Anthony Leong: HIPMI Siap Cetak Pengusaha Kelas Menengah Baru untuk Dorong Pertumbuhan 8%
- Istimewa
tvOnenews.com - Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anthony Leong, menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto hanya dapat tercapai jika Indonesia mampu memperkuat basis pengusaha kelas menengah.
Menurutnya, tantangan terbesar ekonomi Indonesia saat ini bukan hanya soal investasi atau kebijakan, tetapi melemahnya struktur kelas menengah, termasuk di dalamnya pengusaha yang seharusnya menjadi tulang punggung pertumbuhan.
“Data menunjukkan bahwa kontribusi UMKM terhadap ekonomi sangat besar, lebih dari 99% unit usaha dan menyerap sekitar 90% tenaga kerja. Tapi yang naik kelas menjadi menengah dan besar masih sangat terbatas. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat tekanan terhadap kelas menengah akibat pandemi dan perlambatan ekonomi global,” ujar Anthony pada keterangannya (27/4).
Ketua BPP HIPMI Bidang Sinergitas Danantara, BUMN dan BUMD itu menjelaskan bahwa tanpa pengusaha kelas menengah yang kuat, ekonomi akan cenderung timpang karena terlalu banyak usaha kecil yang stagnan, dan terlalu sedikit usaha besar yang mampu menyerap skala pertumbuhan.
“Kalau kita ingin tumbuh 8%, kita tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi atau investasi besar. Kita butuh ribuan bahkan jutaan pengusaha yang naik kelas dari kecil menjadi menengah, dan dari menengah menjadi besar. Sesuai arahan Pak Presiden Prabowo terkait "Indonesia Incorporated", Yang besar dan kuat harus merangkul, yang menengah dan kecil harus diperkuat, yang maju harus menarik yang tertinggal," tegasnya.
Anthony menilai bahwa peran Himpunan Pengusaha Muda Indonesia menjadi sangat strategis karena memiliki jaringan lebih dari 100 ribu anggota yang tersebar di berbagai sektor dan wilayah.
Ia menawarkan pendekatan berbasis sistem, bukan sekadar program seremonial, untuk mendorong terciptanya kelas menengah baru.
Pertama, membuka akses pasar melalui business matching dan integrasi ke rantai pasok industri nasional. Kedua, memperluas akses pembiayaan melalui skema kurasi dan pembiayaan berbasis komunitas. Ketiga, mendorong keterlibatan pengusaha muda dalam sektor strategis seperti hilirisasi, pangan, energi, dan industri.
“Masalah utama pengusaha kita bukan di kemampuan, tetapi di akses. Akses ke pasar, akses ke pembiayaan, dan akses ke ekosistem bisnis yang lebih besar. Di sinilah HIPMI harus hadir sebagai jembatan penetrasi dan advokasi soal ini,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa banyak pengusaha daerah memiliki potensi besar, namun belum memiliki akses yang setara terhadap peluang ekonomi nasional.
“Kita punya potensi besar di daerah, tetapi belum semua mendapatkan akses yang sama. Kalau kita bisa membuka akses ini, maka kita akan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar kota besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anthony menegaskan bahwa HIPMI ke depan harus berperan sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan implementasi di lapangan, sehingga program ekonomi dapat berjalan lebih efektif dan berdampak langsung.
“HIPMI siap menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa. Kita ingin memastikan bahwa setiap kebijakan ekonomi tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar menjadi peluang bisnis bagi pengusaha,” kata Lulusan Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran itu.
Anthony optimis bahwa dengan memperkuat pengusaha kelas menengah, target pertumbuhan ekonomi 8% tidak hanya dapat dicapai, tetapi juga lebih berkualitas dan berkelanjutan.
“Pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari seberapa banyak pelaku usaha yang naik kelas. Kalau kita berhasil menciptakan pengusaha menengah dalam jumlah besar, maka ekonomi Indonesia akan jauh lebih tahan terhadap krisis global,” tutupnya.
(chm)
Load more