News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Napak Bumi dan Peringatan Mbah Pram di Komunitas Lima Gunung

Seniman petani Komunitas Lima Gunung itu berkumpul di Pendopo Padepokan Tjipto Boedojo Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kabupaten Magelang, Jateng. Dalam dekapan hawa dingin mereka  memulai agenda peringatan Hari Peradaban Desa yang ditetapkan mandiri oleh mereka jatuh setiap 21 Mei. 
Kamis, 22 Mei 2025 - 06:47 WIB
Komunitas Lima Gunung melakukan performa seni "Mberat Sukerta"
Sumber :
  • ANTARA

Magelang, tvOnenews.com- Seniman petani Komunitas Lima Gunung itu berkumpul di Pendopo Padepokan Tjipto Boedojo Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kabupaten Magelang, Jateng. Dalam dekapan hawa dingin mereka  memulai agenda peringatan Hari Peradaban Desa yang ditetapkan mandiri oleh mereka jatuh 21 Mei. 

Selama Selasa (20/5) malam hingga Rabu (21/5) pagi, komunitas yang dirintis kelahiran dan dibangun kemandirian oleh budayawan Magelang, Sutanto Mendut (71), lebih dari 25 tahun lalu tersebut, melakukan peringatan Hari Peradaban Desa. Mereka yang mengikuti kegiatan itu berjumlah sekitar 100 seniman petani dan pegiat budaya, baik laki-laki maupun perempuan. Masing-masing mengenakan pakaian khas Jawa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melalui peringatan itu, Komunitas Lima Gunung hendak menghadirkan ruang dan waktu pencarian kembali kearifan desa dan warisan nilai luhur untuk menjadi pusaka menghadapi tantangan perkembangan zaman yang kompleks, perubahan lingkungan alam yang sedemikian rupa, dan meneguhkan keadaban baru agar tetap berpijak kepada keluhuran bangsa.

Oleh pemerhati budaya yang sedang menjalani studi program doktoral untuk ilmu kajian budaya di Universitas Amsterdam Belanda, Brian Trinanda K Adi, tema "Napak Bumi" dipandang bukan sekadar ajakan kepada elemen bangsa menghindari jebakan hiruk-pikuk peradaban modern, namun sebagai seruan lantang yang mengoyak kekosongan batin bangsa.

Terlebih kepada para elite, "Napak Bumi" menjadi gema menembus batas-batas ego yang mengingatkan mereka tentang keadilan sejati, yang mesti lahir dari keberanian mendengar, memahami, dan akhirnya menapakkan kaki secara sungguh-sungguh menyentuh bumi.

Tentu saja, ikhwal itu sebagai tak mudah terwujud di tengah kepemimpinan negeri di tangan penguasa yang dikerumuni oligarki. Meski demikian, "Napak Bumi" pada Hari Peradaban Desa tahun ini justru beroleh ruang refleksi yang substansial agar bangsa dan negara ini selamat dari jurang keterasingan dan ketidakadilan.

Barangkali "Napak Bumi" sebagai suatu bahasa asing yang tak layak diterjemahkan para elite yang terkesan sibuk menggapai langit, melupakan tanah tempat mereka berpijak. Stereotipe seperti ruwet, lambat, kuno, tertinggal, dan primitif, menjadi tembok tak kasat mata yang membungkam makna sejati dari suara-suara tersebut.

"Tidak heran jika kebijakan terus mengalir dari atas, tanpa pernah benar-benar mencoba memahami makna dari bawah. Ada kesenjangan, kesalahan penerjemahan yang akut, sehingga keadilan pun menjadi fatamorgana," ucapnya.

Namun, pesan "Napak Bumi" perlu diartikulasikan karena peranan sebagai seruan untuk mereka yang terlena di puncak piramida dan malah berambisi makin terbang tinggi, tanpa menyadari bahwa akar hidup mereka semakin rapuh.

