Mengukur Persepsi, Hasil Survei SMRC Bukan Indikator Ekonomi Nasional
- Magnific/pressfoto
tvOnenews.com - Pakar ekonomi Dr. Surya Vandiantara menilai, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut sebanyak 49,4% reponden menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk, tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kondisi riil perekonomian Indonesia.
Pasalnya, menurut Surya, survei itu mengukur persepsi masyarakat, bukan kondisi riil perekonomian nasional.
"Hasil survei SMRC tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kondisi riil perekonomian Indonesia, akan tetapi dari hasil survei SMRC kita dapat menyimpulkan bahwa penilaian masyarakat terhadap keberhasilan pemerintah di bidang ekonomi masih rendah," katanya.
Menurut Surya, ada perbedaan mendasar antara hasil survei dengan kondisi ekonomi nasional. Salah satu indikator fundamental perekonomian Indonesia yang menunjukkan sentimen positif adalah neraca perdagangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa sepanjang satu tahun penuh pemerintahan Prabowo memimpin di tahun 2025, akumulasi neraca perdagangan surplus hingga mencapai 41.052,2 Juta US$.
"Surplus neraca perdagangan ini melanjutkan tren positif yang dicapai pada pada era pemerintahan sebelumnya di tahun 2023 sebesar 36.420,3 Juta US$ dan tahun 2024 sebesar 31.329,6 Juta US$," terang Surya.
Surya menambahkan, Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia juga turut mencatatkan sentimen positif disepanjang satu tahun penuh pemerintahan prabowo di tahun 2025. Data ini membuktikan bahwa perekonomian Indonesia justru bertumbuh dengan baik.
"BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi cumulative (C to C) tahun 2025 mencapai 5,11%. Bertumbuh dari tahun 2024 sebesar 5,03% dan tahun 2023 5,05%," ujarnya.
Selain itu, Surya melihat indikator fundamental lainnya yang menunjukkan sentimen positif adalah cadangan devisa. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) cadangan devisa indonesia pada akhir juni 2026 terjaga diangka 145,6 Miliar US$, meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 sebesar 144,9 Miliar US$.
"Ketiga indikator fundamental perekonomian ini baik Neraca Perdagangan, PDB, maupun Cadangan Devisa merupakan indikator utama yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia stabil dan terus bergerak maju," ringkasnya.
Melihat kenyataan itu, Surya menilai masalah utamanya bukan pada sektor ekonomi, tapi minimnya pemberitaan positif terkait capaian ekonomi, sehingga persepsi masyarakat atas ekonomi tidak berdasarkan data yang ada.
"Sehingga yang perlu dilakukan bukanlah menganulir hasil survei SMRC ataupun membuat survei tandingan, melainkan lebih proaktif dalam menyampaikan keberhasilan yang sebenarnya sudah dicapai," katanya.
Load more