Mendikdasmen Bongkar Keterampilan yang Paling Dibutuhkan 5 Tahun ke Depan
- AYIMUN.
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, menegaskan bahwa kemampuan nonteknis atau soft skills akan menjadi penentu utama keberhasilan generasi muda dalam menghadapi perubahan teknologi dan persaingan global yang semakin cepat. Pesan tersebut disampaikan saat membuka konferensi Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Depok Chapter yang digelar di Depok pada 1–2 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menilai program simulasi diplomasi seperti AYIMUN memiliki nilai penting dalam membentuk karakter, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir peserta didik. Menurutnya, tantangan masa depan tidak cukup dijawab hanya dengan penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga dengan kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, dan bekerja sama.
“AYIMUN merupakan program yang bergengsi, sehingga banyak siswa telah mengenal kualitasnya. Tema AYIMUN Depok Chapter “Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation” menjadi pengingat bahwa kita harus mempersiapkan generasi muda agar menjadi pribadi yang optimis dan siap menghadapi perubahan," ujarnya.
"Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hard skills, tetapi yang lebih penting adalah soft skills. World Economic Forum menyebutkan beberapa keterampilan esensial yang akan sangat dibutuhkan dalam lima tahun ke depan, di antaranya kemampuan berpikir kritis, negosiasi, pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, kolaborasi, serta berbagai keterampilan abad ke-21 lainnya. Jadikan AYIMUN ini kesempatan bagi Anda untuk mengembangkan kemampuan dan membangun cita cita untuk membawa nama besar Indonesia di kancah dunia," lanjutnya.
Konferensi AYIMUN Depok Chapter diikuti oleh 315 pelajar dari 118 sekolah dan perguruan tinggi yang berasal dari berbagai daerah, termasuk Jabodetabek, Sukabumi, Sumatera Selatan, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, hingga Bali. Peserta terdiri atas siswa SD, SMP, SMA, dan mahasiswa yang mengikuti simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (Model United Nations).
Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, yang hadir mewakili Wali Kota Depok, juga menekankan bahwa kegiatan semacam ini memberikan pengalaman kepemimpinan dan diplomasi yang relevan bagi generasi muda Indonesia.
“Atas nama pemerintah Kota Depok, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi tinggi tingginya kepada International Global Network dan SIT Al Haraki dan semua pihak yang berkolaborasi menyelenggarakan AYIMUN Depok Chapter 2026. Melalui AYIMUN, adik adik tidak hanya belajar menjadi delegasi sebuah negara, tapi juga belajar menjadi pimpinan masa depan yang mampu mendengarkan, menghargai perbedaan, membangun konsensus dan menyampaikan gagasan dengan tanggung jawab. Kemampuan inilah yang akan menjadi bekal penting dalam menghadapi persaingan global dan membawa nama baik Indonesia,” ujar beliau.
Tema konferensi tahun ini, “Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation”, mengangkat isu perlindungan masyarakat di era digital serta pemberdayaan generasi muda menghadapi tantangan teknologi. Peserta berdiskusi dalam dua dewan utama, yaitu UNICEF dengan tema “Ensuring Quality Education for Every Child” dan UNODC dengan tema “Mitigating the Worst Impacts of Illicit Online Activities: Illegal Gambling and Cybercrime”.
Presiden International Global Network, Muhammad Fahrizal, menilai tantangan terbesar di era digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga kualitas manusia yang menggunakannya.
“Kita sering berpikir bahwa mengamankan masa depan digital kita hanya bergantung pada kata sandi yang lebih kuat, kecerdasan buatan, atau sistem keamanan siber. Padahal, meskipun teknologi tentu menjadi bagian dari solusi, fondasi utama dari masa depan digital yang aman bukanlah teknologinya semata, melainkan manusianya. Di era digital saat ini, misinformasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik, kecerdasan buatan terus berkembang, ancaman siber semakin canggih, dan perbedaan pendapat dapat memecah belah masyarakat dalam waktu yang sangat singkat," bebernya.
"Tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar memiliki akses terhadap informasi, melainkan mengetahui bagaimana cara mempertanyakannya, melakukan verifikasi, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Karena itulah berpikir kritis menjadi firewall terkuat yang kita miliki. Empati menjadi pertahanan kita terhadap kebencian di dunia maya. Kemampuan berkomunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan. Kerja sama memungkinkan kita menyelesaikan berbagai tantangan global bersama-sama. Dan ketangguhan membuat kita mampu beradaptasi di dunia yang tidak pernah berhenti berubah. Semua itu bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan keterampilan hidup. Melalui Model United Nations, kalian akan mengalami semua itu secara langsung," tambahnya.
Selama dua hari penyelenggaraan, peserta mengikuti simulasi sidang diplomasi, negosiasi, dan penyusunan draft resolution yang dirancang menyerupai proses sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa. (cmi)
Load more