Ironi tentang semakin tinggi mereka terbang menjadikan kian lupa cara mendarat mesti ditangkal dengan kesadaran atas arti kembali, mendarat, dan menyelami makna keadilan sejak dari dalam pikiran.

"Sebagaimana pesan bijak dari Mbah Pram (Sastrawan Pramoedya Ananta Toer/1925-2006)," ucap Brian yang berasal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu.

Kenduri

Sebelum tengah malam mengantar Selasa (20/5) beralih kepada jatuhnya hari peringatan itu, acara Hari Peradaban Desa ditandai dengan kenduri tumpeng "Selametan", pembacaan doa dan mantra kejawen oleh pimpinan Padepokan Tjipto Boedojo, Sitras Anjilin (66). Hadir pula dengan duduk bersila di atas tikar antara lain Rektor Universitas Tidar (Untidar) Magelang Sugiyarto, sejumlah perwakilan kelompok seniman "Kiai Kanjeng" Yogyakarta, dan beberapa peneliti serta pemerhati budaya.

Sitras, yang juga tokoh sesepuh Komunitas Lima Gunung itu, memimpin para pegiat seni budaya yang hadir malam itu, untuk retret dengan melantunkan masing-masing 12 bait tembang Mocopat, bersumber dari Serat Kalatidha (Pupuh Sinom) karya pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dan Sesinggah (Pangkur) karya Ulama Sunan Kalijaga (1450-1592).

Bait pertama pupuh Sinom terasa membawa mereka kepada refleksi tentang negeri yang sepi karena kerusakan cara berkomunikasi, kehilangan keteladanan, dan marjinalisasi sopan santun, sementara para bijak pandai terbawa arus zaman kalatida atau ketidakpastian dan semua orang abai serta masuk arus godaan.

Pupuh Pangkur dalam Sesinggah berupa bait demi bait mantra tolak bala dilantunkan komunitas malam itu agar manusia terbebas dari marabahaya dan bencana.

Pada pagi harinya bersamaan waktu matahari terbit, Rabu (21/5), setelah prosesi jalan kaki mengelilingi Dusun Tutup Ngisor, sekitar delapan kilometer barat daya puncak Gunung Merapi, tanda tolak bala dihadirkan sejumlah seniman petani melalui performa seni.

Mereka, yakni seniman Mastur, Khoirul Mutakin, Gianto, Sujono, dan Shuko Sastro Gending, selama beberapa saat melakukan performa seni berjudul "Mberat Sukerta", berupa jamasan lumpur di depan Candi Sapta Widayat, kompleks padepokan tersebut. Suasana pada sesi ini juga diwarnai dengan pembacaan puisi oleh dua penyair komunitas, Lie Thian Hauw (Haris Kertorahardjo) dan Hudi DW.

Dengan iringan tembang-tembang dan ungkapan mantra Jawa, mereka sambil memegang batangan dupa, menaburkan bunga mawar merah dan putih, serta memantik alat bunyi-bunyian, berjalan kaki mengelilingi dusun itu, seakan menyambut matahari terbit di kawasan Gunung Merapi.

Setelah peserta prosesi tiba di depan Candi Sapta Widayat, dilanjutkan dengan pembasuhan kaki menggunakan air yang dikumpulkan dari beberapa mata air di Magelang oleh pegiat komunitas. Mereka kemudian memasuki bangunan di atas kolam, berupa cungkup pendiri Padepokan Tjipto Boedaja, Romo Yoso Sudarmo (1885-1990), untuk berziarah dan takzim berdoa, sebagai ruang penting dalam tema "Napak Bumi", selain penghormatan terhadap leluhur manusia gunung dengan warisan nilai-nilai kearifan dan budaya masyarakat desa.

