Permintaan Listrik Diprediksi Meningkat, 28 Persen Disebut Bersumber dari Rumah Tangga
- Istimewa
Di sisi lain, berbagai inisiatif industrialisasi juga akan meningkatkan kebutuhan listrik, terutama hilirisasi mineral dan pengembangan pusat data.
Hilirisasi nikel diperkirakan mengadakan tambahan sekitar 13,6 GW kapasitas pembangkit listrik captive menurut RUPTL 2025–2034, sementara pengembangan pusat data diproyeksikan menambah permintaan sekitar 1,7 GW hingga pertengahan 2027.
Kebutuhan tersebut diperkirakan terus meningkat seiring dengan ekspansi industri hilir dan pertumbuhan permintaan pusat data.
Hasil penelitian Tenggara Strategics dan CSIS Indonesia dipaparkan dalam rangkaian perhelatan Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026.
Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, Yose Rizal Damuri turut membahas peluang dari elektrifikasi serta pentingnya memastikan peningkatan permintaan listrik dapat dipenuhi dengan energi yang lebih hijau.
Sementara, Direktur Konservasi Energi, Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gigih Udi Atmo mengatakan pentingnya mempertimbangkan efisiensi dalam pelaksanaan elektrifikasi sehingga inisiatif tersebut dapat turut mendukung ketahanan energi.
Dari sisi permintaan listrik, Helen Clarkson, OBE, CEO dari Climate Group, berbicara dari sudut pandang sumber permintaan energi terbarukan dari perusahaan-perusahaan global yang tergabung di RE100.
Sekitar 35 persen dari anggota RE100 beroperasi di Indonesia, sehingga kemampuan Indonesia untuk menyediakan energi hijau akan menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan ini dapat terus beroperasi di Indonesia.
Sementara itu, Hendra Suryakusuma, Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), membicarakan permintaan listrik yang terus membesar dari data center, dari 640MW di awal tahun ini menjadi 1.7GW pada pertengahan tahun 2027.
Sekitar 30 persen anggota IDPRO menargetkan pencapaian net zero pada 2030, sehingga sektor data center Indonesia siap untuk mendukung pengadaan energi terbarukan melalui program seperti inisiatif energi surya 100GWp.
“PLN terus memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah melalui pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap, yang pada fase pertama difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” ujar Tri Hardimasyar, EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero).(raa)
Load more