membuktikan bahwa kerja keras mampu membuka peluang di panggung bulu tangkis dunia.
(tsy)