Bulan Kesadaran Migrain Sedunia: WHO Sebut Penyakit Ini Jadi Penyebab Disabilitas Neurologis, Bagaimana Mengatasinya?
- Freepik/jcomp
Jakarta, tvOnenews.com - Migrain masih sering dianggap sebagai sakit kepala biasa, padahal kondisi ini dapat mengganggu aktivitas hingga menurunkan kualitas hidup penderitanya. Memasuki usia 40 tahun, risiko migrain pada sebagian orang bahkan bisa meningkat akibat perubahan hormon, stres, hingga pola hidup yang kurang sehat.
Data World Health Organization (WHO) menunjukkan gangguan sakit kepala memengaruhi sekitar 40 persen populasi global dan migrain menjadi salah satu penyebab utama disabilitas neurologis di dunia.
Di Indonesia, prevalensi migrain diperkirakan mencapai 11–12 persen populasi dan lebih banyak dialami perempuan dibanding laki-laki. Kondisi ini juga kerap menyerang kelompok usia produktif 25–55 tahun sehingga berdampak pada produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari.
Dokter Ivana Lola dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta, menjelaskan bahwa migrain merupakan gangguan neurologis yang ditandai nyeri kepala berdenyut, umumnya pada satu sisi kepala, dan dapat disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya maupun suara. Serangan migrain bahkan bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.
“Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Kondisi ini merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling sering menyebabkan penurunan kualitas hidup. Dengan menjaga pola tidur, mengelola stres, berolahraga secara rutin, dan menghindari faktor pemicu, risiko kekambuhan migrain dapat ditekan secara signifikan,” jelas dr. Ivana Lola, dalam keterangannya, dikutip Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan, usia kepala 4 menjadi salah satu fase yang perlu mendapat perhatian karena sejumlah faktor dapat memicu migrain lebih sering muncul. Pada perempuan misalnya, perubahan hormon menjelang masa perimenopause dapat meningkatkan risiko migrain. Selain itu, tekanan pekerjaan, beban keluarga, pola tidur yang tidak teratur, hingga penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan kecemasan juga berpengaruh.
Meski demikian, dr. Ivana mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan sakit kepala berat yang baru pertama kali muncul setelah usia 40 tahun.
“Jika seseorang baru pertama kali mengalami sakit kepala berat setelah usia 40 tahun, sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius,” ujarnya.
Selain memahami faktor pemicu, masyarakat juga perlu mengetahui langkah pertolongan pertama saat migrain menyerang. dr. Ivana menyarankan penderita segera beristirahat di ruangan yang tenang dan minim cahaya, mengurangi paparan suara keras dan layar gadget, serta memastikan tubuh tetap terhidrasi.
“Minum air putih untuk mencegah dehidrasi, kompres dingin pada dahi atau belakang leher, serta tidur sejenak juga dapat membantu meredakan gejala pada sebagian penderita,” katanya.
Edukasi tersebut disampaikan dr. Ivana dalam seminar kesehatan bertema “Kenali Migrain, Kendalikan Gejalanya untuk Hidup Lebih Berkualitas” di Superhouse Paskal, Bandung, Minggu (14/6/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Migrain Sedunia yang diperingati setiap Juni.
Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan edukasi kesehatan menjadi salah satu fokus program sosial yang dijalankan pihaknya.
“Migrain seringkali dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat sekaligus mendorong deteksi dini berbagai faktor risiko kesehatan melalui pemeriksaan gratis,” ujar Andrew Susanto.
Load more