Peringatan Hari Peradaban Desa dengan "Napak Bumi" sebagai tema kali ini, oleh budayawan Sutanto Mendut dipandang sebagai penguatan atas kehadiran, aktivitas budaya dan berkesenian, serta peran inspiratif Komunitas Lima Gunung selama ini, bagi penjagaan kekuatan nilai-nilai kehidupan desa dan gunung.

Komunitas itu dengan perkembangan dan dinamika berjejaring juga menghidupi tradisi Festival Lima Gunung dengan kekuatan mandiri. Pada tahun ini, festival mereka yang telah mendunia tersebut bakal memasuki perhelatan ke-24 kali secara berturut-turut, termasuk ketika beberapa tahun pernah terjadi pandemi global COVID-19. Komunitas tersebut sedang mulai menyiapkan garapan Festival Lima Gunung untuk tahun ini.

Bagaikan menapak bumi, perjalanan kehidupan Komunitas Lima Gunung diungkap Sutanto dalam sarasehan Hari Peradaban Desa, Selasa (20/5) malam, di pendopo padepokan setempat, sebagai "diturunkan dari langit" memberi guna bagi bumi, lingkungan, sesama makhluk, dan semesta makna kehidupan, serta menjadi bagian hal ihwal itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Oleh karenanya, mereka harus tawaduk. Tidak semua tindakan seni budaya dan kelindan pemikiran bersama dalam kerangka komunitas, selalu memperoleh hasil sempurna atau sesuai rancangan pikiran.

Namun demikian, atas kesadaran tentang keberadaan sebagai manusia-manusia wadak yang harus "Napak Bumi", mereka telah menorehkan catatan panjang yang penting tentang pengejawantahan makna rahmatan lil-alamin. Termasuk tahun ini, keadaan terkini membuat mereka mengajak siapa saja menyadari kesunyataan untuk memenuhi panggilan nurani, "Napak Bumi".(ant/bwo)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Pelaku Mutilasi Depok Diduga Punya Penyakit HIV, Harus Bawa Obat dan Rutin Konsumsi

Pelaku Mutilasi Depok Diduga Punya Penyakit HIV, Harus Bawa Obat dan Rutin Konsumsi

Terungkap fakta baru soal pelaku mutilasi Depok bernama Saepul (26). Saepul diduga menderita penyakit HIV. 
51 Adegan Rekonstruksi Kasus Mutilasi Depok Digelar, Fakta Baru Berdampak pada Pasal Sangkaan Tersangka

51 Adegan Rekonstruksi Kasus Mutilasi Depok Digelar, Fakta Baru Berdampak pada Pasal Sangkaan Tersangka

51 Adegan rekonstruksi kasus pembunuhan disertai mutilasi di kawasan Tanah Merah, Pancoran Mas, Depok, digelar. Ditemukan adanya fakta baru.
Jegal Ruang Gerak Mafia, Balik Nama Sertifikat Tanah Maksimal 10 Hari Kerja akan Dimulai 17 Agustus 2026

Jegal Ruang Gerak Mafia, Balik Nama Sertifikat Tanah Maksimal 10 Hari Kerja akan Dimulai 17 Agustus 2026

Kementerian ATR/BPN kebut transformasi layanan untuk mempersempit celah mafia tanah. Salah satunya dengan uji coba layanan Peralihan Hak atau balik nama sertifikat maksimal 10 hari kerja.
Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal di Tanjung Priok, Potensi Kerugian Negara Rp8,6 M

Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal di Tanjung Priok, Potensi Kerugian Negara Rp8,6 M

Bea Cukai Tanjung Priok dan Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai gagalkan pengiriman 8,96 juta batang rokok ilegal yang tidak dilekati pita cukai
15 Ucapan HUT RI ke-81 yang Penuh Semangat yang Cocok untuk Jadi Caption di Status WhatsApp

