Lewat Pelatihan dan Pendampingan, Sandiaga Uno Dorong Kemajuan UMKM
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus khususnya pelaku UMKM.
Hal itu dirasakan Rusmiliani, pemilik Rayhana Mom & Baby Spa yang harus menghadapi kenyataan ketika usaha yang dirintisnya sejak 2009 terpaksa berhenti akibat pandemi.
Bukan hanya kehilangan usaha, Rusmiliani juga harus merelakan tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah.
Ia memilih memulai kembali usahanya dari nol setelah hijrah ke Jakarta.
Perjalanan Rusmiliani membangun Rayhana berawal dari keinginannya memanfaatkan peralatan salon milik orangtua yang sudah tidak terpakai.
Saat itu, ia melihat peluang layanan perawatan bayi yang masih jarang tersedia di Makassar.
Untuk membekali diri, Rusmiliani mempelajari treatment baby selama dua tahun di Martha Tilaar Jakarta.
Pada 2009, ia kemudian memberanikan diri membuka Rayhana Baby Spa.
Seiring berjalannya waktu, layanan Rayhana tidak hanya menyasar bayi, tetapi berkembang menjadi perawatan untuk ibu, anak hingga orang dewasa.
Perjalanan tersebut kemudian menghadapi ujian berat ketika pandemi Covid-19 melanda.
Rayhana terpaksa tutup. Setelah pindah ke Jakarta, Rusmiliani kembali membangun usahanya hampir dari nol.
Di tengah proses tersebut, ia juga kehilangan tabungan usaha yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Tabungan itu sebelumnya digunakan untuk membeli sebuah rumah tua. Namun, rumah tersebut kemudian dilelang oleh bank.
Kondisi itu menjadi salah satu titik terberat dalam perjalanan usahanya.
Alih-alih berhenti, Rusmiliani justru mencoba melihat peluang dengan cara berbeda.
Rayhana kembali dibangun di Jakarta melalui konsep homecare. Layanan diberikan langsung ke rumah pelanggan sehingga usaha tetap dapat berjalan tanpa harus memiliki tempat usaha besar.
Pengalaman tersebut membuat Rusmiliani memahami bahwa sebuah usaha tidak selalu harus berkembang dengan cara yang sama.
Kemampuan beradaptasi dan keberanian untuk memulai kembali menjadi modal penting untuk mempertahankan bisnis.
Perubahan cara berpikir juga dirasakan Rusmiliani setelah mengikuti Inkubasi Tomang Batch 1, dengan Mitra Inkubator Yayasan Indonesia Setara, Mirai.
Jika sebelumnya keputusan bisnis lebih sering dibuat berdasarkan perasaan dan emosi, kini ia mulai belajar menggunakan data dan fakta sebagai dasar menentukan langkah.
Ia juga semakin memahami pentingnya teknologi dan media sosial, perubahan perilaku pelanggan, hingga memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha.
Selama empat pekan pengukuran, Rayhana mencatat revenue sebesar Rp6,96 juta dari 69 transaksi.
Penjualan tercatat Rp2,8 juta pada Week 1-2, kemudian masing-masing Rp2,08 juta pada Week 3 dan Week 4.
Bagi Rusmiliani, angka tersebut bukan sekadar catatan penjualan. Data menjadi bagian dari proses belajar untuk memahami kondisi bisnis dan menentukan strategi berikutnya.
Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan perjalanan pelaku UMKM untuk berkembang membutuhkan pendampingan yang tidak berhenti pada pelatihan.
Menurut Sandiaga, pelaku usaha perlu dibekali kemampuan untuk mengubah cara berpikir, memperkuat pengelolaan bisnis, memanfaatkan teknologi, serta beradaptasi dengan perubahan pasar.
"Pendampingan harus menghasilkan dampak yang nyata. Ketika pelaku usaha memperoleh keterampilan baru, mampu memanfaatkan teknologi digital, dan memperluas pasar, maka usaha mereka akan tumbuh dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat di sekitarnya," kata Sandiaga, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Ia menilai keberhasilan UMKM juga tidak semata-mata dilihat dari peningkatan omzet. Kemampuan usaha menciptakan lapangan kerja dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting dari perkembangan sebuah bisnis.(raa)
Load more