Ada Perubahan Besar dalam Cara Cegah Kecelakaan Kerja, Begini Ubah Strategi K3 dari Reaktif Jadi Prediktif
- ist
tvOnenews.com - Kecelakaan kerja selama bertahun-tahun kerap menjadi ukuran utama dalam menilai keselamatan sebuah perusahaan. Ketika jumlah insiden turun, sistem keselamatan dianggap membaik. Namun, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan karena kecelakaan merupakan peristiwa yang sudah terjadi.Â
Tantangan berikutnya adalah bagaimana perusahaan dapat mengetahui adanya risiko sebelum berubah menjadi insiden.
Di sejumlah negara maju, pendekatan keselamatan kerja mulai semakin menekankan penggunaan leading indicators, yakni indikator yang membantu perusahaan membaca apakah langkah pencegahan sudah berjalan efektif.Â
OSHA di Amerika Serikat, misalnya, menjelaskan bahwa leading indicators dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi masalah sebelum kecelakaan terjadi. Indikator tersebut dapat berupa laporan bahaya dan near miss, partisipasi pekerja, inspeksi, pelatihan, hingga kecepatan penyelesaian tindakan korektif.
Pendekatan ini juga mendapat perhatian dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) di Amerika Serikat. Lembaga tersebut mengingatkan bahwa rendahnya angka kecelakaan tidak selalu berarti tempat kerja bebas dari bahaya. Angka tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk kemungkinan insiden yang tidak dilaporkan. Karena itu, indikator hasil atau lagging indicators sebaiknya dilengkapi dengan ukuran yang dapat menunjukkan seberapa efektif tindakan pencegahan dilakukan.
Mengapa K3 Mulai Bergerak dari Reaktif ke Prediktif?
Perubahan cara pandang tersebut relevan bagi industri dengan tingkat risiko tinggi, termasuk pembangkit listrik. Aktivitas di area boiler dan furnace, pekerjaan kelistrikan, pemeliharaan peralatan, hingga aktivitas kontraktor memiliki potensi bahaya yang perlu dikendalikan secara konsisten.
Dalam pendekatan reaktif, perusahaan cenderung belajar setelah terjadi kecelakaan atau kejadian. Sementara pada sistem prediktif, perhatian diarahkan pada tanda-tanda yang muncul sebelum insiden.
Artinya, temuan inspeksi, laporan kondisi tidak aman, near miss, hasil observasi, kepatuhan terhadap prosedur, kualitas pelatihan, hingga kondisi peralatan dapat menjadi informasi untuk menentukan tindakan pencegahan.
OSHA sendiri merekomendasikan penggunaan kombinasi indikator leading dan lagging. Indikator hasil tetap diperlukan untuk melihat efektivitas keselamatan, tetapi indikator pencegahan membantu perusahaan mengetahui apakah tindakan yang dilakukan benar-benar mampu mengurangi risiko sebelum pekerja mengalami cedera atau terpapar bahaya.
Load more