15 Ucapan HUT RI ke-81 yang Penuh Semangat yang Cocok untuk Jadi Caption di Status WhatsApp

Bagi yang sedang mencari referensi kalimat singkat, menarik, dan berkesan, berikut lima belas ucapan HUT RI ke-81 yang siap menyemarakkan Status WhatsApp Anda.
Nyeri Lutut dan Sendi Sembuh Tanpa Obat Kimia, dr Zaidul Akbar Anjurkan Langkah Sederhana Ini

Nyeri Lutut dan Sendi Sembuh Tanpa Obat Kimia, dr Zaidul Akbar Anjurkan Langkah Sederhana Ini

Masalah nyeri lutut dan sendi tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, jika terjadi nyeri lutut dan sendi, dr Zaidul Akbar menganjurkan ikuti langkah berikut

Trending

Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal di Tanjung Priok, Potensi Kerugian Negara Rp8,6 M

Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal di Tanjung Priok, Potensi Kerugian Negara Rp8,6 M

Bea Cukai Tanjung Priok dan Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai gagalkan pengiriman 8,96 juta batang rokok ilegal yang tidak dilekati pita cukai
Pelaku Mutilasi Depok Diduga Punya Penyakit HIV, Harus Bawa Obat dan Rutin Konsumsi

Pelaku Mutilasi Depok Diduga Punya Penyakit HIV, Harus Bawa Obat dan Rutin Konsumsi

Terungkap fakta baru soal pelaku mutilasi Depok bernama Saepul (26). Saepul diduga menderita penyakit HIV. 
51 Adegan Rekonstruksi Kasus Mutilasi Depok Digelar, Fakta Baru Berdampak pada Pasal Sangkaan Tersangka

51 Adegan Rekonstruksi Kasus Mutilasi Depok Digelar, Fakta Baru Berdampak pada Pasal Sangkaan Tersangka

51 Adegan rekonstruksi kasus pembunuhan disertai mutilasi di kawasan Tanah Merah, Pancoran Mas, Depok, digelar. Ditemukan adanya fakta baru.
Jegal Ruang Gerak Mafia, Balik Nama Sertifikat Tanah Maksimal 10 Hari Kerja akan Dimulai 17 Agustus 2026

Jegal Ruang Gerak Mafia, Balik Nama Sertifikat Tanah Maksimal 10 Hari Kerja akan Dimulai 17 Agustus 2026

Kementerian ATR/BPN kebut transformasi layanan untuk mempersempit celah mafia tanah. Salah satunya dengan uji coba layanan Peralihan Hak atau balik nama sertifikat maksimal 10 hari kerja.
Jadwal Siaran Langsung Dana White's Contender Series: Bilal Hasan Ukir Sejarah, Selangkah Lagi Menuju UFC

Jadwal Siaran Langsung Dana White's Contender Series: Bilal Hasan Ukir Sejarah, Selangkah Lagi Menuju UFC

Jadwal siaran langsung Dana White's Contender Series (DWCS) Season 10 Episode 1. Petarung MMA tak terkalahkan asal Indonesia, Bilal Hasan, akan menjalani pertarungan penting untuk membuka jalan menuju UFC.
Polisi Masih Selidiki Kematian Siswi 14 Tahun Diduga Tertemper KRL di Stasiun Jurangmangu

Polisi Masih Selidiki Kematian Siswi 14 Tahun Diduga Tertemper KRL di Stasiun Jurangmangu

Perjalanan KRL di Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan, sempat terganggu setelah seorang siswi SMA kelas 10 tertabrak kereta rel listrik (KRL), Senin (10/8/2026).
Siapa Wanita Berbaju Putih di Balik Challenge Surat Ad-Duha Berhadiah Miras? Ini Pengakuan MC Newport 

Siapa Wanita Berbaju Putih di Balik Challenge Surat Ad-Duha Berhadiah Miras? Ini Pengakuan MC Newport 

Sosok wanita berbaju putih disebut mengambil mikrofon MC Newport sebelum muncul challenge hafalan Surat Ad-Duha berhadiah minuman beralkohol. Siapa dia?
Selengkapnya

Viral