Jelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Guru Sabdo Roso Ajak Masyarakat Rawat Batin Lewat Laku Hening
- Unsplash/Eneko Uruñuela
Kediri, tvOnenews.com - Menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, pengajar kawruh asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Abdul Latif atau dikenal sebagai Guru Sabdo Roso, mengajak masyarakat memberi perhatian pada kondisi batin melalui latihan hening dan mengenali emosi diri.
Menurut Latif, kelelahan yang dirasakan seseorang tidak selalu berkaitan dengan kondisi fisik. Beban pikiran dan emosi juga dapat membuat seseorang merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas berat.
“Banyak orang sekarang capek, tapi bukan capek badan. Yang lelah itu rasanya. Pikiran jalan terus, hatinya tidak pernah diajak istirahat,” ujar Latif.
Latif mengajarkan kawruh, pengetahuan batin Jawa tentang pengenalan diri, melalui komunitas Nafas Batin yang didirikannya. Pembelajaran dilakukan melalui aplikasi, grup daring, serta siaran langsung di media sosial.
Salah satu format yang digunakan Latif adalah “radio hening”. Siaran tersebut dibuat dengan suasana tenang, antara lain melalui suara hujan, obrolan malam, dan latihan olah rasa. Latif mengatakan sejumlah pendengarnya mengikuti siaran tersebut ketika sedang menghadapi persoalan pribadi maupun rumah tangga.
“Saya sengaja membuat siarannya pelan. Orang datang untuk tenang, bukan untuk dihibur. Kadang cukup didengarkan saja, hatinya sudah lebih ringan,” katanya.
Latif juga memperkenalkan latihan pernapasan yang disebut Nafas Roso. Latihan tersebut dilakukan dengan menarik napas selama empat hitungan, menahannya selama empat hitungan, kemudian mengembuskannya selama enam hitungan. Latihan dapat dilakukan sekitar tiga menit dan dipadukan dengan duduk hening atau semedi suwung.
“Mulailah dari yang kecil. Tiga menit sehari untuk kembali ke napas sendiri. Tidak perlu ritual rumit, bisa dilakukan siapa saja dari keyakinan apa pun,” ujarnya.
Latif menekankan praktik tersebut bukan pengganti bantuan profesional bagi orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Ia menganjurkan masyarakat yang merasa bebannya terlalu berat untuk berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga medis.
“Kalau sudah berat, jangan dipendam sendiri. Datang ke psikolog atau dokter itu bagian dari ikhtiar. Laku batin menemani, bukan menggantikan,” tegasnya.
Menurut Latif, latihan batin juga diarahkan agar seseorang mampu mengelola dirinya secara mandiri tanpa bergantung pada pengajar.
Load more