Bukan Film, Perang Sipil Simpanse Ini Benar-Benar Terjadi di Uganda
- Netflix
Biasanya, konflik simpanse terjadi antar kelompok yang memang sudah berbeda sejak awal. Namun di Ngogo, kedua kubu dulunya berasal dari komunitas yang sama. Mereka pernah hidup bersama, berburu bersama, bahkan saling merawat.
Bagi ilmuwan, hal ini menarik karena memperlihatkan bahwa identitas kelompok dan permusuhan bisa muncul bahkan pada kerabat dekat yang sebelumnya hidup damai. Banyak peneliti melihat kemiripan pola ini dengan konflik manusia.
Penelitian ini juga memunculkan pertanyaan besar, apakah akar kekerasan kolektif dan perang sebenarnya sudah ada sejak nenek moyang primata?
Apa Penyebab Perang Sipil Simpanse Ini?
Sampai sekarang, ilmuwan belum menemukan satu penyebab tunggal. Namun ada beberapa teori utama mengapa terjadi perang sipil berdarah pada kelompok simpanse di Ngogo ini.
1. Kelompok Terlalu Besar
Komunitas Ngogo dianggap sangat besar untuk ukuran simpanse liar. Beberapa peneliti menduga jumlah anggota yang terlalu banyak membuat persaingan makanan, wilayah, dan pasangan menjadi semakin intens.
Pada banyak spesies primata, kelompok yang terlalu besar memang kerap terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil untuk mengurangi persaingan sumber daya.
Namun pada simpanse, perpecahan permanen seperti ini sangat jarang terjadi. Bukti genetik menunjukkan peristiwa tersebut kemungkinan hanya terjadi sekitar sekali dalam 500 tahun.
Sebelumnya, hanya ada satu kasus serupa yang pernah dilaporkan, yakni pada 1970-an di Gombe, Tanzania, dalam penelitian jangka panjang milik Jane Goodall.
Namun kasus itu masih menjadi perdebatan karena para simpanse di sana diberi makanan oleh peneliti, sehingga dikhawatirkan memengaruhi perilaku mereka.
Sementara itu, pada komunitas Ngogo di Uganda, simpanse-simpanse tersebut tidak pernah diberi makan oleh peneliti.
Karena itu, para ilmuwan menganggap kasus ini memberikan gambaran yang lebih alami dan lebih lengkap mengenai bagaimana perpecahan kelompok dapat terjadi pada simpanse liar.
Penelitian di Ngogo sendiri telah berlangsung hampir tiga dekade di bawah pengamatan John Mitani dari University of Michigan bersama tim peneliti dan staf lapangan Uganda.
2. Kematian “Tokoh Penengah”
Peneliti juga menemukan beberapa simpanse pejantan senior yang sebelumnya menjadi penghubung antar kelompok mati karena penyakit sekitar 2014–2015. Setelah mereka hilang, hubungan sosial antar faksi mulai memburuk.
Load more