Jakarta Didorong Jadi Pusat Ekonomi Karbon Indonesia
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Berbagai pihak turut ambil peran dalam pengembangan proyek dekarbonisasi di Indonesia dalamupaya meningkatkan ekonomi hijau.
Semisal langkah dari Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Pusat bersama LestarX yang menginisiasi pengembangan Jakarta Carbon Central Hub (CCH) dengan inovasi teknologi iklim, dan pengembangan proyek dekarbonisasi Indonesia.
Inisiatif tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara HIPPI Jakarta Pusat dan Lestari Carbon X (LestarX) dalam rangka membangun kolaborasi strategi.
Co-Founder LestarX, Zulfahmy Wahab mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi karbon dunia.
Kendati, kata ia, potensi tersebut perlu ditransformasikan menjadi ekosistem bisnis yang terintegrasi, kredibel, terukur, dan memiliki akses terhadap pembiayaan serta pasar.
“Indonesia jangan hanya menjadi pemilik sumber daya karbon, tetapi harus menjadi salah satu pusat penciptaan nilai ekonomi karbon dunia. Jakarta harus mengambil posisi strategis sebagai hub yang menghubungkan proyek, teknologi, pembiayaan, pasar, dan investasi karbon Indonesia dengan ekosistem global,” ujar Zulfahmy, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Zulfahmy menuturkan paradigma pembangunan ekonomi hijau ke depan tidak cukup hanya berbicara mengenai perdagangan kredit karbon.
Menurutnya ekosistem karbon harus dikembangkan menjadi new economic engine yang mendorong investasi, industrialisasi hijau, penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing industri, serta lahirnya berbagai model bisnis baru berbasis dekarbonisasi.
Karenanya, kata ia, Carbon Central Hub sebagai platform ekosistem yang menghubungkan sisi hulu hingga hilir ekonomi karbon.
"Kita ingin membangun jembatan antara potensi karbon Indonesia yang tersebar di berbagai daerah dengan capital, technology, industry dan market yang terkonsentrasi di Jakarta. Dengan begitu, nilai tambah ekonomi karbon tidak berhenti pada penerbitan kredit karbon, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri baru,” ujarnya.
Zulfahmy menilai momentum pengembangan ekonomi karbon harus dimanfaatkan Indonesia untuk melakukan lompatan ekonomi.
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak boleh kembali menghasilkan pola lama ketika Indonesia hanya menjadi pemasok komoditas mentah sementara sebagian besar nilai tambah dinikmati di luar negeri.
“Kita tidak ingin mengulang sejarah ekonomi ekstraktif dalam bentuk baru. Indonesia memiliki hutan, mangrove, biomassa, lahan pertanian, sumber energi terbarukan dan potensi carbon removal yang luar biasa. Kekayaan tersebut harus kita konversi menjadi intellectual property, teknologi, investasi, industri, lapangan kerja dan nilai ekonomi yang sebesar-besarnya bagi Indonesia,” tegas Zulfahmy.
Load more