Komunitas Game Online Minta Kolaborasi Lini Pihak Tolak Normalisasi Konten Kekerasan
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Komunitas gamer online Crow Speed QB menggelar latihan rutin dan menegaskan sikap menolak konten kekerasan yang marak di media sosial maupun game online.
Salah satu pendiri komunitas, Andrie Muchtar Hidayat mengatakan, pihaknya terus menunjukkan komitmennya dalam membangun kreativitas dan sportivitas di kalangan anggotanya.
Kegiatan komunitasnya difokuskan pada pengembangan kemampuan dan menjaga keselamatan dalam berolahraga.
“Kami biasanya mengadakan latihan setiap minggu untuk mengasah kemampuan. Selain itu, ada juga sparring dan mengikuti turnamen yang diadakan setiap tahunnya,” kata Andrie, dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).
Lebih lanjut, Andrie menegaskan bahwa pihaknya menolak keras segala bentuk konten kekerasan yang beredar di media sosial. Hal ini untuk mempertahankan aspek keamanan dan keselamatan.
“Untuk konten kekerasan, kami menolak keras. Di dalam area olahraga, kami menjunjung tinggi keamanan dan keselamatan,” jelas Andrie.
Sementara itu, Andrie menyebutkan, penyebaran konten kekerasan di media sosial memiliki dampak signifikan terhadap generasi muda.
Dalam hal ini, dirinya menyoroti potensi perubahan pola pikir serta menurunnya sensitivitas terhadap kekerasan apabila tidak dibarengi literasi digital dan pengawasan yang memadai.
“Menurut saya sangat berpengaruh, terutama pada pola pikir dan sensitivitas terhadap kekerasan, apalagi jika tanpa literasi dan pengawasan yang baik,” terang Andrie.
Selain itu Andrie juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mencegah normalisasi kekerasan di ruang digital. Masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar lebih bijak dalam memilah dan memilih konten.
Andrie juga meminta agar pemerintah dapat memperkuat pengawasan terhadap penggunaan platform media sosial, khususnya terkait penyebaran konten kekerasan.
Terkait hal ini, generasi muda diharapkan tidak mengimplementasikan konten kekerasan yang ditemui di media sosial maupun game online ke dalam kehidupan nyata.
“Harapannya, dalam menggunakan media sosial lebih bijak lagi dalam memilah dan memilih. Jangan sampai konten kekerasan, baik dari media sosial maupun game online, dinormalisasikan dalam kehidupan nyata,” terangnya.(raa)
Load more