BMKG: Sebaran Titik Panas di Papua Barat Mengalami Penurunan
- ANTARA
Manokwari, tvOnenews.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebaran titik panas di Provinsi Papua Barat berdasarkan hasil pengamatan selama tiga hari terakhir, 25 hingga 27 Agustus 2026, mengalami penurunan.
Analisis Iklim Muda Stasiun Klimatologi Papua Barat Wendel Jan di Manokwari, Kamis, mengatakan penurunan titik panas atau hotspot tidak mengindikasikan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga akan berkurang.
"Karena kondisi kemarau saat ini diperparah dengan adanya El Nino, jadi bisa saja akan muncul lagi titik panas di kemudian hari," ujar dia.
Dia menjelaskan sebaran titik panas yang terdeteksi di Papua Barat pada 25 Agustus 2026 sebanyak 399 titik terdiri atas 14 titik kategori rendah, 348 titik kategori sedang, dan 37 titik kategori tinggi.
Jumlah sebaran titik panas kemudian mengalami penurunan menjadi 224 titik pada 26 Agustus 2026 yang terdiri atas 13 titik kategori rendah, 203 titik kategori sedang, dan delapan titik kategori panas.
Pada 27 Agustus 2026, sebaran titik panas yang terdeteksi turun cukup signifikan menjadi 68 titik (58 titik kategori sedang dan 10 titik kategori tinggi).
Wendel menyebut sebagian besar sebaran titik panas tersebut berada di Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak seiring dengan peningkatan hari tanpa hujan yang telah berlangsung kurang lebih selama 55 hari.
BMKG sejak awal tahun memprediksi bakal terjadi El Nino yang menyebabkan kondisi kemarau ekstrem serta kekeringan dengan jangka waktu panjang, sedangkan saat ini dengan indeks masuk kategori kuat menuju sangat kuat.
"Puncak El Nino diprediksi sekitar September dan Oktober tahun ini dan berlangsung hingga awal tahun 2027," ujarnya.
Berdasarkan hasil analisis, kata dia, seluruh wilayah Papua Barat berada dalam kondisi defisit curah hujan, terutama di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Manokwari Selatan yang berdampak pada peningkatan risiko karhutla.
BMKG mengimbau masyarakat lebih bijak untuk tidak menambah luas lahan perkebunan dengan cara-cara konvensional, seperti dibakar karena titik api-titik api akan cepat menyebar yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
"Kami prediksi akhir tahun ini curah hujan mulai membaik, karena terjadi pergantian arah angin dari timur ke barat membawa kandungan uap," kata Wendel.(ant)
Load more