Kronologi 3 Polisi Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan, Aiptu Sumaryanto Ditemukan Meninggal di Pinggir Sungai
- ANTARA/HO-Basarnas
tvOnenews.com - Peredaran narkotika masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi aparat penegak hukum di Indonesia.Â
Tidak hanya merusak kesehatan masyarakat dan memicu berbagai tindak kriminal, jaringan narkoba juga kerap melakukan perlawanan saat aparat berusaha melakukan penindakan. Dalam sejumlah kasus, operasi pemberantasan narkoba bahkan berujung pada jatuhnya korban jiwa dari pihak kepolisian.
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), Indonesia masih menjadi pasar potensial bagi peredaran narkotika.Â
Jaringan pengedar terus mengembangkan berbagai modus untuk menghindari penangkapan, mulai dari memanfaatkan wilayah terpencil hingga melibatkan jaringan keluarga maupun kelompok tertentu.Â
Kondisi tersebut membuat setiap operasi penindakan memiliki tingkat risiko yang tinggi bagi petugas di lapangan.
Risiko itu kembali terlihat dalam operasi penggerebekan bandar sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.Â
Operasi yang digelar pada awal Juli 2026 tersebut berakhir tragis setelah tiga anggota Polres Katingan gugur. Korban terakhir yang sebelumnya dilaporkan hilang, Aiptu Sumaryanto, akhirnya ditemukan meninggal dunia di daerah aliran Sungai (DAS) Katingan setelah dilakukan pencarian oleh tim gabungan.
Kronologi Penggerebekan Bandar Sabu Berawal dari Laporan Warga
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, menjelaskan operasi tersebut bermula dari informasi masyarakat mengenai dugaan aktivitas peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei pada Rabu (1/7/2026).
Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO yang diketahui merupakan residivis kasus narkotika. Menindaklanjuti informasi tersebut, Satresnarkoba Polres Katingan menerjunkan 12 personel untuk melakukan penangkapan.
Tim kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Satu tim bertugas melakukan penindakan di rumah target, sedangkan tim lainnya bersiaga sebagai unsur pendukung apabila terjadi situasi darurat.
"Saat proses penangkapan berlangsung, target berhasil diamankan. Namun situasi berubah ketika beberapa orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam berupa parang," ujar Brigjen Eko.
Bentrokan Pecah, Tiga Polisi Gugur Saat Menyelamatkan Diri
Situasi di lokasi berubah menjadi tidak terkendali ketika keluarga terduga pelaku dan sejumlah warga diduga melakukan penyerangan terhadap petugas.Â
Menurut polisi, selain menggunakan senjata tajam, massa juga diduga memakai senjata api rakitan sehingga kondisi semakin berbahaya.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono mengatakan salah seorang anggota Satresnarkoba, Aipda Yudhie Perdana Putra, gugur akibat serangan senjata tajam ketika proses penangkapan berlangsung.
"Pada saat salah satu pelaku sudah diamankan, tiba-tiba keluarga pelaku menyerang anggota menggunakan parang. Anggota di lapangan kemudian melakukan tindakan tegas dan terukur sehingga satu orang dari pihak keluarga terduga pelaku meninggal dunia," ujar Dodik.
Dalam upaya menyelamatkan diri dari serangan massa, sejumlah personel terpaksa berenang menyeberangi sungai dan berlindung di kawasan hutan sambil menunggu bantuan personel tambahan.
Namun, dua anggota lainnya, yakni Bripda Nopandri Ramadhana dan Aiptu Sumaryanto, dinyatakan hilang setelah insiden tersebut.
Tim Gabungan Temukan Jenazah Aiptu Sumaryanto
Operasi pencarian langsung dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan personel Polri bersama unsur terkait.
Bripda Nopandri Ramadhana lebih dulu ditemukan pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 15.55 WIB.
Sementara itu, pencarian terhadap Aiptu Sumaryanto berlanjut hingga Minggu (5/7/2026). Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono membenarkan bahwa jenazah korban ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB.
"Benar tim gabungan berhasil menemukan jenazah Aiptu Sumaryanto sekitar pukul 09.00 WIB," kata Dodik.
Berdasarkan informasi di lapangan, jasad korban pertama kali terlihat warga dalam kondisi mengapung dan tersangkut di batang kayu di Daerah Aliran Sungai Katingan, Desa Rantau Asem.
Lokasi penemuan diperkirakan berjarak sekitar delapan kilometer dari titik awal terjadinya bentrokan saat operasi penangkapan.
Setelah dievakuasi, jenazah dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso juga membenarkan proses evakuasi tersebut.
"Mayat tersebut dikirimkan dengan ambulans ke RS Bhayangkara Palangkaraya," ujarnya.
Dengan ditemukannya Aiptu Sumaryanto, jumlah anggota Polri yang gugur dalam operasi pemberantasan narkoba tersebut menjadi tiga orang, yakni Aipda Yudhie Perdana Putra, Bripda Nopandri Ramadhana, dan Aiptu Sumaryanto.
Menanggapi insiden tersebut, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban sekaligus menegaskan komitmen kepolisian dalam memberantas peredaran narkotika.
"Kita harus bersatu melawan narkoba. Jangan memberi ruang bagi para pelaku yang merusak masa depan anak-anak bangsa. Kami bersama pemerintah dan berbagai pihak terkait lainnya akan terus bersinergi dalam upaya pemberantasan narkotika," tegasnya.
Brigjen Eko Hadi Santoso menambahkan bahwa Polri akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola operasi pemberantasan narkotika agar setiap personel memiliki kesiapan lebih baik ketika menghadapi situasi berisiko tinggi di lapangan.
"Seluruh operasi pemberantasan narkotika akan dievaluasi agar seluruh personel memiliki kesiapan maksimal dalam menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan," pungkasnya.
Artikel ini telah dioptimalkan untuk SEO dengan fokus pada keyword utama "Kronologi 3 Polisi Tewas saat Gerebek Narkoba", tetap mempertahankan kutipan resmi dari kepolisian, serta menyajikan kronologi secara runtut dan informatif tanpa mengurangi akurasi fakta. (udn)
Â
Load more