- Istimewa
Ratusan Pebulutangkis Muda dari Berbagai Negara Ramaikan Ajang MilkLife Superliga Junior 2026 Sepanjang Pekan Ini
- Istimewa
Ajang MilkLife Superliga Junior 2026 juga mengadopsi sistem perhitungan poin terbaru dari BWF yakni 3x15 rally point system.
"Meski BWF baru akan menerapkannya pada Januari 2027, tetapi kami sudah mulai menguji coba sistem ini. Tujuannya untuk membantu para pemain muda beradaptasi lebih cepat terhadap sistem durasi permainan yang lebih pendek," kata Budiharto.
Di sisi lain, Manager Tim PB Djarum Fung Permadi, menyoroti peta persaingan yang tersaji di MilkLife Superliga Junior 2026.
Menurutnya, absennya salah satu kekuatan tradisional, yakni Thailand serta kehadiran debutan internasional, China, membuat peta persaingan tahun ini menjadi sangat dinamis.
Untuk itu, target PB Djarum akan fokus pada esensi utama pembinaan usia muda di pertandingan sistem beregu. Pengalaman bertanding di level kompetitif tinggi diharapkan menjadi modal penting untuk regenerasi atlet nasional.
"Absennya tim-tim kuat asal Thailand seperti Banthongyord Badminton School membuat dinamika kompetisi sedikit bergeser, meski kami tetap mewaspadai keikutsertaan negara kuat lainnya seperti China dan China Taipei. Target utama kami bukan sekedar memburu gelar, melainkan memberikan jam terbang dan pengalaman bertanding beregu sedini mungkin kepada para atlet. Pengalaman penting ini dipersiapkan agar mereka siap mental ketika kelak mewakili Indonesia di kancah internasional," ujar Fung Permadi.
"Sejauh ini, menurut saya rival terberat adalah PB Jaya Raya untuk tim Indonesia. Kalau tim negara luar, kami belum tahu permainannya seperti apa. Tapi, apapun itu, saya berharap dapat memberikan penampilan yang maksimal dan bisa menyumbang poin untuk tim dan memberikan gelar juara bagi PB Djarum," tutur Radithya.
Sementara itu, di sektor putri, atlet PB Djarum U-19 Putri, Atresia Naufa Candani, tetap optimistis ia dan timnya dapat meraih hasil optimal.
- Istimewa
Menurutnya, keberanian dan kekuatan mental saat menghadapi tekanan di lapangan menjadi faktor penting yang dapat menentukan hasil akhir pertandingan.
"Menurut saya, lawan terberat di turnamen ini mungkin berasal dari klub luar negeri. Namun, chemistry di tim kami juga sudah terbentuk karena sebelumnya kami cukup sering mengikuti turnamen beregu dengan pemain-pemain yang sebagian besar sama. Dari segi teknik kami tidak kalah dari pemain-pemain luar negeri. Pada akhirnya, pemain yang memiliki mental lebih berani akan mampu mengatasi tekanan dan situasi pertandingan di lapangan. Saya juga yakin kami mampu menjadi juara karena itulah targetnya," ujar Atresia.